JawaPos Radar | Iklan Jitu

Mengulas Generasi Redmi Sebelum 'Dicerai' Xiaomi, Kini Merek Sendiri

13 Januari 2019, 08:12:59 WIB
Redmi, Redmi Note 7, Redmi Note 7 harga
Redmi Note 7. Jadi perangkat perdana Redmi setelah pisah dari Xiaomi. (IndianExpress)
Share this

JawaPos.com – Gebrakan Xiaomi awal 2019 ini cukup mengejutkan. Ya, baru-baru ini vendor smartphone asal Tiongkok itu memecah seri perangkat ekonomisnya, Redmi, menjadi merek sendiri.

Kiprah Xiaomi dengan seri Redmi-nya di Indonesia memang terbilang sukses. Xiaomi dengan seri Redmi (biasa) maupun Redmi Note series-nya berhasil membuat takut lawan-lawannya di tanah air. Jelas, sejak pertama datang ke Indonesia sekitar 2014, Xiaomi sudah membawa seri Redmi pertamanya dan langsung menjadi perangkat murah yang melekat di pasar tanah air.

Sejarah Redmi juga terus berkembang dengan beberapa bulan setelahnya mengumumkan ekspansi bisnis di Singapura, Malaysia, Filipina, India, termasuk ke Indonesia. Seri Redmi Note yang identik dengan perangkat dengan ukuran agak besar atau beraliran smartphone-tablet (phablet) juga hadir. Sama seperti seri Redmi (biasa), seri Redmi Note juga kemudian melekat di hati konsumen smartphone murah tanah air dengan gambaran spesifikasi yang lumayan tinggi.

Redmi, Redmi Note 7, Redmi Note 7 harga
Infografis: generasi smartphone seri Redmi sebelum pisah dengan Xiaomi dan kini menjadi merek sendiri. (Rofiah Darajat/JawaPos.com)

Diketahui, kehadiran seri Redmi dan Redmi Note berada setelah seri Mi lahir. Penempatan dan target market dari seri-seri tersebut juga berbeda. Redmi dan Redmi Note berada di bawah seri Mi yang dijual lebih mahal. Namun begitu, mahalnya Xiaomi tetap dianggap murah oleh konsumen jika dibandingkan dengan kompetitor saat itu, yakni Samsung.

Seri Redmi dan Redmi Note yang Pernah Hadir di Indonesia

Menyambung cerita yang sudah kami singgung sedikit di atas. Kehadiran seri-seri Redmi dan Redmi Note di Indonesia sendiri mulai intens sejak 2014 hingga saat ini. Berdasarkan catatan kami, Xiaomi dengan seri Redmi pertama kali hadir di Indonesia dengan seri Redmi 1S. Redmi 1S hadir pada Agustus 2014, tak lama setelah Xiaomi mendeklarasikan diri hadir di Indonesia secara resmi.

Xiaomi Redmi 1S kala itu dijual dengan harga Rp 1,5 jutaan. Dengan harga segitu spesifikasi seperti layar HD 4,7-inci, prosesor quad-core 1,6 Ghz Cortex-A7 dengan system-on-chip Qualcomm Snapdragon 400 sudah bisa didapat konsumen. RAM 1 GB dan ROM 8 GB juga sudah didapat konsumen lengkap dengan kamera utama 8 MP dan kamera selfie 1,6 MP.

Kehadiran Redmi 1S di Indonesia saat itu bisa dibilang ‘babat alas’. Redmi 1S merupakan pemulus jalan Xiaomi untuk kemudian menghadirkan perangkat-perangkat Redmi penerus di Indonesia hingga saat ini yang sudah sampai generasi ke-6 dengan Redmi 6 dan Redmi 6A.

Sementara untuk Redmi Note, seri pertama Redmi Note di Indonesia memiliki nama ‘Redmi Note’ juga. Perangkat tersebut meluncur tak lama setelah Redmi 1S hadir di pasaran Indonesia. Seperti kami singgung di atas, seri Redmi Note pada awalnya merupakan varian dengan layar yang lebih lega dari varian Redmi biasa dengan konsep phablet.

Redmi Note sebagai perangkat phablet pertama yang memiliki layar lebih lega dari seri Redmi (biasa) kala itu dijual dengan harga Rp 2 jutaan saja. Dengan harga segitu, Redmi Note sudah mendapat layar 5,5 inci dengan RAM 2 GB dan ROM 8 GB. Lainnya, ada kamera utama 13 MP dan 5 MP hadir menemani generasi pertama Redmi Note ini. Sama seperti Redmi 1S, Redmi Note juga menjadi pembuka jalan bagi kehadiran perangkat Redmi Note selanjutnya hingga saat ini yang sudah berada di seri Redmi Note 6 Pro di pasaran Indonesia.

Redmi dan Redmi Note Bawa Kontroversi dan Buat Kompetitor Takut

Masih seputar Redmi dan Redmi Note. Kehadiran perangkat-perangkat tersebut di Indonesia juga membawa dampak yang cukup terasa. Salah satunya adalah berubahnya tren smartphone di segmen entry-level baik dari segi harga hingga bekal spesifkasi yang dibawa. Redmi dan Redmi Note bahkan sempat membuat geger bahkan sampai muncul anggapan bahwa mereka adalah perusak harga pasar.

Stigma perusak harga pasar mulai mencuat kala Redmi 5A hadir akhir Desember 2017 lalu. Sebab, produk Xiaomi ini menawarkan harga yang terbilang murah sekali untuk kelas smarphone entry-level yang ada di pasaran, yakni Rp 999 ribu. Harga segitu terbilang sangat murah mengingat spesifikasi yang dibawanya lebih tinggi ketimbang rivalnya Samsung yang menjual perangkatnya di harga 2 jutaan.

Karena harganya yang miring itu, Xiaomi Redmi 5A menjadi smartphone yang paling dicari. Namun konsumen yang menginginkannya ternyata banyak yang gigit jari lantaran ketersediaan stok Redmi 5A di pasaran mendadak langka. Sekalipun ada, harganya melambung lumayan tinggi dari harga saat peluncuran dan sempat menjadi kontroversi.

Kontroversi lainnya juga datang dari seri Redmi Note, yakni Redmi Note 5. Redmi Note 5 sendiri hadir awal 2018 lalu. Hampir mirip dengan kontroversinya Redmi 5A, Redmi Note 5 juga mengalami insiden kelangkaan stok untuk waktu yang lumayan lama terhitung sejak pertama diluncurkan. Kelangkaan Redmi Note 5 kala itu juga memunculkan istilah baru, yakni smartphone gaib.

Tidak berhenti pada istilah smartphone gaib lantaran sangat sulit didapat di pasaran, kelangkaan Xiaomi Redmi Note 5 kala itu juga menjadi bumerang bagi Xiaomi yang dianggap membodohi konsumen. Alih-alih berjualan dengan rajin meluncurkan produk, ternyata malah belum siap dan berujung pada kelangkaan.

Xiaomi Pisahkan Redmi Jadi Merek Sendiri

Sampai kepada akhir cerita Redmi menjadi merek sendiri. Kabar tersebut awalnya muncul sekitar pekan lalu lewat beredarnya sebuah poster. Poster tersebut mengumumkan bahwa Redmi akan menjadi merek mandiri dan keluar dari seri Xiaomi sebagai perangkat ekonomis. Hal tersebut tentu membuat banyak kalangan kaget.

Berusaha menjelaskan, CEO dan Founder Xiaomi Lei Jun kala itu mengumumkan bahwa rencana pemisahan Redmi menjadi merek sendiri bertujuan agar lebih fokus pada pengembangan produk. Xiaomi sendiri sebelum memecah Redmi menjadi merek sendiri telah melahirkan Poco yang didaulat untuk mengelola perangkat smartphone menengah semi flagship. Sementara Redmi dikatakan bakal fokus bermain di segmen affordable alias harga terjangkau. Untuk Xiaomi dengan seri Mi sendiri ingin fokus di perangkat flagship.

Redmi Note 7 Diumumkan

Peresmian dipecahnya Redmi menjadi merek sendiri terjadi pada Kamis (10/1). Dalam momen tersebut selain mengumumkan menjadi merek mandiri bersama logo barunya, Redmi juga turut menghadirkan perangkat barunya, yakni Redmi Note 7. Belum apa-apa, Redmi sudah membuat geger lagi lewat perangkat dari merek barunya itu.

Pasalnya, Redmi Note 7 seperti kami beritakan sebelumnya hadir dengan kamera utama 48 MP namun dengan harga yang sangat murah di pasaran menurut banyak pihak. Redmi Note 7 dibekali kamera ganda 48 MP dan penembak sekunder 5 MP. Perusahaan mengonfirmasi bahwa kamera utama dapat menggunakan pixel-binning untuk mengambil bidikan yang lebih baik, meskipun pada resolusi 12 MP. Sementara itu, tugas selfie ditangani oleh kamera depan berkekuatan 13 MP.

Dapur pacunya, Redmi Note 7 ditenagai chipset Snapdragon 660. Memang bukan prosesor seri 600 terbaru, tetapi prosesor tersebut terbilang masih cukup kuat untuk perangkat smartphone yang affordable. Spesifikasi penting lainnya termasuk layar full HD+ 6,3 inci dengan takik bergaya ala tetesan air, konektivitas USB Type-C, pengisian daya kabel 18 watt, blaster IR, dan jack headphone, serta konsumsi daya baterai sebesar 4.000 mAh.

Sebagai lini perangkat ekonomis, Redmi Note 7 dengan kemampuan kamera 48 MP juga dijual murah. Harganya antara lain dilepas mulai dari CNY 999 atau setara dengan Rp 2 jutaan untuk model RAM 3 GB dan ROM 32 GB. Lainnya, ada varian RAM/ROM 4/64 GB dengan harga CNY 1.199 atau setara Rp 2,4 jutaan dan model 6/64 GB diharga CNY 1.399 atau berkisar di Rp 2,9 jutaan.

Demikianlah perjalanan panjang seri Redmi dan Redmi Note sebelum akhirnya ‘diceraikan’ Xiaomi untuk mengelola namanya secara mandiri. Terlepas dari dipecahnya Redmi menjadi merek mandiri, Redmi tetaplah bagian dari Xiaomi sebagai perusahaan induknya. Hal tersebut berlaku dari IPO-nya, supply dan produksi perangkatnya, layanan penjualan, dan purna jualnya. Persis seperti Poco yang sudah menghadirkan Pocophone F1 di Indonesia yang tetap bisa didapatkan di Mi Store sebagai toko resmi Xiaomi.

Editor           : Fadhil Al Birra
Reporter      : Rian Alfianto

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini