Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 26 September 2026 | 20.06 WIB

AS Tolak Usulan OpenAI dan Anthropic, Standar AI Global Terancam Buntu

Sam Altman dari OpenAI menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan teknologi kecerdasan buatan (BBC) - Image

Sam Altman dari OpenAI menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan teknologi kecerdasan buatan (BBC)

JawaPos.com - Upaya membangun standar keselamatan kecerdasan buatan (AI) lintas negara menghadapi perbedaan tajam di Amerika Serikat (AS). Sam Altman dari OpenAI, Dario Amodei dari Anthropic, dan Clément Delangue dari Hugging Face meminta koordinasi internasional karena kemampuan AI berkembang cepat dan risikonya semakin melampaui batas satu perusahaan atau negara.

Ketiganya menyampaikan pandangan itu dalam pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Mereka mendorong standar bersama untuk menguji kemampuan model AI, menilai risikonya, mengukur kecukupan pengamanan, serta memastikan manusia tetap memiliki kendali ketika sistem menjadi semakin otonom.

Dilansir dari BBC, Sabtu (26/9/2026), Altman mengatakan, "Jika AI ingin bersifat demokratis, keputusan paling penting tidak dapat dibuat oleh laboratorium di San Francisco saja." Menurutnya, negara-negara perlu bekerja sama demi “kepentingan bersama dalam menghadapi teknologi baru yang sangat kuat."

Altman juga mengusulkan standar AI "nasional dan internasional" untuk mengukur kemampuan, menilai risiko, menentukan pengamanan, dan mempertahankan pengawasan manusia. Dia meminta mekanisme "pelaporan, klasifikasi, dan protokol pelaporan insiden yang cepat agar dunia dapat belajar dari kegagalan sebelum berubah menjadi bencana."

Altman menegaskan, "Kita membutuhkan standar bersama agar negara-negara dapat membandingkan bukti, memverifikasi kepatuhan, serta memiliki bahasa dan pemahaman bersama mengenai apa yang sedang terjadi."

Amodei menyampaikan kekhawatiran serupa. Setelah sebelumnya menyerukan perlambatan pengembangan AI, CEO Anthropic itu mengatakan AI, "jika dikelola dengan buruk, dapat menjadi risiko bagi umat manusia secara keseluruhan."

Karena itu, pengembangan lebih lanjut membutuhkan "standar keselamatan yang lebih ketat." Dia menegaskan, "Kami akan memperlambat sebanyak yang diperlukan untuk memastikan setiap teknologi AI berikutnya yang kami rilis benar-benar aman."

Namun, Amodei juga mengakui batas pendekatan perusahaan. "Terlepas dari apa yang kami lakukan, mengelola risiko ini pada akhirnya lebih besar daripada satu perusahaan mana pun, dan skalanya mencakup seluruh industri serta dunia," ujarnya.

Delangue menambahkan, "Komunitas global membutuhkan standar yang lebih kuat untuk pemantauan dan pengungkapan insiden."

Editor: Candra Mega Sari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore