
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria. (Dok/Komdigi)
JawaPos.com - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan kini mengarah pada sistem yang mampu menjalankan tugas secara lebih independen. Salah satunya Agentic Artificial Intelligence (Agentic AI) yang dapat melakukan rangkaian tindakan berdasarkan keputusan yang dibuatnya, bukan sekadar memberikan jawaban atas perintah pengguna.
Kemampuan tersebut dinilai menawarkan efisiensi, tetapi juga menghadirkan tantangan baru dalam memastikan manusia tetap memegang kendali. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan bahwa pemberian kewenangan kepada AI perlu disertai batas yang jelas.
“Agentic AI bisa berpikir, membangun nalarnya sendiri, dan membuat keputusan tanpa kita ketahui. Banyak juga risiko yang membuat kita mempertanyakan apakah manusia masih ada di dalam proses itu?" ujar Wamen Nezar di Jakarta Barat, Kamis (10/9).
Menurut Nezar, gambaran tersebut dapat dilihat melalui pemanfaatan Agentic AI untuk membantu kebutuhan perjalanan. Dalam skenario tertentu, AI bukan hanya memberikan rekomendasi destinasi, tetapi juga dapat menentukan tiket, memesan tempat menginap, berkomunikasi dengan penyedia jasa, bahkan menyelesaikan transaksi pembayaran.
Semakin luas akses yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab yang harus diperhitungkan. Sebab, AI dapat menjalankan keputusan berdasarkan otoritas yang sebelumnya diberikan oleh manusia.
“Ini yang harus dipertimbangkan risiko-risikonya karena Agentic AI punya kemampuan untuk membuat keputusan jika kita berikan otoritas,” jelasnya.
Tantangan tersebut menjadi lebih rumit ketika satu sistem AI dapat berinteraksi dengan sistem AI lainnya. Dalam situasi seperti itu, koordinasi hingga pengambilan keputusan berpotensi terjadi secara langsung antarsistem tanpa campur tangan manusia di setiap tahap.
Nezar juga menyoroti kemungkinan munculnya silent autonomy. Kondisi tersebut menggambarkan sistem yang dapat mengembangkan proses penalaran dan menentukan tindakan tanpa sepenuhnya diketahui oleh manusia.
Oleh sebab itu, perkembangan Agentic AI tidak cukup dinilai dari kemampuannya menyelesaikan berbagai pekerjaan. Aspek yang tak kalah penting adalah bagaimana memastikan keputusan yang dibuat sistem tetap berada dalam ruang kendali manusia.
“Inilah gambaran ke depan yang harus diperhitungkan dalam policy making untuk tata kelola AI ini. Pemerintah sendiri mengambil pendekatan berbasis risiko untuk menjaga keseimbangan antara ruang inovasi dan perlindungan terhadap manusia,” tegasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Garudayaksa vs Persik di Super League: Tuan Rumah Tak Ingin Malu di Kandang!
Prediksi Skor Sevilla vs Valencia di Liga Spanyol: Kans Los Nervionenses Amankan 3 Poin!
Prediksi Susunan Pemain Garudayaksa FC vs Persik Kediri: Septian David Incar Kemenangan!
Prediksi Skor Union Berlin vs Schalke 04 di Liga Jerman: Kans Die Knappen Bikin Tuan Rumah Terpukul
Prediksi Skor Como vs RB Leipzig di Liga Champions: I Lariani Siap Libas Tim Tamu di Sinigaglia
Prediksi Skor Slavia Prague vs Lens di Liga Champions: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Rennes vs Marseille di Liga Prancis: Les Rennais Siap Pesta Gol di Roazhon Park!
Dituduh Netizen Mau Lepas Tanggung Jawab Terhadap Anak, Ini Jawaban Audi Marissa
Krisis Kesehatan Mental Anak: Lingkungan Kita Ikut Membentuknya

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022