Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 29 Juli 2026 | 14.14 WIB

Teknologi AI Masuk ke Smart Building, Dari Atur AC hingga Deteksi Gangguan Peralatan 

Pemaparan smart building dari perwakilan Schneider. (Nanda Prayoga/JawaPos.com) - Image

Pemaparan smart building dari perwakilan Schneider. (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

JawaPos.com - Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini tidak hanya dimanfaatkan untuk chatbot atau membantu pekerjaan administrasi. Teknologi tersebut juga mulai diterapkan dalam sistem smart building untuk mengoptimalkan penggunaan energi sekaligus mendeteksi potensi gangguan pada berbagai peralatan gedung.

Schneider Electric menjadi salah satu perusahaan yang telah mengintegrasikan AI ke dalam solusi smart building. Teknologi ini dimanfaatkan mulai dari pengaturan suhu ruangan secara otomatis hingga analisis kondisi peralatan agar kerusakan dapat dideteksi lebih dini.

Reza Syarif, Business Vice President for Buildings, Schneider Electric Indonesia, menjelaskan, salah satu penerapan AI dapat ditemukan pada sistem termostat yang mengendalikan pendingin ruangan.

"Untuk AI, solusi kami sudah mengimplementasikannya. Contoh paling simpel adalah termostat kami yang menggunakan 'Mini AI'. Ada kontrol kecil yang bisa membaca suhu dan kelembapan, lalu otomatis mengatur AC sesuai titik yang ditetapkan," kata Reza di Jakarta, Selasa (28/7).

Selain mengatur suhu ruangan, AI juga dimanfaatkan untuk menganalisis performa berbagai peralatan di dalam gedung. Menurut Reza, teknologi tersebut mampu mengenali pola kerja perangkat sehingga dapat memberikan peringatan ketika ditemukan indikasi gangguan.

"Kami mengombinasikan keahlian pakar kami dengan AI untuk menangkap perilaku (behavior) peralatan. Misalnya, AI bisa mendeteksi jika saringan udara sudah kotor berdasarkan penurunan aliran udara, lalu memberi tahu pengguna," katanya.

Ia menambahkan, penerapan AI juga telah digunakan di lingkungan untuk meningkatkan efisiensi operasional, termasuk dengan memanfaatkan teknologi seperti ChatGPT.

Meski minat terhadap konsep smart building terus meningkat, Reza mengakui implementasi yang benar-benar terintegrasi di Indonesia masih belum banyak.

"Mengenai penerapan di Indonesia, permintaannya banyak, tapi yang implementasinya benar-benar proper belum terlalu banyak. Salah satu contoh yang bagus adalah gedung salah satu bank pemerintah terbesar di Jalan Gatot Subroto. Mereka mengintegrasikan AC, sistem akses, dan kelistrikan menjadi satu. Ada juga rumah sakit dan hotel," jelasnya.

Menurut Reza, tantangan penerapan smart building berbeda antara gedung baru dan gedung lama. Pada gedung baru, desain yang terlalu kompleks sering kali membuat biaya membengkak sehingga pemilik memilih menunda implementasi.

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore