Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 16 Juli 2026 | 06.48 WIB

Wamen Nezar: Kepercayaan Publik jadi Kunci Sukses Kebijakan Pemerintah di Era Digital

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria. (Dok/Komdigi) - Image

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria. (Dok/Komdigi)

JawaPos.com - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai keberhasilan kebijakan pemerintah ditentukan oleh kualitas kebijakan, komunikasi yang efektif, serta tingkat kepercayaan publik. Menurutnya, perubahan lanskap digital membuat pemerintah perlu menerapkan pola komunikasi yang lebih adaptif agar kebijakan dapat dipahami sekaligus dipercaya masyarakat.

"Yang kita lakukan adalah memperebutkan trust, kepercayaan publik. Ini yang menjadi problem dalam komunikasi kebijakan kita hari ini. Kalau bisa dirumuskan, keberhasilan kebijakan adalah formulasi dari kualitas kebijakan itu sendiri, praktik komunikasi, ditambah public trust. Jadi, kalau salah satu unsur ini lemah, keberhasilan komunikasi kebijakan akan mendapatkan tantangan. Kebijakan yang baik tidak otomatis menjadi kebijakan yang dipercaya," ujar Wamen Nezar di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta, Rabu (15/7).

Nezar menjelaskan, masyarakat kini memperoleh informasi dari berbagai kanal digital sehingga pemerintah tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi. Bahkan, konten yang dibuat kreator digital kerap bersaing dengan informasi resmi pemerintah.

"Sekarang sumber informasi itu tersebar. Masyarakat tidak perlu menunggu media untuk mendapatkan informasi. Tidak perlu menunggu humas menulis press release. Begitu ada peristiwa, mereka langsung mencari berbagai sumber informasi yang memiliki akun media sosial atau situs yang bisa diakses. Mereka juga membuat kontennya sendiri dan mengunggahnya ke media sosial. Kadang-kadang versi yang dihasilkan digital creator bersaing dengan informasi resmi pemerintah," jelas Wamen Nezar.

Ia mengatakan tantangan komunikasi pemerintah semakin besar karena algoritma media sosial lebih banyak membentuk persepsi berdasarkan sentimen dibanding fakta. Kondisi tersebut memicu polarisasi dan fenomena post-truth di ruang digital.

"Algoritma bekerja berdasarkan apa yang kita suka dan tidak suka. Yang penting bukan faktanya, tetapi sentimennya. Dari sentimen kemudian terbentuk persepsi. Persepsi inilah yang kemudian membingkai cara kita melihat persoalan dan menafsirkan realitas. Konstruksi realitas itu dibentuk bukan karena pengalaman kita langsung, tetapi dimediasi oleh platform media sosial. Kita berhadapan dengan satu fenomena post-truth," ungkap Wamen Nezar.

Karena itu, ia menekankan pentingnya komunikasi yang cepat, terbuka, empatik, dan berbasis dialog untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat.

"Yang harus kita kejar sekarang adalah reclaiming the trust. Bagaimana mendapatkan kembali kepercayaan publik. Kita harus mengelola percakapan. Pola komunikasinya tidak bisa elitis, tetapi harus empatik. Bagaimana kita berinteraksi langsung dengan publik itu sangat penting," tegas Wamen Nezar.

Selain itu, Nezar menilai teknologi seperti social listening, analisis sentimen, dan sistem peringatan dini dapat dimanfaatkan untuk memantau percakapan publik sekaligus mengantisipasi krisis komunikasi, termasuk ancaman deepfake berbasis AI.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore