
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria. (Dok/Komdigi)
JawaPos.com - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan profesi hubungan masyarakat (humas) menghadapi tantangan baru seiring kemunculan teknologi agentic AI yang mulai mampu menjalankan berbagai fungsi kehumasan secara otomatis. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) agar tetap relevan di era kecerdasan artifisial (AI).
Nezar menjelaskan, agentic AI kini tidak lagi sekadar membantu pembuatan konten, tetapi mulai sanggup membaca data, menyusun strategi komunikasi, hingga membangun narasi secara otomatis selama 24 jam.
Karena itu, ia menilai insan humas harus terus meningkatkan kapasitas agar tidak tergeser oleh laju otomatisasi yang berkembang semakin cepat.
Ia mendorong para praktisi humas tidak hanya menguasai pemanfaatan AI, tetapi juga memperkuat kemampuan berpikir kritis, melakukan verifikasi informasi, memahami konteks sosial, serta menjaga etika komunikasi yang hingga kini belum dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin.
Meski AI menawarkan berbagai kemudahan, Nezar menegaskan teknologi tersebut tetap memiliki keterbatasan, terutama dalam membangun kepercayaan publik.
"Teknologi dapat membantu menghasilkan konten dengan cepat, tetapi kepercayaan publik dibangun oleh integritas, empati, dan ketulusan. Sampai hari ini, AI masih belum mampu menghadirkan sincerity atau ketulusan yang menjadi unsur penting dalam komunikasi manusia," tuturnya dalam sambutannya pada Kick Off Konvensi Humas Indonesia 2026 di Jakarta Pusat, dikutip Minggu (12/7).
Ia mengatakan pemanfaatan AI memang membuka peluang besar untuk meningkatkan efektivitas kerja humas. Mengacu pada studi One Asia Communications 2025, praktisi humas di berbagai negara Asia mulai memanfaatkan AI untuk menganalisis sentimen publik secara real time, menjaga konsistensi pesan, hingga meningkatkan kualitas storytelling.
Baca Juga:9 Ucapan Jiwa Tua yang Mencerminkan Kebijaksanaan Mendalam dalam Percakapan Menurut Psikologi
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penerapan AI harus selalu disertai tata kelola yang baik serta berlandaskan prinsip-prinsip etika. Menurutnya, AI hanyalah alat bantu yang tidak boleh menghilangkan tanggung jawab profesional maupun nilai-nilai kemanusiaan dalam komunikasi.
Pada saat yang sama, Nezar menilai perkembangan AI juga menjadi tantangan bagi pemerintah di berbagai negara dalam merumuskan tata kelola teknologi tersebut.
Ia menjelaskan, saat ini terdapat dua pendekatan utama yang berkembang. Pendekatan pertama menitikberatkan pada regulasi yang adaptif mengikuti perkembangan teknologi, sedangkan pendekatan kedua berfokus pada penerapan prinsip-prinsip dasar seperti transparansi, akuntabilitas, keamanan, dan non-diskriminasi.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Hasil Piala Presiden: Persib Bandung vs Persebaya Surabaya 1-1, Lanjut ke Extra Time!
Prediksi Skor Persija Jakarta vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Macan Kemayoran Diunggulkan!
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Misi John Herdman Demi Semifinal!
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Maung Bandung Favorit Juara
Profil Jafar Hidayatullah dan Adnan Maulana: Diduga Match Fixing, Dicoret PBSI dari Kejuaraan Dunia
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Pembuktian Sihir John Herdman!
Bertahun-Tahun Mogok Kerja, Tim 10 Pekerja Freeport Serahkan Tuntutan ke Said Iqbal
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Senpi hingga Narkoba di Sekolah Swasta di Jaksel Ternyata Milik Eks Ketua Yayasan
