Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 Juli 2026 | 16.09 WIB

92 Persen Warga RI Pernah Hadapi Penipuan Digital, AI Dinilai Bikin Modus Kejahatan Makin Canggih

: Ilustrasi kejahatan siber.(Gemini) - Image

: Ilustrasi kejahatan siber.(Gemini)

JawaPos.com - Ancaman kejahatan siber semakin mengintai masyarakat Indonesia. Riset terbaru perusahaan insurtech global bolttech mengungkap sebanyak 92 persen masyarakat Indonesia mengaku pernah menerima atau menghadapi upaya penipuan digital.

Bahkan, hampir separuh atau 44 persen responden mengaku telah menjadi korban penipuan, peretasan, maupun bentuk kejahatan siber lainnya.

Temuan tersebut terungkap dalam studi Asia-Pacific Cyber Safety Landscape 2026. Tingginya angka paparan terhadap kejahatan siber juga diikuti kekhawatiran masyarakat terhadap keselamatan anggota keluarganya.

Sebanyak 81 persen responden meyakini setidaknya satu anggota rumah tangga mereka berisiko menjadi korban kejahatan siber dalam satu tahun ke depan. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata kawasan Asia Pasifik yang mencapai 64 persen.

Serangan siber juga datang melalui saluran komunikasi yang digunakan sehari-hari. Penipuan melalui panggilan telepon menjadi ancaman yang paling sering ditemui dengan persentase 61 persen, disusul SMS mencurigakan sebesar 50 persen dan aplikasi perpesanan sebesar 49 persen.

Meski tingkat paparan terhadap ancaman siber tergolong tinggi, kesiapan masyarakat untuk menghadapinya masih rendah. Hanya 37 persen responden Indonesia yang mengaku yakin mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi ancaman siber.

Pendiri dan CEO Blackbox Research, David Black, mengatakan penipuan telah menjadi tantangan yang tak terhindarkan dalam perkembangan ekonomi digital di kawasan Asia Pasifik.

"Meskipun sebagian besar masyarakat menghadapi ancaman penipuan, terdapat kesenjangan yang mencolok antara kekhawatiran publik dan tindakan pribadi, karena sebagian besar konsumen mengakui bahwa langkah-langkah keamanan yang mereka terapkan sendiri gagal mengikuti perkembangan ancaman yang ada," ujar David Black.

Di tengah tingginya ancaman tersebut, perkembangan kecerdasan buatan (AI) justru dinilai memperbesar risiko kejahatan digital. AI memungkinkan pelaku menciptakan modus penipuan yang lebih canggih, lebih personal, dan semakin sulit dikenali oleh masyarakat.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore