
Ilustrasi startup digital. (Ajaib)
JawaPos.com - Di tengah pesatnya perkembangan ekosistem startup digital di berbagai negara berkembang, founder perempuan masih menghadapi tantangan besar dalam mendapatkan akses pendanaan. Padahal, banyak startup yang dipimpin perempuan terbukti mampu mencatat pertumbuhan bisnis yang kuat dan efisien.
Kesenjangan akses modal tersebut masih menjadi persoalan di berbagai kawasan, mulai dari Afrika, Amerika Latin, hingga Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) bahkan termasuk Indonesia. Selain menghadapi keterbatasan pendanaan, founder perempuan juga kerap berhadapan dengan keraguan terhadap kemampuan mereka serta standar pencapaian bisnis yang lebih tinggi dibandingkan pendiri laki-laki.
Temuan tersebut menjadi salah satu alasan lahirnya Aurora Ventures, sebuah program investasi tahap awal yang fokus mendukung startup yang dipimpin perempuan di negara berkembang atau emerging markets. Program ini resmi diperkenalkan setelah penyelenggaraan Aurora Tech Award 2026 di Santiago, Chile.
Aurora Ventures menawarkan investasi sebesar US$ 180 ribu hingga US$ 250 ribu atau sekitar Rp 2,9 miliar hingga Rp 4 miliar bagi startup tahap awal. Selain pendanaan, program tersebut juga menyediakan akses ke jaringan investor, mentoring, serta dukungan operasional untuk membantu perusahaan rintisan mempersiapkan diri menuju tahap pendanaan berikutnya.
Peluncuran program ini berangkat dari berbagai temuan selama lima tahun penyelenggaraan Aurora Tech Award yang menunjukkan masih lebarnya kesenjangan pendanaan bagi founder perempuan. Kondisi tersebut terutama terlihat di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, Afrika, serta Amerika Latin.
Meski banyak startup yang dipimpin perempuan menunjukkan kinerja bisnis yang menjanjikan, perusahaan-perusahaan tersebut dinilai masih sering memperoleh valuasi yang lebih rendah dibandingkan startup serupa yang dipimpin laki-laki. Mereka juga cenderung kurang mendapatkan perhatian dari investor tradisional.
Temuan itu diperkuat oleh riset terbaru Aurora yang melibatkan lebih dari 900 founder dari 127 negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak founder perempuan masih menghadapi fenomena yang disebut competence scepticism atau keraguan terhadap kemampuan mereka dalam membangun dan mengembangkan bisnis.
Selain itu, para founder perempuan juga sering kali dituntut untuk membuktikan pencapaian yang lebih tinggi sebelum memperoleh kepercayaan dari investor. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang membuat akses pendanaan bagi startup perempuan berjalan lebih lambat dibandingkan startup yang dipimpin laki-laki.
Country Manager inDrive Indonesia, Rio Aristo, mengatakan dukungan terhadap Aurora Ventures merupakan bagian dari upaya mendorong terciptanya kesempatan yang lebih setara dalam ekosistem kewirausahaan digital.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
