
Mark Zuckerberg, CEO Meta Platforms (Fortune)
JawaPos.com - Ambisi kecerdasan buatan (AI) Mark Zuckerberg kembali menjadi sorotan global ketika Meta Platforms mengarahkan strategi bisnisnya ke skenario pertumbuhan ekstrem. Di tengah persaingan ketat industri AI, langkah ini mencerminkan pergeseran dari sekadar ekspansi teknologi menuju taruhan jangka panjang bernilai sangat besar.
Seiring mendekatnya laporan kinerja kuartal pertama 2026, perhatian investor tertuju pada lonjakan belanja modal Meta yang diproyeksikan mencapai 115 miliar hingga 135 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.995 triliun hingga Rp 2.342 triliun (kurs Rp 17.350 per dolar AS). Dana tersebut difokuskan untuk pengembangan Superintelligence Labs sebagai fondasi utama strategi AI perusahaan.
Dilansir dari Fortune, Kamis (30/4/2026), Meta secara bersamaan menyiapkan skema kompensasi eksekutif yang tidak biasa sebagai bagian dari strategi 'moonshot'. Dalam dokumen yang disampaikan ke Securities and Exchange Commission (SEC), disebutkan bahwa perusahaan "mengaitkan insentif dengan skenario kenaikan ekstrem di masa depan," termasuk kemungkinan menjadi perusahaan paling bernilai sepanjang sejarah.
Baca Juga:Tiongkok Tolak Akuisisi AI oleh Meta karena Kekhawatiran Transfer Teknologi dan Kekayaan Intelektual
Skema tersebut diberikan kepada lima eksekutif senior, antara lain CTO Andrew Bosworth, Chief Product Officer Christopher Cox, CFO Susan Li, Chief Legal Officer Curtis Mahoney, serta Presiden dan Wakil Ketua Dina Powell McCormick. Mereka menerima opsi saham dalam tujuh tahap dengan harga pelaksanaan antara 1.116 hingga 3.727 dolar AS per saham.
Dengan harga saham Meta yang saat ini berada di kisaran 671,34 dolar AS, diperlukan kenaikan sekitar 66 persen untuk mencapai ambang terendah insentif tersebut. Adapun untuk mencapai tahap tertinggi di mana seluruh opsi menjadi bernilai, Meta harus menembus kapitalisasi pasar sebesar 9,46 triliun dolar AS.
Angka tersebut melampaui capaian perusahaan mana pun dalam sejarah dan hampir dua kali lipat dari valuasi Nvidia yang saat ini menjadi perusahaan paling bernilai di dunia. Dalam skenario itu, nilai opsi yang diterima masing-masing eksekutif dapat mencapai ratusan juta dolar AS, dengan total kompensasi diperkirakan antara 787 juta hingga 921 juta dolar AS.
CEO Mahoney Asset Management, Ken Mahoney, menilai pendekatan ini sebagai strategi untuk mempertahankan para eksekutif kunci sekaligus mendorong kinerja jangka panjang. Dia mengatakan, "Ini adalah langkah yang baik untuk mempertahankan talenta, dan tidak membutuhkan biaya di muka. Ini cara untuk menyelaraskan insentif dengan hasil 'moonshot', tetapi kita harus ingat bahwa angka 9,46 triliun dolar AS ini lebih dari lima kali valuasi saat ini dan secara realistis tidak akan terjadi dalam waktu dekat."
Namun, langkah agresif tersebut juga mencerminkan posisi Meta yang masih berupaya mengejar ketertinggalan dalam kompetisi AI global. Saat ini, perusahaan dinilai masih berada di belakang OpenAI, Anthropic, dan Google dalam pengembangan model AI mutakhir.
Sebagai bagian dari upaya percepatan, Meta sebelumnya menginvestasikan 14,3 miliar dolar AS ke ScaleAI serta merekrut salah satu pendirinya, Alexandr Wang. Meski demikian, langkah tersebut belum sepenuhnya menghasilkan dampak signifikan terhadap daya saing produk AI perusahaan.
Di sisi lain, tantangan juga datang dari aspek regulasi. Meta diperintahkan untuk membatalkan akuisisi senilai 2 miliar dolar AS terhadap startup AI asal Tiongkok, Manus, yang telah lebih dahulu memindahkan operasinya ke Singapura. Keputusan ini berpotensi mengganggu integrasi tim serta memperlambat eksekusi strategi AI.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
