
Elon Musk yang berambisi membangun fasilitas manufaktur cip terbesar dunia yang akan mendukung ekosistem AI, robotika, dan infrastruktur komputasi antariksa (The Independent)
JawaPoas.com - Elon Musk kembali mendorong batas ambisi industrinya dengan mengumumkan pembangunan fasilitas manufaktur cip terbesar di dunia melalui proyek bernama TeraFab. Inisiatif ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengamankan pasokan cip di tengah lonjakan kebutuhan kecerdasan buatan (AI) global.
Proyek tersebut dirancang sebagai usaha patungan antara Tesla, SpaceX, dan xAI. Integrasi ini menunjukkan bahwa Musk tidak lagi melihat cip sebagai komponen pendukung, melainkan sebagai fondasi utama bagi ekosistem bisnisnya, mulai dari kendaraan otonom, robot humanoid, hingga infrastruktur komputasi berbasis luar angkasa.
Dilansir dari The Independent, Selasa (24/3/2026), Elon Musk menyatakan proyek ini akan menelan biaya sedikitnya 20 miliar dolar AS (sekitar Rp 338 triliun dengan kurs Rp 16.900 per dolar AS). Fasilitas itu ditargetkan mampu memproduksi hingga 50 kali output tahunan cip AI global saat ini, sebuah skala yang menunjukkan bahwa kapasitas produksi dunia belum mampu mengimbangi lonjakan permintaan.
Sejalan dengan proyeksi tersebut, pernyataan resmi Tesla mempertegas tekanan yang dihadapi industri. "Kami membutuhkan lebih banyak cip daripada yang dapat disediakan oleh semua produsen cip di dunia saat ini, bahkan hingga 2030," tulis perusahaan itu. Artinya, proyek ini bukan sekadar respons atas kekurangan pasokan, melainkan upaya untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan yang jauh lebih besar dalam beberapa tahun ke depan.
Tesla juga menjelaskan arah strategis TeraFab. "Kami membangun TeraFab untuk menutup kesenjangan antara produksi cip saat ini dan permintaan masa depan, sebuah masa depan di antara bintang-bintang."
Pernyataan ini menunjukkan bahwa pengembangan TeraFab tidak hanya ditujukan untuk kebutuhan industri di bumi, tetapi juga diarahkan pada sistem berbasis antariksa, termasuk satelit AI dan infrastruktur komputasi di orbit.
Dalam unggahannya di platform X, Musk juga menyoroti dimensi fisik proyek yang ekstrem. "Kami tidak mungkin menempatkan Terafab di kampus GigaTexas. Ukurannya akan jauh lebih besar dari seluruh fasilitas di kampus GigaTexas jika digabungkan," ujarnya.
Dia menambahkan bahwa proyek ini membutuhkan "ribuan hektare lahan dan lebih dari 10 gigawatt daya listrik" pada skala penuh, angka yang setara dengan konsumsi energi kota besar.
Meski demikian, fasilitas awal di Austin akan difokuskan sebagai pusat desain cip canggih, bukan produksi massal. Pendekatan bertahap ini menunjukkan bahwa Musk mengadopsi strategi modular: memulai dari pengembangan teknologi inti sebelum memperluas kapasitas produksi ke lokasi lain yang lebih luas.
Secara kapasitas, TeraFab diproyeksikan mampu menghasilkan hingga satu terawatt daya komputasi per tahun, cukup untuk mendukung ratusan juta cip AI. Skala ini bukan hanya besar, tetapi berpotensi mengubah struktur biaya komputasi global, terutama jika Musk berhasil mewujudkan visinya tentang efisiensi tinggi dan biaya lebih rendah.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Nathalie Holscher-Aripat Menikah, Sule Titip Pesan untuk Adzam, Balasan Nathalie Jadi Sorotan
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Analis Ungkap Strategi Iran Pilih Sasar Negara Teluk Tanpa Serang Kapal Induk AS
