
Tesla Cybercab dipamerkan pada acara Los Angeles Auto Show (WSJ)
JawaPos.com - Tesla kembali menguji batas industri otomotif global melalui proyek ambisius kendaraan tanpa setir bernama Cybercab. Mobil otonom ini menjadi bagian dari rencana besar perusahaan yang dipimpin Elon Musk untuk membawa Tesla melampaui perannya sebagai produsen kendaraan listrik dan bertransformasi menjadi perusahaan teknologi yang berfokus pada kecerdasan buatan serta robotika.
Langkah tersebut mulai terlihat ketika unit pertama Cybercab keluar dari lini produksi di fasilitas manufaktur Tesla di Austin, Texas, bulan lalu. Kendaraan yang tidak dilengkapi setir maupun pedal itu dikerumuni para pekerja pabrik dengan helm keselamatan dan rompi reflektif, momen yang oleh Tesla diharapkan menjadi awal dari produksi massal jutaan unit pada masa depan.
Melansir The Wall Street Journal, Senin (16/3/2026), Cybercab merupakan kendaraan pertama Tesla yang sepenuhnya dirancang untuk beroperasi tanpa kendali manual manusia. Mobil ini sepenuhnya bergantung pada perangkat lunak Full Self-Driving (FSD) milik Tesla untuk mengemudi secara otonom.
Baca Juga:Elon Musk Yakin Tesla Bakal Punya Pabrik di Bulan dalam 20 Tahun, Serukan Investor Jangan Lepas TSLA
Ke depan, Tesla berencana memanfaatkan Cybercab untuk layanan robotaksi tanpa pengemudi, sekaligus menjualnya kepada operator armada taksi dan konsumen individu. Musk menyatakan kendaraan tersebut berpotensi dijual dengan harga kurang dari 30.000 dolar AS, atau sekitar Rp 508,5 juta dengan kurs Rp 16.950 per dolar AS.
Namun, strategi ini sekaligus menjadi ujian besar bagi masa depan Tesla. Pasalnya, menjual kendaraan yang sepenuhnya mengandalkan sistem otonom tanpa setir dan pedal nyaris belum pernah terjadi dalam industri otomotif modern. Musk menegaskan bahwa keberhasilan teknologi tersebut akan menentukan arah bisnis Tesla pada masa depan. "Tidak ada mekanisme cadangan di sini. Mobil ini harus bisa mengemudi sendiri atau tidak sama sekali," kata Musk kepada investor pada Januari lalu.
Sejalan dengan itu, Tesla bahkan mengubah prioritas bisnisnya. Musk memilih memfokuskan sumber daya perusahaan pada pengembangan teknologi kendaraan otonom dan robot humanoid, hingga membatalkan pengembangan dua model mobil baru. Strategi ini menandai pergeseran arah Tesla dari sekadar produsen kendaraan listrik menuju perusahaan teknologi berbasis kecerdasan buatan.
Di sisi lain, sejumlah analis menilai adopsi mobil tanpa setir tidak akan berlangsung cepat. Analis Morgan Stanley, Andrew Percoco, mengatakan konsumen kemungkinan membutuhkan waktu untuk menerima konsep kendaraan yang sepenuhnya otonom. "Saya pikir akan membutuhkan waktu bagi pembeli untuk terbiasa membeli mobil tanpa setir," ujarnya.
Secara operasional, Tesla juga tengah menyiapkan jalur produksi baru di pabrik Giga Texas di Austin yang dirancang mampu memproduksi ratusan unit Cybercab setiap minggu. Meski demikian, Musk memperingatkan bahwa tahap awal produksi kemungkinan berjalan lambat dan menantang. Dia menggambarkannya sebagai proses yang "sangat lambat dan menyakitkan."
Sementara itu, tantangan paling serius justru datang dari sisi regulasi. Tesla membutuhkan persetujuan dari National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA), badan keselamatan lalu lintas jalan raya Amerika Serikat, untuk menjual kendaraan yang tidak memiliki setir, pedal, maupun kaca spion samping. NHTSA memang dapat memberikan pengecualian terhadap standar keselamatan kendaraan, tetapi jumlahnya dibatasi maksimal 2.500 unit per tahun.
Selain itu, regulasi kendaraan otonom di Amerika Serikat masih terfragmentasi antara pemerintah federal, negara bagian, dan otoritas lokal. Musk sebelumnya menyebut kondisi tersebut sebagai hambatan besar bagi pengembangan kendaraan tanpa pengemudi dan mendorong pembentukan kerangka regulasi nasional yang lebih seragam.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Tesla tetap menaruh taruhan besar pada Cybercab. Musk bahkan menargetkan produksi hingga dua juta unit per tahun, dengan harapan kendaraan ini mulai memberikan dampak nyata terhadap kinerja keuangan perusahaan pada akhir 2026.
Target itu menjadi semakin penting karena penjualan otomotif Tesla yang menyumbang lebih dari 73 persen pendapatan perusahaan turun sekitar 10 persen pada 2025, sementara sejumlah analis Wall Street memperkirakan penurunan penjualan dapat berlanjut pada 2026.
Dengan demikian, keberhasilan Cybercab bukan sekadar peluncuran model kendaraan baru. Proyek ini menjadi ujian strategis bagi ambisi Elon Musk untuk membawa Tesla memasuki era mobilitas otonom berbasis kecerdasan buatan, sekaligus menentukan arah masa depan perusahaan tersebut di tengah ketatnya regulasi industri otomotif.
