Logo JawaPos
Author avatar - Image
22 Oktober 2025, 02.05 WIB

Teknologi Baru Alvalab Mempercepat Uji Masa Simpan Produk Pangan

Ilustrasi sedang melakukan penyjian makanan. (Istimewa) - Image

Ilustrasi sedang melakukan penyjian makanan. (Istimewa)

JawaPos.com - Di tengah meningkatnya kekhawatiran publik atas keamanan pangan dan semakin ketatnya regulasi ekspor global, laboratorium pengujian independen Alvalab memperkenalkan teknologi baru yang diklaim mampu memangkas waktu uji masa simpan produk dari hitungan bulan menjadi hanya beberapa minggu.

Perangkat bernama Climatic Chamber ASLT (Accelerated Shelf Life Testing) ini pertama kali diperkenalkan di ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 di ICE BSD, Tangerang, Banten. 

Inovasi ini diharapkan menjadi solusi bagi industri makanan dan minuman nasional yang selama ini terbebani proses pengujian panjang sebelum produk dinyatakan layak edar.

“Selama ini produsen harus menunggu berbulan-bulan untuk mengetahui masa kedaluwarsa produk. Dengan alat ini, pengujian bisa selesai hanya dalam 30–60 hari dengan tingkat akurasi hingga 99,5 persen,” ujar Jonathan A. Widakdo, Head of Sales and Marketing Alvalab beberapa waktu lalu.

Bentuk alat tersebut sekilas menyerupai lemari pendingin, tetapi dilengkapi sistem pemantauan suhu, kelembaban, dan cahaya untuk mensimulasikan berbagai kondisi penyimpanan.

Dari hasil uji, produsen bisa mengetahui stabilitas rasa, kandungan gizi, hingga paparan mikrobiologi yang mungkin terjadi sepanjang umur produk.

Kehadiran alat uji semacam ini menjadi krusial di tengah upaya pemerintah memperkuat ekspor produk olahan pangan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan sejumlah negara tujuan ekspor kini mensyaratkan hasil pengujian laboratorium independen sebelum izin edar diberikan.

“Ketika sebuah perusahaan meluncurkan produk baru, mereka wajib menyertakan hasil analisa objektif dari lembaga seperti kami sebelum masuk ke BPOM,” jelas Jonathan. 

“Kami juga mengeluarkan sertifikat analisa atau Certificate of Analysis (CoA) yang bisa dipertanggungjawabkan secara internasional," lanjutnya.

Laboratorium Alvalab sendiri telah berakreditasi ISO 17025 serta diakui oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) dan BPOM. Reputasi ini membuat hasil pengujian mereka sering menjadi syarat utama bagi perusahaan yang ingin menembus pasar ekspor.

Tidak hanya melayani industri besar, Alvalab juga membuka akses bagi UMKM pangan dengan tarif pengujian yang lebih terjangkau. Perusahaan bahkan menyediakan konsultasi gratis untuk membantu pelaku usaha memahami standar mutu yang berlaku di dalam negeri maupun global.

“Banyak UMKM punya produk potensial tapi gagal ekspor karena tidak lolos standar keamanan. Kami ingin membantu mereka naik kelas lewat pemahaman mutu yang benar,” ujar Jonathan.

Partisipasi Alvalab di TEI 2025 juga menyoroti pentingnya peran laboratorium independen dalam menjaga kredibilitas produk Indonesia di pasar global. Apalagi, banyak produk ekspor seperti rempah, minyak sawit, dan makanan olahan kini menghadapi hambatan non-tarif terkait standar keamanan pangan.

Di sisi lain, Kementerian Perdagangan melaporkan nilai transaksi sementara TEI 2025 telah mencapai USD 17,27 miliar (Rp 286 triliun) hingga hari kedua penyelenggaraan. Produk pangan, pertanian, dan energi menjadi sektor yang paling diminati pembeli dari 130 negara.

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore