
4 tanda anak kecanduan pornografi (foto: famisafe.wondershare.com)
JawaPos.com - Isu Eksploitasi Seksual Anak (Child Sexual Exploitation/CSE) di ruang digital di Indonesia telah mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Laporan terbaru tahun 2024 mencatat bahwa Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia dengan angka fantastis, yakni 1.450.403 kasus.
Angka ini sekaligus menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan volume kasus pornografi daring terbesar secara global.
Merespons data yang mendesak ini, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menegaskan bahwa perlindungan anak di ranah digital harus menjadi isu publik yang diutamakan.
“Komdigi membangun ekosistem digital yang tidak hanya mendorong kreativitas dan pembelajaran, tetapi juga menjamin setiap anak terlindungi dari ancaman dunia digital,” kata Nezar pada Multistakeholder Dialogue on Follow the Money: Unmasking Child Sexual Exploitation through Financial Transactions di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Kamis (2/10).
Nezar menjabarkan berbagai langkah konkret yang telah diambil pemerintah untuk membentengi anak-anak dari bahaya digital.
Upaya tersebut mencakup penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS).
Selain itu, Komdigi juga tengah memfinalisasi Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional yang berpegang pada prinsip tata kelola AI berbasis manusia.
“Komdigi juga telah menerapkan Sistem Kepatuhan Moderasi Konten atau SAMAN, serta menggiatkan literasi digital yang dapat diakses seluruh masyarakat,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Nezar juga secara khusus menyoroti adanya tren baru dan berbahaya, yaitu penggunaan teknologi Kecerdasan Artifisial (AI) untuk memproduksi konten kekerasan seksual anak.
Laporan dari Internet Watch Foundation (IWF) menunjukkan betapa cepatnya penyebaran konten AI ilegal ini, mencatat lebih dari 3.500 konten AI diunggah ke dark web pada Juli 2024, bahkan mencapai lebih dari 20.000 konten pada Oktober 2023.
“Ini juga banyak sekali digunakan dan banyak sekali anak-anak kita yang menjadi korban dan berdampak cukup dalam terhadap kondisi psikologis korban,” ungkap Nezar.
Menurut Nezar Patria, menghadapi ancaman yang kian kompleks ini membutuhkan upaya yang terintegrasi. Ia menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci untuk menanggulangi CSE.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersinergi dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin dalam isu perlindungan anak, baik di tingkat regional maupun global.
“Mari jadikan forum ini sebagai momentum kolaborasi yang lebih kuat antara kementerian, lembaga, penyedia jasa keuangan termasuk bank, e-wallet, transfer dana dan aset kripto, serta mitra global. Perlindungan anak di ruang digital adalah investasi bagi masa depan,” tandasnya.

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Prediksi Skor hingga Rekor Pertemuan Persebaya vs PSMS: Ayam Kinantan Lebih Unggul Atas Green Force
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
Prediksi Skor Port FC vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Pembuktian Magis Shin Tae-yong!
