Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 8 Agustus 2025 | 01.11 WIB

Riset Terbaru AWS: Startup Indonesia Lebih Maju dalam Inovasi AI Dibanding Perusahaan Besar

Direktur Strand Partners Nick Bonstow memaparkan hasil riset melalui video online dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (7/8). (Nanda Prayoga/JawaPos.com) - Image

Direktur Strand Partners Nick Bonstow memaparkan hasil riset melalui video online dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (7/8). (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

JawaPos.com-Amazon Web Services (AWS) merilis hasil riset terbaru yang menunjukkan pertumbuhan pesat adopsi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia. Riset ini mengungkap adanya kesenjangan signifikan antara startup dan perusahaan besar dalam hal kedalaman pemanfaatan AI.

Dalam riset Unlocking Indonesia’s AI Potential, AWS berkolaborasi dengan Strand Partners untuk menyurvei 1.000 pelaku bisnis dan 1.000 anggota masyarakat umum yang mewakili demografi nasional Indonesia.

Temuan utama dari riset ini menunjukkan bahwa meskipun AI semakin banyak diadopsi, perbedaan antara perusahaan besar dan startup semakin mencolok. Perusahaan rintisan yang lebih lincah terlihat lebih cepat berinovasi dibandingkan perusahaan besar, sehingga berpotensi menimbulkan ketimpangan ekonomi berbasis teknologi.

Adopsi AI di Tanah Air mengalami pertumbuhan signifikan. Pada 2024, terdapat 5,9 juta bisnis yang telah mengimplementasikan solusi AI, atau setara dengan lebih dari sepuluh bisnis per menit. 

Secara keseluruhan, sekitar 18 juta bisnis, atau 28 persen dari total bisnis di Indonesia, telah mengadopsi AI, mencerminkan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 47 persen.

“Ini merupakan fenomena menarik yang kami lihat dari hasil studi mengenai adopsi AI di Indonesia. Meskipun 28 persen bisnis melaporkan telah mengadopsi AI, sebagian besar penerapannya masih bersifat dasar meskipun terjadi adopsi teknologi yang cepat selama satu tahun terakhir,” ungkap Nick Bonstow, Direktur Strand Partners, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (7/8).

“Perusahaan besar juga berisiko tertinggal oleh startup yang lebih gesit dan bergerak cepat. Ekonomi dua tingkat yang dihasilkan bisa berdampak jangka panjang pada perkembangan ekonomi suatu negara. Merayakan angka adopsi AI saja bisa menutupi tantangan lebih dalam yang dihadapi banyak bisnis di seluruh Indonesia,” imbuh dia.

Dampak ekonomi dari adopsi AI pun terlihat menjanjikan. Sekitar 59 persen bisnis yang telah mengimplementasikan AI melaporkan adanya peningkatan pendapatan rata-rata sebesar 16 persen. Selain itu, 64 persen dari mereka mengantisipasi efisiensi biaya hingga 29 persen.

Namun, masih banyak bisnis yang belum memanfaatkan potensi AI secara maksimal. Mayoritas, sekitar 76 persen, masih berada pada tahap awal, menggunakan AI untuk efisiensi operasional dan penyederhanaan proses bisnis, bukan untuk menciptakan inovasi produk atau melakukan disrupsi pasar.

Hanya 11 persen bisnis yang telah masuk ke tahap menengah dalam adopsi AI, dan hanya 10 persen yang telah mencapai integrasi AI tingkat lanjut, di mana teknologi ini menjadi bagian inti dari strategi bisnis dan pengambilan keputusan.

Di sisi lain, startup tampil sebagai pemain yang paling antusias dalam pemanfaatan AI. Sebanyak 52 persen startup menggunakan AI dalam berbagai bentuk, dan 34 persen diantaranya telah membangun produk baru sepenuhnya berbasis AI.

Sementara itu, dari kalangan perusahaan besar, hanya 41 persen yang mengadopsi AI. Bahkan, hanya 21 persen dari mereka yang berhasil meluncurkan produk atau layanan baru berbasis teknologi ini. Yang lebih mengkhawatirkan, hanya 22 persen perusahaan besar yang memiliki strategi AI yang menyeluruh.

Tantangan utama dalam adopsi AI di Indonesia adalah keterbatasan tenaga kerja yang memiliki keterampilan yang relevan. Sebanyak 57 persen bisnis menyatakan bahwa kurangnya talenta menjadi hambatan dalam memperluas penggunaan AI.

Banyak perusahaan sudah memiliki infrastruktur dan visi, namun kekurangan sumber daya manusia yang mampu merealisasikannya. Hal ini menjadi tantangan besar bagi daya saing nasional, terlebih dengan prediksi bahwa 48 persen pekerjaan masa depan akan membutuhkan literasi AI.

Sayangnya, hanya 21 persen pelaku usaha yang percaya bahwa tenaga kerja mereka saat ini sudah siap.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore