Ilustrasi scam. (Kaspersky)
JawaPos.com-Di tengah maraknya kejahatan siber yang semakin canggih, ancaman penipuan (scam) kini tidak lagi menyasar kalangan tertentu. Siapa pun, dari pengguna internet harian hingga nasabah layanan keuangan, bisa menjadi target.
Modusnya juga kian variatif, mulai dari email phishing, investasi palsu, penipuan belanja online, hingga pencurian identitas. Fenomena ini menunjukkan urgensi literasi digital dan kewaspadaan publik dalam menghadapi praktik kriminal digital yang makin terstruktur dan sistematis.
Kondisi ini menjadi sorotan dalam seminar edukasi publik bertajuk 'Behind the Mask: Uncovering the Psychology and Tactics of Modern Scams' yang digelar di Jakarta, dengan diikuti lebih dari 800 peserta secara daring dan luring.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pakar di bidang investigasi fraud dan kejahatan siber, antara lain Budi Santoso dari Asta Benah Daya Consulting dan Agus Bangun Rahardja dari PT Global Investigasi. Mereka membedah berbagai pola dan psikologi di balik tindakan scam yang saat ini menjerat banyak korban di ruang digital.
Budi Santoso menegaskan, evolusi metode penipuan tidak bisa dipandang sebelah mata. “Dulu pelaku menggunakan teknik manual, sekarang hampir semuanya serba digital. Dengan kemajuan AI dan manipulasi data, sistem konvensional makin sulit membedakan mana yang asli dan mana yang tipuan,” ujarnya.
Hal ini diamini Agus Bangun Rahardja yang menyebut tantangan terbesar dalam memberantas fraud di industri keuangan adalah keberanian melakukan investigasi secara menyeluruh.
“Tanpa SOP yang kuat dan kesadaran kolektif, fraud akan terus berkembang,” tambahnya.
Salah satu lembaga jasa keuangan yang aktif meningkatkan kewaspadaan internal terhadap potensi fraud adalah Prudential Indonesia. Perusahaan ini mengadakan serangkaian edukasi internal untuk membekali para pegawainya dalam menghadapi ancaman scam.
Meski ditujukan bagi internal, langkah ini mencerminkan pentingnya upaya kolektif dalam membangun ekosistem layanan keuangan yang aman dan bebas dari kejahatan digital.
Maria Rosalinda, Chief Risk & Compliance Officer Prudential Indonesia, menyatakan bahwa literasi risiko harus dimulai dari lingkungan kerja.
“Kami ingin seluruh pegawai mampu mengenali, menghindari, bahkan menjadi agen perubahan dalam membentuk budaya anti-scam,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa pendekatan edukatif yang berkelanjutan menjadi kunci dalam membentengi sistem perusahaan dari serangan pihak tak bertanggung jawab.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
