Ilustrasi lengan seseorang yang mengalami campak. (Freepik)
JawaPos.com-Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat, Prof Dr.dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT (K) menyampaikan terdapat fase tiga stadium gejala yang harus diwaspadai saat terkena campak.
Dalam seminar media yang diikuti secara daring dari Jakarta, pada Sabtu, Prof Anggraini menjelaskan fase tiga stadium gejala campak itu meliputi, stadium prodromal atau awal dimulai dengan demam tinggi disertai gejala khas "3C", yakni Coryza (pilek), Cough (batuk) dan Conjunctivitis (mata merah).
“Mulai sakit-sakit, demamnya naik tinggi, ada 3C coryza, conjunctivitis, cough yang khas, ini 3 sampai 5 hari. Kalau dokter akan memeriksa ada atau tidak koplik's spot (bintik-bintik putih muncul pada area mulut) sebelum munculnya yaitu ruam yang khas dari campak,” kata Prof Anggraini.
Setelah fase prodromal (ada batuk pilek dan mata merah ini), ada fase stadium erupsi yang ditandai dengan munculnya ruam kemerahan di kulit atau demam ruam menyebar secara bertahap.
“Sebagai first disease karena satu-satunya hanya campaklah yang ruamnya itu biasanya mulai dari kulit dekat rambut. Jadi kita suka periksa di belakang telinga, kemudian dia akan menyebar ke batang tubuh, barulah dia ke lengan, tungkai,” ujar dia.
Kemudian, fase konvalesens terdapat ciri pada ruam akan berubah warna menjadi lebih gelap, serta mengering dan mengelupas dengan tampilan bersisik.
“Khas dari campak pada stadium konvalesen, dia berubah makin mengumpul ruamnya, menggelap, kemudian hilang dengan tampak bersisik,” ujarnya.
Dia mengatakan virus campak menular melalui udara (airborne), bukan melalui sentuhan langsung. Penularan campak terjadi lewat percikan batuk, bersin, bahkan saat seseorang berbicara.
Virus dapat melayang di udara hingga lebih dari dua jam dan menempel pada permukaan maupun debu di sekitar. Selain itu, lingkungan lembap, padat penduduk, dan minim ventilasi dapat meningkatkan penyebaran virus campak.
“Jadi penularan campak itu bukan main. Mirip seperti TBC, bayangkan dari satu itu bisa ke 18,” imbuh dia.
Dijelaskannya, penularan terdapat masa inkubasi virus bisa mencapai tiga minggu, yakni periode ketika virus sudah masuk ke dalam tubuh namun belum menimbulkan tanda-tanda sakit.
Pada fase tersebut, seseorang yang terinfeksi belum menyadari dirinya membawa virus. Gejala biasanya baru muncul setelah paparan, ditandai dengan demam yang diikuti ruam.
“Sampai pada akhirnya ruam muncul 10 harian lebih, barulah anak atau kita yang bekerja baru boleh bekerja lagi, karena kalau tidak akan menularkan ke sekitarnya. Artinya si ruamnya itu sudah seperti kering sisik, paling tidak menghitam mengering, barulah itu tidak menularkan lagi,” jelas dia.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
