
AI ChatGPT kalah main catur melawan konsol game jadul Atari 2600. (ShiftDelete)
JawaPos.com - Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) modern seperti ChatGPT memang tengah naik daun karena kemampuannya dalam menulis, menjawab pertanyaan, hingga membantu merancang jadwal harian.
Namun, eksperimen terbaru justru menunjukkan bahwa AI belum tentu unggul dalam segala hal.
Seorang insinyur bernama Robert Jr. Caruso baru-baru ini menguji kemampuan ChatGPT bermain catur melawan Atari 2600, konsol game legendaris yang hampir berusia 50 tahun. Hasilnya? ChatGPT "dihancurkan habis-habisan."
Eksperimen ini bermula dari percakapan Caruso dengan ChatGPT tentang strategi catur. Dalam percakapan itu, ChatGPT sendiri yang menyarankan untuk bertanding melawan Atari 2600 guna membuktikan kemampuannya.
Sayangnya, pertandingan yang berlangsung selama 90 menit justru memperlihatkan sebaliknya.
Melansir Gamerant, ChatGPT terlihat kebingungan dengan posisi bidak, tidak tahu mana yang dikendalikan, dan beberapa kali membuat keputusan aneh, seperti mengorbankan kuda untuk pion.
ChatGPT bahkan mengeluh bahwa ikon bidak di Atari terlalu "abstrak" untuk dipahami. Namun, setelah sistem diganti ke notasi standar catur sekalipun, kesalahan tetap berulang. Pada akhirnya, AI buatan OpenAI ini menyerah dan mundur dari permainan.
Fenomena ini membuka pertanyaan penting tentang keterbatasan AI dalam menyelesaikan tugas-tugas yang tampak sederhana bagi manusia, terutama dalam konteks visual dan permainan interaktif.
Menariknya, ini bukan satu-satunya kasus kegagalan AI dalam bermain game. Sebuah eksperimen lain mencoba menguji model AI o3 (juga dari OpenAI) untuk bermain Pokemon Red.
Meskipun mengalami kemajuan, AI tersebut tampak “lambat berpikir.” Setelah lebih dari 366 jam, setara 15 hari nonstop, AI itu bahkan belum berhasil mencapai Victory Road, sebuah titik penting dalam permainan.
Di sisi lain, Google mengklaim bahwa model AI miliknya, Google Gemini, berhasil menamatkan Pokemon Blue. Namun, waktu yang dibutuhkan tetap mengundang decak heran: sekitar 800 jam permainan.
Eksperimen-eksperimen ini menunjukkan bahwa kecerdasan buatan, meskipun luar biasa dalam memahami dan memproduksi bahasa, masih memiliki keterbatasan besar.
Terutama dalam hal pemrosesan visual, konteks strategis, dan pengambilan keputusan dalam waktu nyata, hal-hal yang justru dikuasai anak-anak saat bermain game klasik.
Kesimpulannya, AI memang terus berkembang, tapi tantangan untuk bisa menyamai kecerdasan manusia dalam skenario dunia nyata masih panjang.
Jika konsol game 8-bit bisa mempermalukan teknologi AI paling mutakhir, maka jelas masih ada ruang besar untuk perbaikan di masa depan.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
