Ilustrasi teknologi AI dalam dunia penerbangan. (The Guardian)
JawaPos.com – Kendala pesawat terbang berupa awan kondesasi di belakang pesawat telah menjadi pemandangan umum yang ada di langit dan ditemui hampir di seluruh dunia sejak era awal pesawat jet.
Baca Juga: Profil Pengacara Kamaruddin Simanjuntak, Pemuda Siborongborong yang Viral saat Melawan Sambo
Meskipun demikian, sebuah uji coba baru dilakukan oleh Google dan American Airlines yang menunjukkan peristiwa awan kondensasi akan lebih langka ditemui. Hal ini juga dipercaya membantu mengurangi emisi karbon dari penerbangan.
Dilansir dari The Guardian, Jumat (11/8), pilot yang terbang menggunakan teknologi AI akan dapat memilih ketinggian penerbangan yang berbeda sehingga mampu mengurangi emisi sebesar 54 persen. Google juga menyampaikan bahwa uji coba ini adalah bukti bahwa penerbangan komersial dapat menghindari contrails (emisi karbon pesawat komersil) dan mengurangi dampak iklim.
Baca Juga: Jelang Menghadapi Persija Jakarta, Pelatih Madura United Tak Ingin Pemainnya Kurang Fokus Lagi
Contrails terbentuk saat butiran arang halus atau jelaga dari mesin pesawat yang membakar gumpalan minyak tanah bersama pertikel air di udara lembab, yang memungkinkan terbentuknya es.
Partikel tersebut menyerap dan terjebak oleh radiasi matahari, dan berkontribusi terhadap pemanasan global. Menurut data sektor penerbangan menyumbang sekitar 2.5 persen dari emisi karbon global dan meningkat menjadi 3.5 persen dari efek pemanasan global saat memperhitungkan jumlah polutan non-CO2.
Google melalui perusahaan induk Alphabet menjalin kerja sama dengan American Airlines untuk mencoba mengidentifikasi rute yang tidak menyebabkan contrails. Google akan menggabungkan model contrails yang dibuat oleh Breakthrough Energy dengan data citra satelit, cuaca, dan data jalur penerbangan. Hal ini memungkinkan untuk membuat peta prakiraan contrails.
Eksperimen ini menemukan bahwa penerbangan perlu membakar 2 persen lebih banyak bahan bakar untuk menghindari contrails. Akan tetapi, Google mengatakan peningkatan pembakaran bahan bakar dari semua penerbangan dapat dibatasi hingga 0.3 persen karena sebagian besar contrails disebabkan oleh sebagian kecil penerbangan.
Baca Juga: Jokowi Undang Khofifah Indar Parawansa ke Istana, Butuh 101 Ha untuk Islamic Science Park di Madura
The Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) sebelumnya menyatakan bahwa wilayah es sangat jenuh di mana contrails terbentuk cenderung hanya setinggi beberapa ratus meter. IPCC juga menerbitkan laporan bahwa penghindaran terhadap contrails dapat memakan waktu yang cukup lama, akan tetapi Google membuktikan bahwa teknologi tersebut dapat siap lebih awal sehingga lebih cepat untuk dapat digunakan.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
