
TENAGA SURYA: Lampu pembasmi hama karya Tim Elternator PENS yang menjadi juara pertama pada Engineering Education Fiesta di Busan, Korsel.
JawaPos.com SURABAYA – Kerja keras tim Politeknik Eletronika Negeri Surabaya (PENS) untuk unjuk kebolehan pada ajang Engineering Education Fiesta (EEF) di Busan, Korea Selatan (Korsel), membuahkan hasil.
Tim yang terdiri atas perwakilan mahasiswa mulai tingkat pertama sampai tujuh itu berhasil menyabet juara pertama dan kedua.
”Tim Elternator (Electric Leafhopper Exterminator, Red) berhasil menjadi juara pertama. Kami mendapatkan penghargaan gold medal,” ujar Ketua Tim Elternator, Ahmad Najih Fiddaraini, saat ditemui di sela Open Produk Mahasiswa pemenang lomba dan kompetisi di lantai 1 gedung pascasarjana terapan, Jalan Raya ITS, Keputih, Sukolilo, Kamis (26/11).
Dia menjelaskan, saat itu dirinya bersama tim yang beranggota delapan mahasiswa merancang karya yang berupa lampu pembasmi hama tanaman untuk produk pertanian.
Lampu yang energi pencahayaannya berasal dari matahari tersebut sudah dimodifikasi dengan memberikan pengaman yang berupa alat kejut yang bisa membunuh serangga atau hama.
”Tujuan alat ini adalah membantu petani membasmi hama. Sebab, selama ini petani selalu mengandalkan pestisida,” terang mahasiswa semester lima jurusan teknik elektronika itu.
Lampu pembasmi hama yang energinya berasal dari tenaga surya tersebut diklaim lebih hemat dari segi biaya maupun tenaga. Sebab, dengan membasmi hama memakai lampu, petani tidak perlu berkeliling sawah untuk melakukan penyemprotan.
”Dengan alat ini, hama seperti wereng akan mendekati lampu. Sebab, beberapa jenis hama memang senang sinar lampu,” terangnya.
Miftahul Anwar, anggota lainnya, menjelaskan bahwa untuk membuat lampu pembasmi hama, dibutuhkan biaya sekitar Rp 1,5 juta.
Kendati nominalnya besar di awal, petani tetap lebih untung daripada harus membeli pestisida.
”Dengan cara ini, cara-cara konvensional dalam membasmi hama tanaman bisa diubah. Ide ini muncul dari banyaknya keluhan petani yang selama ini kesulitan membasmi hama karena selalu membutuhkan biaya banyak,” terang Miftahul yang juga pencetus ide pembuatan lampu pembasmi hama tenaga surya.
Pada EEF 2015, karya Elternator berhasil menyisihkan 19 tim lain yang merupakan perwakilan dari berbagai negara, seperti RRT, Jepang, Korea, Malaysia, Singapura, Amerika Serikat, dan Portugal.
Karya mereka juga dinilai ramah lingkungan karena bisa mengurangi penggunaan pestisida. Selain lampu pembasmi hama, karya tim PENS berhasil meraih juara kedua pada EEF 2015 dengan robot coconut climber.
Tim yang digawangi Teguh Satria Wibowo itu berhasil mencuri perhatian dewan juri dengan karya robot pemetik kelapa.
”Kami sudah praktikkan di perkebunan di Blitar. Robot ini ternyata lebih cepat memetik kelapa daripada manusia,” kata Teguh Satrio Wibowo. (rud/jay/awa/jpg)

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
