Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 16 September 2025 | 05.01 WIB

AI Ubah Cara Dunia Menghadapi Duka: Kontroversi Foto, Suara, dan Avatar Digital Orang yang Telah Tiada dalam Sorotan Etika dan Privasi

Ilustrasi lilin sebagai simbol kenangan dan duka, mencerminkan kontroversi etika dan privasi penggunaan AI bagi orang yang telah tiada. (Reuters) - Image

Ilustrasi lilin sebagai simbol kenangan dan duka, mencerminkan kontroversi etika dan privasi penggunaan AI bagi orang yang telah tiada. (Reuters)

JawaPos.com — Kecerdasan buatan (AI) kini memasuki ranah paling personal dalam kehidupan manusia: bagaimana kita merasakan kehilangan. 

Dari kloning suara hingga avatar digital, teknologi ini menghadirkan cara baru untuk “menghidupkan kembali” kenangan orang terkasih yang telah tiada.

Hal ini tentu saja memicu perdebatan serius mengenai etika, privasi data, dan dampaknya terhadap proses berduka.

Kenangan Ayah yang Dihidupkan Kembali Lewat AI

Diego Felix Dos Santos, warga Edinburgh, Skotlandia, tak pernah menyangka bisa kembali mendengar suara ayahnya yang telah meninggal tahun lalu. Ia menggambarkan suaranya terdengar begitu nyata, seolah sang ayah masih ada di sisinya.

Untuk menghadirkan kembali momen tersebut, Dos Santos berlangganan layanan Eleven Labs, sebuah platform generator suara berbasis AI, dengan biaya USD 22 per bulan atau sekitar Rp 361.000 (kurs Rp 16.410 per dolar). 

Dengan mengunggah rekaman lama, ia dapat menciptakan pesan baru seolah ayahnya masih menelepon dan menyapanya seperti biasa.

Fenomena serupa ternyata juga muncul di Indonesia, meski dalam bentuk berbeda. Di platform media sosial X (sebelumnya Twitter), sejumlah pengguna membagikan pengalaman menggunakan AI untuk menciptakan kembali foto bersama orang terkasih yang telah tiada.

Salah satunya akun @reuseane, yang mengunggah potret dirinya bersama ayah dalam dua versi: ketika muda dan ketika sudah tua. Dalam unggahannya ia menulis, “Tren AI ini benar-benar bikin terharu. Bagaimana mungkin saya bisa berfoto dengan ayah dalam dua versi? Saat muda dan saat tua. Saya rindu, Ayah. Al-Fatihah.” Hingga Senin (15/9), postingan tersebut telah ditonton lebih dari 3 juta kali, menunjukkan betapa luas sekaligus kontroversialnya daya tarik teknologi AI dalam konteks duka.

Unggahan itu segera memicu perdebatan panjang menyangkut privasi, etika, serta potensi bahaya penggunaan AI dalam ranah personal. Sebagian warganet khawatir teknologi ini dapat mengaburkan batas antara kenyataan dan rekayasa digital, bahkan berisiko menimbulkan ketergantungan emosional yang tidak sehat.

Salah satunya akun @banyuonfire, yang menulis: “Turut berduka cita, Al-Fatihah. Tapi kita sudah sering melihat peringatan lewat serial seperti Black Mirror. Teknologi seharusnya tidak ikut campur dalam memori kita tentang orang yang sudah tiada. Jika terlalu jauh, teknologi justru bisa menciptakan ingatan palsu dan mengaburkan mana yang nyata dan mana yang tidak.”

Namun, ada pula yang menanggapinya dengan simpati. Bagi sebagian warganet, teknologi ini dipandang sebagai sarana berbagi duka dan mengenang kembali orang tercinta, bahkan dianggap bisa menghadirkan kembali kedekatan emosional yang sempat hilang.

Akun @pristantis menuliskan: “Saya memahami kekhawatiran itu, tapi duka adalah sesuatu yang sangat personal. Ketika kehilangan seseorang, bahkan satu foto yang diedit bisa sangat berarti—apalagi jika tidak banyak kenangan yang sempat diabadikan bersama.”

Grief Tech, Industri Duka yang Berkembang Pesat Secara Global 

Menurut laporan Reuters, pengalaman Dos Santos mencerminkan tren yang makin meluas: penggunaan “grief tech” atau teknologi duka. 

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore