
Ilustrasi lilin sebagai simbol kenangan dan duka, mencerminkan kontroversi etika dan privasi penggunaan AI bagi orang yang telah tiada. (Reuters)
JawaPos.com — Kecerdasan buatan (AI) kini memasuki ranah paling personal dalam kehidupan manusia: bagaimana kita merasakan kehilangan.
Dari kloning suara hingga avatar digital, teknologi ini menghadirkan cara baru untuk “menghidupkan kembali” kenangan orang terkasih yang telah tiada.
Hal ini tentu saja memicu perdebatan serius mengenai etika, privasi data, dan dampaknya terhadap proses berduka.
Kenangan Ayah yang Dihidupkan Kembali Lewat AI
Diego Felix Dos Santos, warga Edinburgh, Skotlandia, tak pernah menyangka bisa kembali mendengar suara ayahnya yang telah meninggal tahun lalu. Ia menggambarkan suaranya terdengar begitu nyata, seolah sang ayah masih ada di sisinya.
Untuk menghadirkan kembali momen tersebut, Dos Santos berlangganan layanan Eleven Labs, sebuah platform generator suara berbasis AI, dengan biaya USD 22 per bulan atau sekitar Rp 361.000 (kurs Rp 16.410 per dolar).
Dengan mengunggah rekaman lama, ia dapat menciptakan pesan baru seolah ayahnya masih menelepon dan menyapanya seperti biasa.
Fenomena serupa ternyata juga muncul di Indonesia, meski dalam bentuk berbeda. Di platform media sosial X (sebelumnya Twitter), sejumlah pengguna membagikan pengalaman menggunakan AI untuk menciptakan kembali foto bersama orang terkasih yang telah tiada.
Salah satunya akun @reuseane, yang mengunggah potret dirinya bersama ayah dalam dua versi: ketika muda dan ketika sudah tua. Dalam unggahannya ia menulis, “Tren AI ini benar-benar bikin terharu. Bagaimana mungkin saya bisa berfoto dengan ayah dalam dua versi? Saat muda dan saat tua. Saya rindu, Ayah. Al-Fatihah.” Hingga Senin (15/9), postingan tersebut telah ditonton lebih dari 3 juta kali, menunjukkan betapa luas sekaligus kontroversialnya daya tarik teknologi AI dalam konteks duka.
Unggahan itu segera memicu perdebatan panjang menyangkut privasi, etika, serta potensi bahaya penggunaan AI dalam ranah personal. Sebagian warganet khawatir teknologi ini dapat mengaburkan batas antara kenyataan dan rekayasa digital, bahkan berisiko menimbulkan ketergantungan emosional yang tidak sehat.
Salah satunya akun @banyuonfire, yang menulis: “Turut berduka cita, Al-Fatihah. Tapi kita sudah sering melihat peringatan lewat serial seperti Black Mirror. Teknologi seharusnya tidak ikut campur dalam memori kita tentang orang yang sudah tiada. Jika terlalu jauh, teknologi justru bisa menciptakan ingatan palsu dan mengaburkan mana yang nyata dan mana yang tidak.”
Namun, ada pula yang menanggapinya dengan simpati. Bagi sebagian warganet, teknologi ini dipandang sebagai sarana berbagi duka dan mengenang kembali orang tercinta, bahkan dianggap bisa menghadirkan kembali kedekatan emosional yang sempat hilang.
Akun @pristantis menuliskan: “Saya memahami kekhawatiran itu, tapi duka adalah sesuatu yang sangat personal. Ketika kehilangan seseorang, bahkan satu foto yang diedit bisa sangat berarti—apalagi jika tidak banyak kenangan yang sempat diabadikan bersama.”
Grief Tech, Industri Duka yang Berkembang Pesat Secara Global
Menurut laporan Reuters, pengalaman Dos Santos mencerminkan tren yang makin meluas: penggunaan “grief tech” atau teknologi duka.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
