Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 Mei 2025 | 08.22 WIB

10 Alasan Mengapa AI Tidak Akan Pernah Menggantikan Film Asli Studio Ghibli

Hayao Miyazaki, sosok di balik keajaiban Studi Ghibli (Dok. CBR) - Image

Hayao Miyazaki, sosok di balik keajaiban Studi Ghibli (Dok. CBR)

JawaPos.com - Bulan lalu, media sosial diramaikan oleh tren mengubah foto menjadi gambar bergaya film Studio Ghibli menggunakan kecerdasan buatan (AI). Hasilnya memang mencengangkan, detail-detailnya sangat menyerupai karya Ghibli. Namun, meskipun AI mampu meniru estetika itu, ada perdebatan besar yang muncul: bisakah AI benar-benar menangkap jiwa dan makna mendalam yang menjadi ciri khas film-film Studio Ghibli?

Mengutip CBR.com, belakangan ini, sebuah klip yang menampilkan Hayao Miyazaki dengan jelas menunjukkan rasa jijiknya terhadap gambar buatan AI menjadi viral, bersamaan dengan tren membuat "karya seni" ala Ghibli versi AI. Putra Miyazaki bahkan ikut angkat suara baru-baru ini menyampaikan ketidaksukaannya.

Ada banyak tempat di mana AI bisa digunakan, seperti di layanan pelanggan atau dalam membantu efisiensi penulisan kode program komputer. Namun, sangat jelas bahwa AI tidak memiliki tempat dalam dunia seni, dan tidak akan pernah bisa menggantikan karya-karya Studio Ghibli.

Maka dari itu, berikut 10 alasan mengapa AI tidak akan pernah menggantikan film asli Studio Ghibli:

1. AI Memiliki Keterbatasan yang Tidak Dimiliki Manusia

Memang AI sudah membuktikan bahwa hal tersebut adalah alat yang sangat berguna. Namun, alat hanyalah alat. Sebuah alat hanya akan sebaik penggunanya, tidak peduli seberapa canggihnya.

Seperti biola terbaik di dunia tapi tidak tahu cara memainkannya, hasilnya tetaplah tidak indah. Gambar-gambar bergaya Ghibli buatan AI terlihat hampa, tanpa emosi dan jiwa, karena hanya meniru warna dan gaya, bukan menciptakan dari makna.

2. AI Tidak Bisa Memahami Kompleksitas Kondisi Manusia

Kebanyakan film Ghibli berhubungan dengan aspek-aspek manusia seperti tumbuh dewasa, jatuh cinta, kehilangan kepolosan, dan lain-lain. Meskipun bisa meniru bentuk luar emosi, AI tidak benar-benar memahami pengalaman menjadi manusia. AI hanya bisa menghasilkan versi tiruan yang membuat filmnya kehilangan makna sejati.

3. Karya Miyazaki Terinspirasi dari Pengalaman Pribadi

Banyak karya Miyazaki lahir dari pengalaman dan perasaannya sendiri, termasuk trauma yang ia alami pasca Perang Dunia II. Emosi dan keindahan dalam film Ghibli berasal dari pemahaman yang mendalam terhadap kejadian-kejadian yang dialami orangnya langsung, sehingga AI yang tidak memiliki pengalaman apa pun, hanya bisa meniru bentuknya saja, bukan esensinya.

4. Kreativitas AI Hanya Sebatas Data Pelatihannya

Gambar atau video yang muncul dari AI berasal dari dataset yang sudah ada. Maka dari itu, AI sebenarnya tidak benar-benar menciptakan hal baru, hanya menggabungkan beberapa informasi-informasi lama yang sudah dia dapatkan menjadi satu. Hasil akhirnya adalah campuran karya orang lain, bukan sesuatu yang orisinal. Hal ini bertolak belakang dengan kreativitas unik Ghibli.

5. Gaya Visual Ghibli Sangat Abstrak dan Simbolis

Film Ghibli ahli dalam menunjukkan kepada penonton, bukan menceritakan. Banyak film mereka memiliki abstraksi yang membuat interpretasi penonton terhadap film tersebut berbeda-beda. AI pastinya akan sulit memproses dan menciptakan hal-hal abstrak karena hanya beroperasi dalam logika formal. Pemikiran abstrak adalah salah satu hal yang membedakan manusia dan hewan secara umum, dan komputer belum sampai sana. Hal ini menyebabkan adanya keterbatasan pada seberapa baik komputer dapat menciptakan karya Ghibli-nya sendiri.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore