
Ilustrasi Deepseek. (Globaltimes)
JawaPos.com – Kemunculan perusahaan rintisan AI asal Tiongkok, DeepSeek, menimbulkan pertanyaan mengenai kelayakan pusat data di seluruh Asia Tenggara.
Sebab, raksasa teknologi yang mapan akan bergulat dengan tantangan pendatang baru yang lebih murah dan sangat berbeda dari mereka yang mengeluarkan miliaran dolar untuk pengembangan.
Saham teknologi AS jatuh pada hari Senin (27/1), setelah DeepSeek merilis chatbot AI gratis yang diklaimnya menggunakan lebih sedikit data dan dikembangkan hanya dengan biaya USD 6 juta.
Tentu angka tersebut hanya sebagian kecil dari apa yang telah dihabiskan oleh raksasa Silicon Valley seperti Microsoft untuk mengembangkan versi pesaing mereka.
Seperti dilansir dari South China Morning Post, saham Nvidia adalah yang paling terpukul. Karena investor khawatir dengan perbedaan biaya pengembangan antara DeepSeek dan pesaing terbesarnya, OpenAI yang didukung Microsoft dan Gemini milik Google.
Dengan ini, DeepSeek telah mempertanyakan taruhan besar yang dibuat oleh negara-negara Asia Tenggara pada investasi pusat data yang menguntungkan, meskipun membutuhkan banyak sumber daya.
“Masih terlalu dini untuk mengatakan bagaimana DeepSeek akan mengubah seluruh ekosistem, tetapi apa yang telah dilakukannya adalah memaksa investor untuk memikirkan kembali investasi mereka dalam AI. Kita dapat mengharapkan lebih banyak kompetisi dan gangguan serupa di masa mendatang,” kata Adib Zalkapli, direktur pelaksana Viewfinder Global Affairs.
Industri pusat data yang menyediakan penyimpanan untuk e-commerce hingga komputasi lautan informasi yang dibutuhkan untuk melatih model AI, telah berkembang pesat di Asia Tenggara.
Perusahaan seperti Nvidia, Microsoft, dan perusahaan induk Google seperti Alphabet, bersama dengan raksasa teknologi Tiongkok seperti ByteDance, pemilik TikTok telah berinvestasi secara signifikan di wilayah tersebut.
Malaysia berada di garis depan ledakan regional, menurut firma penasihat real estat Knight Frank. Negara ini merupakan tujuan utama untuk tahun kedua berturut-turut pada 2024 dengan investasi pusat data senilai 141,7 miliar ringgit (Rp 522 triliun).
Namun, perombakan model AI oleh perusahaan besar agar sesuai dengan klaim biaya rendah, DeepSeek berpotensi mengurangi permintaan chip canggih, perluasan pembangkit listrik, dan pusat data berskala besar. Pada gilirannya, ini dapat mengurangi nilai investasi teknologi di Asia Tenggara.
Negara-negara seperti Malaysia yang telah memasuki industri pusat data harus mempertimbangkan cara mereka menangani gangguan berdasarkan tujuan spesifik mereka.
"Jika tujuan Malaysia adalah menjadi pusat AI, yang berarti negara tersebut memiliki daya komputasi dan kemampuan bakat, maka mungkin masih ada kebutuhan untuk pusat data guna melatih AI dalam klaster chip yang dikemas dan sesuai untuk daya komputasi," kata Farlina Said, analis senior di Institute of Strategic and International Studies Malaysia kepada This Week in Asia.
"Investasi pusat data haruslah tepat sasaran, terutama jika program tersebut sedang dalam proses pelaksanaan,” tutup dia.

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Timnas Qatar vs Swiss di Piala Dunia 2026: The Maroons Terancam Gagal Start Sempurna
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Pembuktian Magis Christian Pulisic
Daftar Pemain Swedia dan Tunisia di Piala Dunia 2026
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Maroko: Vinicius Junior dan Achraf Hakimi Siap Saling Sikut di Piala Dunia
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Prediksi Skor Jerman vs Curacao di Piala Dunia 2026: Der Panzer Siap Menggila di Laga Perdana
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
