Ketua Panitia PIFKI IV dan HUT Ke-6 LAFKI, Cashtry Meher. (Istimewa)
JawaPos.com - Transformasi kesehatan di Indonesia dinilai perlu dilakukan secara serius. Sehingga tidak sebatas terjadi di atas kertas, melainkan harus dirasakan langsung oleh masyarakat yang membutuhkan.
Fokus ini yang menjadi pembahasan dalam Pertemuan Ilmiah Fasilitas Kesehatan Indonesia (PIFKI) IV yang dirangkaikan dengan Hari Ulang Tahun ke-6 Lembaga Akreditasi Fasilitas Kesehatan Indonesia (LAFKI) di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (13/6).
Ketua Panitia PIFKI IV dan HUT Ke-6 LAFKI, Cashtry Meher mengatakan, mutu pelayanan dan aspek kemanusiaan harus menjadi dasar dalam transformasi kesehatan. Transformasi kesehatan tidak hanya sebatas mempercepat perubahan, melainkan memastikan manfaat perubahan tersebut benar-benar dirasakan masyarakat.
"Tantangan terbesarnya bukan bagaimana berubah lebih cepat, tetapi bagaimana memastikan masyarakat benar-benar merasakan manfaat dari perubahan itu. Transformasi yang tidak dirasakan pasien hanya akan menjadi perubahan di atas kertas," ujar Cashtry.
Banyak kebijakan atau teknologi yang dimiliki tidak bisa menjadi acuan tunggal dalam menentukan keberhasilan transformasi kesehatan. Kualitas pelayanan yang diterima masyarakat juga menyumbang besar dalam memenuhi kategori keberhasilan.
Cashtry juga mengingatkan bahwa di tengah perkembangan AI dan digitalisasi layanan kesehatan, aspek empati tetap menjadi elemen yang tidak tergantikan.
"AI bisa membantu mengambil keputusan lebih cepat, tetapi sampai hari ini belum ada teknologi yang mampu menggantikan empati. Pasien datang bukan hanya membawa data, tetapi juga membawa kecemasan, harapan, dan kepercayaan. Masyarakat tidak menuntut pelayanan yang sempurna, tetapi ingin merasa aman, didengar, dan yakin bahwa mereka berada di tangan yang tepat," jelasnya.
Sementara itu, Ketua Umun LAFKI, Benny H. Tumbelaka mengatakan, memasuki usia ke-6 tahun, organisasi akan terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis dalam mendorong peningkatan kualitas pelayanan kesehatan nasional.
"Enam tahun adalah fondasi yang penting. Ke depan, LAFKI ingin memastikan budaya mutu tidak hanya hadir saat proses akreditasi berlangsung, tetapi menjadi bagian dari pelayanan sehari-hari. Mutu harus menjadi budaya kerja, bukan sekadar dokumen penilaian," ujarnya.