Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 13 September 2024 | 15.27 WIB

Teknologi AI Bisa Digunakan untuk Mitigasi Kebencanaan, Begini Kata Para Pakar

Diskusi GSFR membahas seputar mitigasi kebencanaan di ADEXCO 2024, Kamis (12/9). (RianAlfianto/JawaPos.com). - Image

Diskusi GSFR membahas seputar mitigasi kebencanaan di ADEXCO 2024, Kamis (12/9). (RianAlfianto/JawaPos.com).

JawaPos.com - Beberapa perwakilan dari negara ASEAN dan BNPB bertemu di  Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR) di Jakarta, Kamis (12/9). Dalam diskusi tersebut, para pakar membahas topik tentang bagaimana cara memperkuat kesiapsiagaan bencana melalui ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi.

Mengambil latar rangkaian Asia Disaster Management and Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO) 2024 di JIExpo Kemayoran, Kamis (12/9), kedua sesi ini berusaha memberikan solusi inovasi teknologi terbaik pada sektor manajemen kebencanaan dan perlindungan sipil.

Hammam Riza, President KORIKA, Collaborative Research and Industrial Innovation in Artificial Intelligence (AI) menekankan perlunya pendekatan terintegrasi dalam menangani masalah pencegahan bencana.

Data juga memainkan peranan dalam penerapan teknologi, seperti yang disampaikan oleh Erik Kjaergaard dari Swiss Agency for Development & Cooperation (SDC). Dalam paparannya, Erik menekankan bahwa digitalisasi memiliki peran krusial dalam strategi kerjasama internasional. 

Kemajuan teknologi digital memungkinkan analisis data yang komprehensif sehingga mampu meningkatkan pengambilan keputusan dan perencanaan strategis.

Dalam konteks kemajuan teknologi yang pesat, Nuraini Rahma Hanifa, dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga menekankan pentingnya pengembangan kapasitas sumber daya manusia untuk memastikan bahwa inovasi teknologi dapat diimplementasikan dengan optima dan dimanfaatkan secara efektif. 

"Untuk mendukung pengembangan kapasitas ini, terdapat banyak organisasi yang menyediakan pendanaan untuk penelitian dan startup yang bertujuan memperkuat kemampuan sumber daya manusia dalam menghadapi dan mengelola bencana," ucap Nuraini.

GFSR kemudian dilanjutkan pada sesi kelima dengan pemaparan studi kasus mengenai Membangun Infrastruktur yang Tangguh (Building Resilient Infrastructure). Mengingat Indonesia terletak di wilayah rawan bencana, penting untuk mempersiapkan infrastruktur bahkan industrialisasi teknologi kebencanaan agar mampu menghadapi kemungkinan bencana, termasuk megathrust. 

Salah satu cara untuk meningkatkan resiliensi terhadap dampak bencana adalah dengan membangun infrastruktur yang tahan bencana. 

Direktur Pengembangan Bisnis Global di Dyntek Pte Ltd, Maxim Peshkov, di sesi ini menekankan pentingnya perkembangan teknologi konstruksi untuk menunjang perkembangan mitigasi bencana. Teknologi yang ditawarkan terkait pengembangan material konstruksi yang ringan, kuat, dan lebih mudah digunakan dibandingkan material konstruksi tradisional. 

Material ini disebut merupakan alternatif yang inovatif dalam pembangunan berkelanjutan. Sementara itu, Lutfi Faizal dari Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, menjelaskan bahwa korban jiwa saat bencana sering kali disebabkan oleh kerusakan bangunan atau infrastruktur, bukan oleh bencana itu sendiri. 

"Keruntuhan bangunan atau infrastruktur umumnya disebabkan oleh ketidaksesuaian terhadap standar desain dan konstruksi tahan gempa saat proses pembangunan. Oleh karena itu, penting untuk mengubah mindset agar kita dapat membangun dengan lebih baik dan lebih aman," tegasnya.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore