
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Jangan salahkan seorang menteri bila beliau salahkan warga dalam cerita rakyat berjudul Minyak Goreng Tak Pernah Ingkar Janji.
---
RAKYAT panik. Mereka tak lagi beli secukupnya. Lebih-lebih Lebaran sebentar lagi. Mereka timbunlah minyak goreng. Akibatnya, ya, antrean bahan kebutuhan pokok ini tetap memanjang.
Jangan latah menyalahkan menteri tersebut. Justru inilah pertanda kemesraan hubungan pemimpin dan kawulanya.
Ibarat mesranya hubungan suami istri. Dia sendiri yang salah, sendirinya pula yang menyalahkan pasangannya. Demikianlah romantisme rumah tangga dari masa ke masa.
Istri marah-marah mencari kantong minyak goreng yang sedang dipeluknya. Dituduhnya sang suami sebagai pihak yang kebablasan dalam beres-beres rumah sampai minyak goreng pun dipindahkan entah di mana. Mungkin diumpetin di brankas? Suami balik marah, ”Lha, itu minyaknya sedang kamu peluk, Dik!” Istri tak minta maaf malah kian marah, ”Kenapa tidak dari tadi ngomong kalau minyak gorengnya kudekap di dadaku!!!??”
Lantas, rakyat menimbun seperti tuding sang menteri?
Ah, apa pula salah beliau? Toh belum ada tolok ukur jumlah dalam menimbun. Tak ada definisi bahwa menimbun itu ukurannya kalau jumlah yang dihimpun sudah lebih dari sekian ton. Menumpuk sekadar tiga kantong minyak goreng, padahal kebutuhannya cuma dua kantong, bisa saja sudah sah disebut menimbun. Masa jabatan kepresidenan tiga periode juga sah-sah saja dibilang sebagai timbunan periode kepresidenan. Toh, menurut konstitusi, patokannya cuma sebatas dua periode?
***
Selain pemimpin sudah bagus laksana hubungan suami istri, mesra dengan rakyatnya, ada yang perlu diperbaiki. Yaitu, kesadaran bahwa tak perlu punya otak bagai Einstein untuk mengerti kenapa minyak goreng tetap langka. Seorang tokoh Madura yang kini menjabat lembaga penting di Jakarta bilang, minyak goreng langka kalau tidak karena produsen tak lagi memproduksi, ya, karena bahan bakunya dijual ke luar negeri, atau, ya, karena ada orang tajir yang menimbun, bukan rakyat biasa.
”Tak perlu keliling pasar untuk membuktikannya,” tambahnya. ”Negeri ini sudah mempunyai instrumen yang lengkap untuk mencegah itu semua.”
”Mungkin karena instrumen itu walau lengkap bukan organ tunggal,” celetuk Jendro, istri Sastro. ”Lengkap instrumennya, tapi pemainnya kebanyakan. Piye?”
Sastro tidak bisa menjawab. Pikirannya masih dipenuhi peristiwa semalam saat rumah tetangganya disewa buat syuting film. Sastro iseng-iseng mengintip.
Syuting suatu adegan diulang-ulang. Adegan ini tentang periode seekor burung prenjak di dalam sangkar emas. Burung prenjak maunya cuma dua periode. Pemiaranya, seorang crazy rich yang luput dari jerat hukum, kekeh usulkan tiga periode. Burung prenjak mencak-mencak. Burung prenjak bilang, para pengusul tiga periodenya kalau nggak karena ingin menamparnya, ya, karena ingin cari muka, atau, ya, justru karena malah mau menjerumuskannya.
Syuting diulang-ulang karena selalu saja ada kru yang batuk-batuk setelah asisten sutradara beraba-aba ”Action!”. Batuknya macem-macem. Ada yang kering. Ada yang basah. Yang nyemek-nyemek ada pula. Rekaman audio film terganggu. Aktor pemiara prenjak tampak kesal lantaran lama-lama kehabisan penghayatan, emosi, dan energi.
Prenjak bisa memahami bila lawan mainnya kesal walau unggas ini sendiri tak kesal. Buat apa mengesali pengulangan-pengulangan rekaman sandiwara untuk layar lebar. Bagi prenjak, toh hidup ini sendiri adalah panggung sandiwara. Selalu berulang dan berulang. Ada kampanye. Ada janji-janji. Ada pengingkaran. Ada kampanye lagi. Ada janji-janji lagi. Ada pengingkaran lagi. Terus berulang begitu, mau ada rakyat yang batuk atau tidak.
***
Siapa yang bisa melarang orang batuk? Mencegah bisa. Cukup istirahat. Hindari mbadog penganan bergetah banyak. Nangka… Petai… Tapi saat kru film tenggorokannya seperti digerayangi ulat bulu, siapa bisa melarangnya ”uhuk uhuk”?
Yang bisa dilarang cuma cara batuk. Ini lumrah terjadi. Ke mana-mana maskeran. Sok taat Pak Luhut. Giliran batuk maskernya malah disingkap. Duh! Ini berbahaya buat kiri-kanan. Mestinya oknum itu tetap batuk di dalam masker. Nikmati sendiri lendir dan dahaknya.
Begitu pun Sastro-Jendro tak bisa melarang orang marah-marah atas usulan tanduk masa kepresidenan. Cara mereka marah. Itu saja yang perlu diatur. Cara marah sutradara film sudah benar. Dia merusak fasilitas ini-itu. Kadang sendirinya malah ikutan batuk.
Sastro terkenang-kenang syuting penuh batuk itu juga karena terkesan pada pemeran pemiara prenjak. Aktingnya bagus, sampai tidak kentara maksud tersembunyinya mengusulkan prenjak tiga periode, yaitu demi pundi-pundinya sendiri. Kekayaannya makin bertimbun-timbun berkat memiara si prenjak.
Prenjak sendiri yang tadinya bersikeras tak akan nangkring di sangkar emasnya lebih dari dua periode mulai tak batu karang lagi sikapnya. Sudah melembek bagai apem. Setiap kali ditanya soal sensitif ini prenjak cuma menjawab ”Uraaaaa…. Uraaaaa…. Uraaaaa….” persis para prajurit Rusia saat bersiaga atas titah perang pemimpin mereka, Putin.
”Njak, Njak. Kamu mau perpanjangan periode sangkar emas?”
”Uraaaaa….”
”Ura apa ora…?”
Cut! Kru film batuk-batuk gegara lebih dari dua periode makan gorengan. (*)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
