Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 20 Agustus 2020 | 23.16 WIB

Polemik Batu Bara di Gresik: Sudah Sepakat Tutup, Ada Negosiasi Lagi

SUDAH BULAT: Warga Kemuteran, Gresik, memasang spanduk penolakan bongkat muat batu bara di dermaga PT GJT. Mereka menuntut aktivitas itu direlokasi ke Pelabuhan Internasional JIIPE di Manyar. (Galih Wicaksono/Jawa Pos) - Image

SUDAH BULAT: Warga Kemuteran, Gresik, memasang spanduk penolakan bongkat muat batu bara di dermaga PT GJT. Mereka menuntut aktivitas itu direlokasi ke Pelabuhan Internasional JIIPE di Manyar. (Galih Wicaksono/Jawa Pos)

JawaPos.com – Dalam rapat bersama di DPRD Gresik Selasa lalu (18/8), telah disepakati aktivitas bongkar muat batu bara di dermaga PT Gresik Jasa Tama (GJT) harus tutup. Ribuan warga dari sejumlah kelurahan pun mengucap syukur. Mereka tidak lagi hidup dalam bayang-bayang polusi dan ancaman gangguan kesehatan dampak debu batu bara.

Namun, belakangan terungkap, pada Selasa sore atau beberapa jam setelah keputusan diambil, Ketua DPRD Gresik Fandi Akhmad Yani dan Wakil Ketua Komisi I DPRD Gresik Syaichu Busyiri mendatangi rumah warga di Kelurahan Kemuteran. Dua anggota Fraksi PKB itu mengadakan pertemuan dengan sejumlah warga. Kabarnya, Yani dan Syaichu melakukan negosiasi kepada warga. Ada dua kapal tongkang yang telanjur sandar di pelabuhan. Nah, warga diharapkan memberi izin tongkang itu untuk membongkar batu bara tersebut.

Betulkah? Syaichu ketika dikonfirmasi tidak menampik adanya kabar tersebut. ”Ya, Gus Yani melakukan mediasi bersama aparat kepada warga. Tapi, warga tetap menolak,” ucapnya. Warga, lanjut dia, meminta agar pihak GJT yang datang dan meminta izin langsung kepada warga untuk membongkar batu bara tersebut.


Dihubungi secara terpisah, Yani mengakui datang ke Kemuteran pada Selasa sore. Dia menyatakan, setelah rapat bersama, dirinya diminta Kapolres Gresik AKBP Arief Fitrianto untuk melakukan negosiasi terkait dua kapal tongkang bermuatan batu bara yang telanjur sandar di dermaga GJT. Pihak perusahaan meminta keringanan agar bisa dibongkar.

”Karena Kapolres merasa tidak enak untuk melakukan negosiasi sehingga minta tolong,” paparnya.

Setelah gagal pada Selasa sore, kemarin sore (19/8) pihak GJT melalui aparat kembali melobi warga. Ada dua polisi yang datang ke rumah Munir, salah seorang warga. Karena polemik aktivitas bongkar muat batu bara menjadi persoalan bersama, akhirnya Munir mengundang warga lain. ”Sama. Mereka meminta izin bongkar muat. Tapi, warga tetap menolak,” ujarnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=ASz-pJztLWo

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore