Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 20 Agustus 2020 | 23.48 WIB

Kualitas dan Kuantitas Sembako BPNT Gresik Lebih Baik

TETAP PAKETAN: Tim dari Dinas Sosial Pemkab Gresik didampingi koordinator daerah melaksanakan inspeksi penyaluran BPNT di salah satu agen di Desa Banjarsari, Cerme, Rabu (19/8). (Ludry Prayoga/Jawa Pos) - Image

TETAP PAKETAN: Tim dari Dinas Sosial Pemkab Gresik didampingi koordinator daerah melaksanakan inspeksi penyaluran BPNT di salah satu agen di Desa Banjarsari, Cerme, Rabu (19/8). (Ludry Prayoga/Jawa Pos)

JawaPos.com − Bantuan pangan nontunai (BPNT) di masa pandemi Covid-19 jatah Agustus akhirnya mulai bergulir Rabu (19/8). Namun, mekanisme distribusinya masih menyimpang dari pedoman umum (pedum) dan Peraturan Menteri Sosial (Permensos) 20/2019 tentang BPNT. Salah satunya, sembako tetap diberikan kepada para keluarga penerima manfaat (KPM) dalam bentuk paketan.

Padahal, penyaluran sebelumnya mendapat sorotan dan atensi dari banyak kalangan. Termasuk dari aparat penegak hukum. Sesuai pedum, bahan pangan dilarang dalam bentuk paketan. Seharusnya, para KPM tinggal membawa ATM atau kartu keluarga sejahtera (KKS) kepada agen atau e-warong. Lalu, berbelanja sembako sesuai kebutuhan dengan menggesekkan KKS ke mesin EDC yang tersedia di e-warong.

Praktik distribusi BPNT tetap paketan tersebut ditemukan di beberapa wilayah kecamatan. Antara lain, di salah satu agen di Dusun Betiring, Cerme. Bahkan, saat awak media mendatangi proses penyaluran sembako itu, ada oknum yang melakukan intimidasi verbal. Oknum tersebut bernama Neerwanshah, staf kesra Kecamatan Cerme. Dia langsung mengeluarkan ponsel pribadinya. Laki-laki yang berseragam satpol PP itu merekam wajah-wajah awak media yang datang dan meminta namanya satu per satu.

Setelah itu, Neerwanshah mengarahkan ponselnya ke antrean para KPM yang hendak mengambil paketan sembako. Dia melontarkan pertanyaan kepada warga tersebut. ”Komoditasnya bagus apa jelek?” katanya. Pertanyaan itu dilontarkan berkali-kali meski sudah dijawab bagus oleh para KPM.

Penyaluran BPNT bertempat di agen Toko Putra Rafa. Agen tersebut membawahkan 235 KPM yang tersebar di dua dusun. Para penerima sembako itu didominasi ibu-ibu. Komoditas yang diterima berupa 15 kg beras, 10 butir telor, 500 gram kentang, 250 gram kacang hijau, serta 3 buah nanas berukuran sedang. Di agen tersebut juga ada timbangan untuk memastikan kuantitas bantuan. Kalau dikalkulasi, total harga komoditas sembako diperkirakan senilai Rp 200 ribu per paket. Artinya, sesuai dengan nominal BPNT yang diberikan Kemensos melalui bank penyalur.

Sementara itu, kemarin tim Dinas Sosial (Dinsos) Pemkab Gresik juga turun ke bawah untuk memastikan proses distribusi BPNT. Rombongan tersebut langsung dipimpin Kepala Dinsos Sentot Supriyohadi. Salah satunya di Dusun Betiring RT 5, RW 6, Desa Banjarsari, Cerme. Mereka tiba sekitar pukul 10.00. Saat rombongan tiba, tidak banyak KPM yang mengambil di jam tersebut. Hanya ada seorang yang mengambil paketan BPNT itu dengan menggunakan sepeda pancal.

Dalam kesempatan tersebut, Sentot menyatakan, pihaknya belum bisa memastikan kapan penyaluran BPNT sesuai pedum dengan komoditas tidak dikemas atau paketan. Dia menyebut masih berproses sesuai pedum. Jumlah agen yang ada masih kurang dan perlu dievaluasi. Saat ini jumlah agen 227 unit. Jumlah KPM se-Kabupaten Gresik 92.529 orang. Yang jelas, kualitas komoditas sudah baik. ’’Kami terus mendesak agar sesuai pedum,’’ terangnya.

Penyaluran BPNT di wilayah Kecamatan Ujungpangkah juga tetap berbentuk paket atau menyimpang dari pedum. SN, salah seorang KPM, mengaku komoditas yang diterima masih sama dengan bulan-bulan sebelumnya. Kemarin SN mengambil komiditas sembako itu di rumah agen. Tapi, agen tersebut tidak punya warung. Hanya rumah biasa dan berstatus agen penyalur BPNT.

Dalam penyaluran bulan ini, SN menerima 10 kg beras, 10 butir telur, setengah plastik kacang tanah, bawang putih, dan tiga buah apel. Berapa estimasi harga lima bahan pangan itu di pasaran? SN yang mengaku sering belanja di pasar memperkirakan ada selisih harga Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu dari nilai normal BPNT sebesar Rp 200 ribu. ”Kami sudah tahu, BPNT dalam sorotan. Tapi, kok tidak ada perubahan? Padahal, para KPM berharap adanya perbaikan dan mendapat sesuai haknya,” ujarnya.


Agen Cuma Tahu Dapat Kiriman dari Supplier







Penyaluran BPNT dengan sistem paketan juga tidak diketahui para agen atau e-warong. Mereka rata-rata hanya mendapatkan barang dari supplier. Para supplier itu memiliki ’’wilayah kekuasaan’’ di beberapa desa tertentu dengan agen-agen yang sudah ditetapkan.

Agen penyalur BPNT di wilayah Kecamatan Cerme bernama Fida Ihsan misalnya. Dia melayani 235 keluarga penerima manfaat (KPM). Dia menyebutkan, sebenarnya sesuai data desa, ada 291 KPM. Namun, beberapa di antaranya terkendala sehingga tidak bisa lagi mengakses bantuan. Mulai kasus kartu bersaldo nol, kartu rusak, hingga berpindah tempat.

”Macam-macam masalahnya. Ada yang malas mengurus. Tapi, ada juga beberapa yang masih proses perbaikan,” ungkapnya.

Soal sistem sembako yang sudah dikemas dalam paketan, pihaknya mengaku tidak tahu-menahu. Fida pun tidak pernah pesan barang. Setiap bulan hanya didrop oleh supplier. Biasanya, pengedropan itu dilakukan sehari sebelum proses penyaluran. Yang jelas, jumlah paket yang dikirim sesuai jumlah KPM. ”Juga diberi lebih, biasanya 5−6 paket. Njagani kalau ada yang belum mencairkan bantuan pada bulan sebelumnya,” ujarnya.

Setelah semua KPM selesai mendapat bantuan, sisa lebih tersebut akan dikembalikan lagi kepada supplier bersangkutan. Biasanya, 2−3 hari pasca pencairan dilakukan. ”Saya sendiri belum pernah bertemu langsung dengan supplier-nya. Jadi, tinggal menyalurkan sesuai data dari desa,” tuturnya.

Fida menceritakan, dirinya baru menjadi agen BPNT sejak Februari walaupun sudah menjadi agen bank sejak 2017. ”Mengajukan diri ke pihak bank, setelah itu mengurus rekomendasi ke kecamatan. Disurvei kelayakan. Salah satu syaratnya kan harus punya toko atau usaha,” papar perempuan yang juga memiliki usaha toko kelontong, depo air isi ulang, dan beberapa kebutuhan lainnya.

Selama menjadi agen penyalur BPNT, Fida menyebut tidak ada kendala. Dia juga mendapat bonus poin dari bank penyalur yang dihitung dari total gesek ATM atau kartu keluarga sejahtera (KKS) di mesin EDC. ”Bisa ditukar poin undian berhadiah, promo, atau hadiah menarik lainnnya,” ungkapnya.

Lalu, apa keuntungan dari supplier? Fida mendapat keuntungan transaksi jual beli. ”Seperti kulakan dagang pada umumnya, nggak ngambil untung banyak karena kan nggak boleh berbeda dari harga pasar. Tapi, lumayan untuk tambahan pemasukan toko,” kata Fida.

Dia menambahkan, kendala batin yang pernah dihadapi adalah saat ada KPM yang tidak bisa mengakses bantuan karena saldo nol. ”Ya, ikut nelangsa, nggak tega. Banyak juga KPM yang enggan lagi mengurus kartunya. Katanya malu,” ujarnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=ASz-pJztLWo



Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore