Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 19 Agustus 2020 | 22.48 WIB

Belajar Tatap Muka Lebih Tenang, Ratusan Guru Tambaksari Dites Swab

TAHAN DULU, BU: Eko Sulastri, guru SDN Ploso 1, mengikuti tes swab di Gelanggang Remaja kemarin. Sebanyak 650 guru dan tenaga kependidikan mengikuti tes tersebut. (v) - Image

TAHAN DULU, BU: Eko Sulastri, guru SDN Ploso 1, mengikuti tes swab di Gelanggang Remaja kemarin. Sebanyak 650 guru dan tenaga kependidikan mengikuti tes tersebut. (v)

JawaPos.com − Ratusan guru dan tenaga kependidikan sekolah dasar negeri (SDN) se-Kecamatan Tambaksari mengikuti tes swab yang diadakan Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya Selasa (18/8). Tes itu bertujuan untuk memastikan para guru dan pegawai sekolah bebas dari Covid-19. Tidak seperti biasanya, tes yang diikuti 650 orang itu tanpa rapid test terlebih dahulu. Sejak pagi ratusan orang nglurug Gelanggang Remaja Surabaya. Mereka hendak mengikuti tes yang sifatnya wajib itu.

Terpantau banyak guru atau pegawai sekolah yang bergerombol dengan kolega mereka. Mereka terlihat abai dengan protokol kesehatan. Apalagi kursi yang disediakan terbatas.

Sebelum mengikuti tes, mereka harus mengambil nomor antrean terlebih dahulu. Kemudian, registrasi di tempat pendaftaran. Setelah itu, mereka mendapat alat swab untuk diserahkan kepada petugas medis yang mengambil sampel usapnya.

Yang datang ke sana rata-rata belum pernah mengikuti tes swab. Beberapa memang pernah rapid test. ”Pernah, tapi hanya screening saja waktu itu,” kata Maimunah, salah seorang guru kesenian.

Dia mengatakan, pemberitahuan soal swab test itu disampaikan sejak Senin (17/8). Sudah ditentukan jadwal kedatangan para guru dan pegawai administrasi sekolah tersebut. Maimunah mendapat kesempatan datang pukul 12.00 kemarin.

Maimunah mengaku lega bisa mengikuti swab test itu. Hasilnya lebih akurat. Jika saja nanti ada kegiatan belajar-mengajar dengan metode tatap muka, dia bisa lebih tenang. ”Senang ya meski waktu diambil sampelnya cukup sakit,” katanya.

Hal yang sama diungkapkan Rina, salah seorang pengajar di SDN Pacar Kembang IV. Tidak ada keraguan baginya untuk datang. ”Proses ini kami anggap untuk mengantisipasi paparan saja. Semoga nanti hasilnya negatif,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Rangkah Dwi Astuti Setyorini mengatakan, tes swab itu memang ditujukan untuk para guru dan tenaga kependidikan. Namun, khusus sekolah negeri. ”Jadi, bukan untuk sekolah swasta juga ya, hanya negeri,” tegasnya.

Semestinya, dijadwalkan ada 800 orang yang mengikuti tes tersebut. Namun, hingga swab test ditutup, peserta yang datang kurang dari 650 orang. Dia mengatakan, meski kuota belum penuh, tes swab itu tidak akan dibuka lagi.

Soal tidak adanya rapid test sebelum tes usap itu, Rini menjelaskan sudah mendapatkan arahan dari dinas kesehatan. Ketersediaan alat swab test dan kemampuan untuk mengolah hasil tes usap di laboratorium kesehatan daerah (labkesda) menjadi pertimbangan. ”Karena sudah ada labkesda, jadi volume tes sudah bisa ditingkatkan. Di sisi lain, hasilnya juga lebih akurat,” ujarnya.

Rini menyebutkan, pihaknya hanya menyarankan untuk karantina mandiri bagi yang memiliki gejala Covid-19. Misalnya, demam atau sesak napas. Namun hingga tes berakhir, tidak ada yang memiliki gejala mengarah ke sana. ”Hasilnya akan keluar dalam 5−7 hari,” tambahnya.

Tes tersebut melengkapi tes-tes sebelumnya yang dilakukan pemkot kepada para guru. Tes sebelumnya ditujukan kepada guru-guru dan tenaga kependidikan yang direncanakan menjadi pilot project pembukaan sekolah. Total ada 21 SMP negeri dan swasta yang akan dijadikan percontohan untuk pembukaan kembali sekolah.

Pemkot juga sudah memberikan surat edaran mulai kemarin (18/8) kepada para guru dan tenaga kependidikan. Mereka diminta untuk berdinas dari rumah. Tapi, tetap ada piket. Kebijakan tersebut didasari pada hasil temuan dan laporan cukup banyaknya guru yang tertular Covid-19.


Sekretaris Jenderal Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) Rachmat Ardiyanzah Pua Geno mengungkapkan, paparan Covid-19 bisa mengenai siapa saja. Bahkan, kasus awal yang dipublikasikan oleh pemerintah adalah kalangan elite terdidik.

”Pada kasus guru, paparan Covid-19 bisa saja terjadi. Persoalan kena di mana? Tentunya, perlu analisis dan survei epidemiologi ke masing-masing orang. Mereka beraktivitas di mana dan ke mana saja?” ujar Rachmat.

Dia menyebutkan bahwa dari fakta kasus konfirmasi Covid-19 saat ini, lebih dari 50 persen adalah kasus tanpa gejala. Dulu disebut dengan istilah OTG, tapi sekarang disebut kasus konfirmasi asimptomatis.

”Belum bisa disimpulkan, guru yang positif atau konfirmasi kena paparan saat di sekolah. Masih terlalu dini disimpulkan seperti itu. Ada mekanisme penyelidikan atau survei epidemiologi yang dilakukan oleh petugas tracing dari dinkes atau puskesmas,” jelas dia.

MITOS DAN FAKTA COVID-19 DI SEKTOR PENDIDIKAN

Mitos: Zona hijau dan kuning, tidak akan ada lagi yang terpapar Covid-19.

Fakta: Tidak ada jaminan 100 persen saat zona kuning atau hijau, seseorang tidak terkena atau terpapar Covid-19.

Mitos: Covid-19 hanya aktif saat pagi atau siang.

Fakta: Covid-19 aktif 24 jam, menyasar orang-orang yang tidak patuh protokol kesehatan.

Mitos: Seseorang yang pernah sakit atau positif Covid-19 tidak akan bisa sakit yang sama.

Fakta: Masih bisa sakit Covid-19 meskipun pernah sakit sebelumnya.

Sumber: Persakmi

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=fL1ukyyH6XU

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore