alexametrics

Ganti Rel Tua di Jalur Pemberhentian Kereta Stasiun Semut

8 Februari 2020, 19:19:00 WIB

JawaPos.com – Revitalisasi kawasan Stasiun Surabaya Kota atau Stasiun Semut belum juga rampung. PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus menata stasiun legendaris tersebut. Selain memperbaiki bangunan cagar budaya (BCB) dan membangun infrastruktur, KAI berencana mengganti rel-rel tua di jalur pemberhentian kereta.

Dari pantauan kemarin (7/2), beberapa pekerja tampak beraktivitas di sekitar stasiun. Mereka merampungkan pembangunan tempat parkir. Selain itu, ada pekerja yang menyelesaikan pembangunan toilet di dekat pintu masuk.

Kepala Stasiun Surabaya Kota Mardiono menyebut belum tahu kapan BCB yang diperbaiki tersebut selesai. ’’Kami masih mendesain loket tiket. Harapannya selesai secepatnya,” katanya. Dia menegaskan bahwa bukan hal mudah membangun tempat penjualan tiket. Pihaknya harus berkonsultasi dengan banyak pihak. ’’Bangunan cagar budaya tidak bisa diutak-atik. Jadi, desainnya harus benar-benar matang agar tidak merusak bangunan bersejarah,” tambahnya.

Menurut Mardiono, instansinya juga masih memiliki tanggungan pekerjaan lain. Salah satunya, pembaruan rel di jalur pemberhentian kereta. Saat ini rel sudah tak mumpuni. Tidak saja berkarat, sebagian ukurannya juga dinilai tak standar. ’’Nanti relnya diperbarui. Mungkin juga ditambah,” kata Mardiono.

Dia menegaskan bahwa PT KAI sudah merapatkan skenario pengoperasian Stasiun Semut pasca direvitalisasi. Ke depan, pusat pelayanan dipindah dari Indo Plaza dan digabung jadi satu di BCB yang baru direhab.

Proses revitalisasi Stasiun Surabaya Kota tak terlepas dari program PT KAI terkait pemusatan layanan KA lokal dan KA komuter. Stasiun Semut akan menjadi pusat pengoperasian seluruh KA lokal dan KA komuter yang singgah di Kota Pahlawan. Dengan adanya kebijakan itu, secara otomatis jumlah kereta yang parkir di Stasiun Semut bakal bertambah. Nanti ada 26 KA lokal dan 20 KA komuter yang rutin singgah di sarana transportasi yang diresmikan pada 1878 tersebut.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : hen/c7/ai


Close Ads