Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19.30 WIB

Saat Keringat Tak Bisa Berhenti, Nafkah Harus Tetap Dicari

Pekerja informal beraktivitas di tengah teriknya cuaca Surabaya. Bagi penjual makanan, pengemudi ojek online, hingga juru parkir, panas menjadi tantangan tersendiri saat mereka harus tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. (Riana Setiawan/Jawa Pos)

 
JawaPos.com – Aspal Surabaya memancarkan panas yang terasa hingga ke tubuh. Di bawah terik matahari, udara seolah tak memberi ruang bagi siapa pun untuk merasa nyaman. Namun, ketika sebagian orang bisa berlindung di balik pendingin ruangan, sebagian lainnya tetap harus bekerja di jalanan.

Bagi mereka, panas bukan alasan untuk berhenti. Ada dagangan yang harus terjual, penumpang yang harus diantar, dan kendaraan yang harus ditata. Di balik peluh yang membasahi pakaian, ada kebutuhan sehari-hari yang tak bisa menunggu cuaca membaik.

Sugianto (55) adalah salah satu dari mereka. Warga Kecamatan Jambangan itu masih setia mendorong gerobak kayu berukuran 60 x 120 sentimeter dengan lapisan vernis kecokelatan. Roda gerobaknya berderit menyusuri jalanan Jambangan hingga Karah, menempuh rute sekitar 4–5 kilometer setiap hari.

Sudah empat tahun ia menjalani rutinitas tersebut. Bukan karena sejak awal bercita-cita menjadi penjual soto, melainkan setelah pabrik tempatnya bekerja memberhentikannya lebih awal akibat dampak pandemi Covid-19.

Kini, di usianya yang ke-55, ia harus mengandalkan tenaga sendiri untuk memastikan dagangannya sampai kepada pembeli. Sementara itu, cuaca panas membuat pekerjaan yang sudah menguras tenaga terasa semakin berat.

"Ancen panase ra umum (emang panasnya luar biasa)," keluh Sugianto sembari menyeka keringat di wajahnya dengan handuk kecil lusuh yang bertengger di pundak. Ia ditemui JawaPos.com pada Sabtu (3/10).

Bagi Sugianto, menghadapi panas bukan perkara bisa atau tidak bisa bekerja. Ia harus mencari cara agar tetap mampu berkeliling tanpa memaksakan kondisi tubuh.

Kaus lengan panjang, topi yang warnanya mulai pudar, dan persediaan air putih menjadi bekal sehari-hari. Ketika matahari terasa semakin menyengat, ia memilih memarkir gerobak di bawah pohon rindang atau berteduh di warung kopi terdekat sambil menunggu pembeli.

Namun, bertahan di tengah cuaca panas tidak serta-merta membuat dagangannya laris. Justru, di tengah suhu yang meningkat, perputaran ekonomi yang ia rasakan semakin melambat.

Sugianto biasanya mulai berkeliling sekitar pukul 07.00. Ia baru berbalik arah untuk pulang ketika azan Asar berkumandang, kecuali jika sotonya habis lebih awal. Waktu panjang di jalan itu tak selalu sebanding dengan uang yang dibawa pulang.

Penjual soto keliling, Sugianto (55) saat melayani pembeli di bawah pohon rindang di sekitar Kelurahan Jambangan, Surabaya. (Dadang Kurnia/ JawaPos.com)

Satu porsi sotonya dijual Rp 13 ribu. Namun, selama setahun terakhir, mangkuk-mangkuk yang dibawanya semakin sering tersisa.

"Dulu rasanya untuk bisa pulang bawa uang Rp 300 ribu itu gampang. Sekarang, mau dapat Rp 150 ribu sehari saja kadang susah," lirihnya sambil menyesap dalam-dalam rokok filter putih.

Editor: Hendra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore