
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengunjungi keluarga korban tragedi Ponpes Al Khoziny Sidoarjo. Pemkot Surabaya akan pulihkan trauma santri yang jadi korban. (Humas Pemkot Surabaya)
JawaPos.com - Tak sedikit santri asal Kota Surabaya yang menjadi korban dalam tragedi ambruknya bangunan empat lantai di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo pada Senin (29/9) lalu.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan bahwa Pemkot Surabaya tidak lepas tangan dan akan memberikan pendampingan kepada warganya yang mengalami musibah.
"Terkait dengan korban (tragedi Ponpes Al Khoziny), khususnya warga Surabaya yang mengalami amputasi akibat insiden di lokasi tersebut, pemerintah kota akan memberikan pendampingan penuh," tutur Eri, Selasa (14/10).
Pendampingan yang diberikan, lanjut Eri, tidak hanya mencakup pemulihan fisik. Tetapi juga dukungan mental dan kejiwaan, mengingat besarnya trauma yang dialami korban dan keluarga pasca tragedi tersebut.
"Kami akan memprioritaskan pendampingan psikologis bagi korban dan keluarga. Langkah awal ini krusial. Setelah kondisi psikis korban berangsur membaik, stabil, barulah kami akan melanjutkan program jangka panjang," imbuhnya.
Ia memahami kondisi fisik korban saat ini akan sangat mempengaruhi keberlanjutan hidup dan prospek pekerjaan di masa depan. Oleh karena itu, Pemkot berkomitmen untuk merencanakan masa depan korban secara matang.
Semua rencana pendampingan komprehensif ini dilakukan mulai dari pemulihan mental hingga penentuan jalur pendidikan dan karir. Bahkan, pemkot juga akan berdiskusi secara mendalam dengan keluarga korban.
"Kami memahami kondisi ini sangat berat, dan tentu saja akan berdampak pada keberlanjutan hidup korban. Kami akan memikirkan masa depannya, memastikan pendidikan korban hingga lulus dan mendapat kerja," pungkasnya.
Bangunan empat lantai yang difungsikan sebagai musala di area Pondok Pesantren Al Khoziny, tiba-tiba ambruk pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.35 WIB.
Insiden tragis ini terjadi saat para santri sedang melakukan salat Asar berjamaah pada rakaat kedua. Akibatnya, banyak santri yang terjebak dalam reruntuhan bangunan. Polisi menyebut dugaan awal bangunan ambruk karena kegagalan konstruksi.
Setelah 9 hari melakukan pencarian, operasi SAR ditutup pada Selasa (7/10) pukul 10.00 WIB.
Data terakhir, korban dalam tragedi ini mencapai 171 orang, dengan rincian 104 korban selamat dan 67 kantong jenazah korban, termasuk 8 body part.
Hingga kini, proses identifikasi jenazah korban masih dilakukan oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) di RS Bhayangkara. Dari puluhan korban meninggal dunia, 55 orang berhasil teridentifikasi.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
