Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 5 Oktober 2025 | 13.54 WIB

Radiasi Cesium-137 Sangat Rendah, Pabrik Cengkeh di Surabaya Tidak Ditutup

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq. (Hilmi/Jawa Pos) - Image

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq. (Hilmi/Jawa Pos)

JawaPos.com-Masyarakat Surabaya akhirnya bisa bernafas lega. Pasalnya radiasi Cesium-137 pada produk cengkeh yang diolah di Surabaya sangat rendah. Sehingga tidak dilakukan penutupan pabrik, layaknya kasus radiasi Cesium-137 di Cikande, Banten.

Kabar baik itu disampaikan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq di Jakarta. Dia mengatakan, sudah menerjunkan tim untuk melakukan pengecekan di sebuah pabrik di Surabaya, terkait temuan cengkeh terpapar Cesium-137 itu.

"Hasil penelusuran, kita tidak temui cemaran (Cesium-137) di pabriknya," kata Hanif Faisol Nurofiq.

Berbeda dengan kasus temuan radiasi pada udang beku yang diolah di Cikande, Banten. Tim di lapangan menemukan sumber radiasi di kawasan tersebut.

Lebih lanjut Hanif mengatakan, laporan dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) menyebutkan nilai radiasi Cesium-137 pada cengkeh itu 0,04 sampai 0,07 poin.

"Itu merupakan (nilai radiasi) Cesium-137 background. Di alam memang seperti itu," terang Hanif Faisol Nurofiq.

Meskipun begitu Hanif menyampaikan mereka masih menunggu produk cengkeh yang di-reimpor atau dipulangkan kembali dari Amerika Serikat ke Indonesia. Nanti dilakukan pemeriksaan radiasi Cesium-137 secara langsung ke produk cengkehnya. Rencananya cengkeh tersebut tiba di Indonesia pada 30 Oktober.

Hanif menegaskan hasil pemeriksaan tim saat ini, pabrik pengolahan cengkeh di Surabaya tersebut aman. Berbeda dengan di Cikande yang ditemukan sumber radiasi Cesium-137. Sehingga perlu dilakukan tindakan khusus, berupa pengangkutan material radiasi dan dekontaminasi di Cikande.

Hanif menyampaikan perkembangan penanganan radiasi Cesium-137 di Kawasan Industri Modern Cikande, Banten. Dia mengatakan tim kembali menemukan satu titik sumber radiasi. Sehingga total ada sebelas titik. 

Dari jumlah tersebut, tim sudah melakukan pengambilan sumber radiasi di empat titik. Sehingga masih tersisa di tujuh titik lainnya. Proses pengambilan sumber radiasi itu tidak bisa sembarangan. Tetap harus mematuhi prosedur keamanan dan keselamatan terkait bahaya radiasi.

Hanif menegaskan proses pengambilan material dilakukan dengan hati-hati. Setiap orang hanya boleh di lokasi itu selama dua menit.

"Setelah dua menit harus diganti orang lain," kata Hanif Faisol Nurofiq.

Tujuannya supaya petugas tidak terkena radiasi Cesium-137. Seperti diketahui sudah ada sembilan pekerja di kawasan industri Cikande itu yang positif terpapar radiasi Cesium-137. Mereka sedang melewati perawatan khusus, untuk meluruhkan radiasinya. 

Pengamat kesehatan sekaligus Direktur Pasca sarjana Universitas YARSI Tjandra Yoga Aditama mengatakan, meskipun kadar cesium-137 masih di bawah ambang batas intervensi FDA yang sebesar 1.200 Bq/kg dan tidak memberikan efek akut, FDA tetap menyarankan agar masyarakat menghindari konsumsi produk tersebut.

Menurut dia, paparan jangka panjang dan berulang terhadap cesium-137 ini dapat meningkatkan risiko kesehatan. Termasuk kemungkinan meningkatnya risiko kanker akibat kerusakan DNA.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore