Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Oktober 2025 | 00.33 WIB

Kisah Haru Santri Saifur Rosi Korban Runtuhnya Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Ingin Segera Beli Kaki Baru

Saifur Rosi saat dijenguk oleh Menko PMK Pratikno di RSUD RT Notopuro Sidoarjo, Kamis (2/10/2025). (Moch. Rizky Pratama Putra/JawaPos.com) - Image

Saifur Rosi saat dijenguk oleh Menko PMK Pratikno di RSUD RT Notopuro Sidoarjo, Kamis (2/10/2025). (Moch. Rizky Pratama Putra/JawaPos.com)

JawaPos.com — Saifur Rosi Abdillah, 14, tak pernah menyangka malam yang tenang di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, berubah menjadi mimpi buruk. Santri kelas 3 SMP itu kini harus kehilangan kakinya akibat tragedi runtuhnya musala pesantren pada Senin malam lalu.

Di ruang perawatan RSUD RT Notopuro, Syaifur terlihat masih lemah namun berusaha tegar. Dengan suara pelan ia berkata ingin segera membeli kaki baru agar bisa kembali berjalan seperti dulu. Amputasi menjadi jalan terakhir yang harus ditempuh tim medis untuk menyelamatkan nyawa Saifur. Luka parah pada bagian kakinya membuat tidak ada pilihan lain selain tindakan operasi besar tersebut.

Direktur Utama RSUD RT Notopuro Sidoarjo, dr Atok Irawan, membenarkan kondisi darurat yang dialami korban. “Satu santri bernama Syaifur Rosi Abdillah rencananya akan menjalani amputasi kaki karena cederanya sangat parah,” kata Atok, Kamis (2/10/2025).

Empat santri lainnya yang ikut tertimpa reruntuhan juga masih menjalani perawatan intensif. Mereka mengalami cedera berbeda, mulai dari patah tulang hingga kerusakan otot.

Salah satunya, Syehlendra Haical, 13, masih berada di ruang ICU karena mengalami cedera otot serius. Sementara itu Muhammad Wahyudi, 13, menjalani operasi tulang selangka dan diperkirakan segera kembali ke ruang rawat inap biasa.

Bagi Saifur, peristiwa ini menjadi luka yang akan membekas sepanjang hidupnya. Ia tak hanya merasakan sakit fisik, tetapi juga trauma saat menyaksikan musala runtuh menimpa dirinya dan teman-temannya.

“Waktu itu saya kaget, ada yang jatuh lagi, saya langsung nangis,” ucapnya lirih saat ditemui JawaPos.com, Kamis (2/10/2025).

Santri yang sudah dua tahun mondok itu masih mengingat jelas detik-detik dirinya terjebak di bawah reruntuhan beton.

Ia bercerita, posisinya saat itu miring dan hanya bisa pasrah. Teman-temannya sempat mencoba mendorong beton yang menimpa tubuhnya, namun upaya itu sia-sia karena bangunan terlalu berat.

“(Posisi saya saat itu) miring, waktu itu teman-teman bilang tenang habis ini ada bantuan, tapi teman-teman coba mendorong runtuhan yang menimpa, tapi tidak kuat karena itu beton,” ujar Saifur Rosi.

Dengan sisa tenaga, para santri yang terjebak hanya bisa berteriak meminta tolong. “Pak tolong Pak, sini Pak,” kata Saifur Rosi menirukan suara panik mereka malam itu.

Pertolongan akhirnya datang dari warga sekitar yang mendengar jeritan mereka. Sekitar pukul 12 malam, barulah ada orang kampung yang berusaha mengangkat reruntuhan dan membebaskan Saifur.

“Terus kita minta tolong bareng-bareng, Pak tolong Pak, sini Pak. Lalu ada yang dengar, habis ini, habis ini nak, sebentar,” jelas Saifur Rosi.

Saat kakinya berhasil dikeluarkan, Saifur tidak memikirkan dirinya sendiri. Ia justru berteriak meminta agar teman-temannya juga segera diselamatkan.

“Pas saya keluar, saya bilang, Pak teman saya Pak, terus Bapaknya bilang, iya kamu minggir dulu kamu, baru setelah itu saya dilarikan ke sini Pak (RSUD RT Notopuro, Sidoarjo),” kenang Saifur Rosi.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore