Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 17 Juli 2025 | 06.47 WIB

Waspada Bediding di Surabaya, Dosen Unair Beri Tips Jaga Kesehatan

Ilustrasi anak merasa kedinginan karena bediding. (Freepik) - Image

Ilustrasi anak merasa kedinginan karena bediding. (Freepik)

JawaPos.com-Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga Kurnia Dwi Artanti menyoroti fenomena bediding atau udara dingin yang menusuk pada malam hingga pagi hari. Kondisi itu biasa terjadi menjelang musim kemarau.

Fenomena ini tengah melanda beberapa daerah di Indonesia, termasuk Kota Surabaya. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bediding terjadi hingga September 2025.

“Fenomena bediding ini kondisi yang normal, memang terjadi di musim kemarau. Biasanya terjadi di Juni, Kemudian makin tinggi di Juli dan menurun nanti di Agustus ketika menuju ke musim penghujan,” tutur Kurnia, Rabu (16/7).

Dia menuturkan dalam kondisi bediding, kelembaban akan cenderung menurun, sehingga menyebabkan tubuh terasa kering dan mengalami kehausan berlebih. Hal ini dapat mengganggu kesehatan pernapasan.

"Kondisi tubuh yang tidak bugar berpotensi memperparah gangguan ini. Tenggorokan yang ga enak berdampaknya ke radang tenggorokan. Kalau radang saja itu kan proses inflamasi," imbuh Kurnia Dwi Artanti.

Namun jika tubuh sedang tidak fit, kemudian terpapar bakteri saat bediding, akan berisiko pada infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Gejalanya berupa batuk dan dahak kekuningan sebagai tanda infeksi.

Bediding juga bisa menyebabkan kulit kering. Karena itu, Kurnia menyarankan penggunaan pelembab dan mencukupi asupan air putih agar tubuh tetap terhidrasi dan kelembapan kulit tetap terjaga.

“Kalau misalkan normalnya untuk berat badan 50 kg butuh 2 liter. Bisa ditambah dengan vitamin yang bagus untuk kulit, seperti vitamin A, C, dan E. Kalau untuk menjaga imunitas bisa ditambah dengan vitamin D,” terang Kurnia.

Meski begitu, Kurnia menegaskan masyarakat tak perlu panik menghadapi bediding. Tetap  waspada dengan melakukan langkah-langkah antisipatif untuk menjaga kesehatan selama peralihan musim kemarau.

“Masyarakat tidak perlu terlalu khawatir, yang penting selalu waspada. Asalkan kita melakukan upaya preventif dan proteksi pribadi. Jangan lupa minum air yang cukup, konsumsi buah dan sayur, serta vitamin tambahan," tukas Kurnia. 

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore