Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 2 Juli 2025 | 00.07 WIB

Dikeroyok Saat Perayaan Anniversary ke-98 Persebaya, Pria di Surabaya Meninggal Setelah 10 Hari Dirawat

Istri almarhum Antok Anggara menunjukkan foto suaminya saat dirawat di rumah sakit akibat luka parah usai dikeroyok sekelompok orang di kawasan Tunjungan, Surabaya. (Istimewa) - Image

Istri almarhum Antok Anggara menunjukkan foto suaminya saat dirawat di rumah sakit akibat luka parah usai dikeroyok sekelompok orang di kawasan Tunjungan, Surabaya. (Istimewa)

JawaPos.com – Duka mendalam menyelimuti keluarga Antok Anggara, 33, pria asal Jalan Raya Made, Sambikerep, Surabaya.

Antok mengembuskan napas terakhirnya pada Minggu (29/6) pagi di Rumah Sakit Bhakti Dharma Husada (RS BDH) Surabaya, setelah sepuluh hari berjuang melawan luka akibat pengeroyokan.

Peristiwa tragis itu terjadi pada Rabu dini hari (18/6), saat perayaan Anniversary ke-98 Persebaya di kawasan Jalan Tunjungan, Surabaya.

Menurut keterangan istrinya, Penti Atikasari, 32, Antok pamit pergi ngopi bersama temannya pada Selasa malam (17/6), sekitar pukul 20.00.

"Terakhir saya lihat story temannya sekitar jam 10 malam, suami saya joget-joget di jalan. Setelah itu tidak bisa dihubungi sampai jam satu pagi," tutur Penti, Senin (30/6).

Sekitar pukul 02.30 dini hari, Antok pulang dalam kondisi tak sadarkan diri, diantar oleh rekan kerjanya. Wajahnya lebam, mata diperban, dan tubuhnya penuh luka. Antok baru sadar pada Rabu pagi (18/6) dan mengeluh seluruh tubuhnya sakit.

Awalnya, Antok mengaku hanya jatuh. Namun, beberapa hari kemudian, ia mengungkapkan bahwa dirinya menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok orang di kawasan Tunjungan. Ia dikepruk dengan pot hingga terluka di bagian belakang kepala.

"Katanya saat itu dia lagi cari temannya, malah dikeroyok banyak orang. Ditemukan temannya dalam kondisi tengkurap, mandi darah, baju lepas satu sisi, dan ada pot pecah di dekatnya," ungkap Penti.

Sejak saat itu, kondisi Antok terus menurun. Ia sempat dibawa ke klinik dan puskesmas, namun tak menunjukkan tanda-tanda membaik.

Pada Selasa (24/6), kondisinya drop dan ia dibawa ke RS BDH. Hasil pemeriksaan menunjukkan ada gumpalan darah di perut yang membutuhkan tindakan operasi. Namun karena kendala biaya, keluarga memilih membawanya pulang.

Jumat (27/6) sore, Antok kembali drop dan akhirnya dibawa lagi ke RS BDH. Perutnya membesar, ia tidak bisa makan atau minum, dan terus muntah. Ia masih sempat berbincang dengan istrinya pada Sabtu (28/6), sebelum akhirnya meninggal keesokan paginya.

Antok yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan itu dimakamkan di pemakaman umum Made, Surabaya.

"Kalau ada bantuan, kami bersyukur. Kalau tidak, juga nggak papa. Suami saya sudah nggak ada. Soal kasus, kalau memang bisa diproses ya silakan. Kalau pelakunya tertangkap, Alhamdulillah," ujar Penti lirih, memohon doa terbaik bagi mendiang suaminya.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore