
Istri almarhum Antok Anggara menunjukkan foto suaminya saat dirawat di rumah sakit akibat luka parah usai dikeroyok sekelompok orang di kawasan Tunjungan, Surabaya. (Istimewa)
JawaPos.com – Duka mendalam menyelimuti keluarga Antok Anggara, 33, pria asal Jalan Raya Made, Sambikerep, Surabaya.
Antok mengembuskan napas terakhirnya pada Minggu (29/6) pagi di Rumah Sakit Bhakti Dharma Husada (RS BDH) Surabaya, setelah sepuluh hari berjuang melawan luka akibat pengeroyokan.
Peristiwa tragis itu terjadi pada Rabu dini hari (18/6), saat perayaan Anniversary ke-98 Persebaya di kawasan Jalan Tunjungan, Surabaya.
Menurut keterangan istrinya, Penti Atikasari, 32, Antok pamit pergi ngopi bersama temannya pada Selasa malam (17/6), sekitar pukul 20.00.
"Terakhir saya lihat story temannya sekitar jam 10 malam, suami saya joget-joget di jalan. Setelah itu tidak bisa dihubungi sampai jam satu pagi," tutur Penti, Senin (30/6).
Sekitar pukul 02.30 dini hari, Antok pulang dalam kondisi tak sadarkan diri, diantar oleh rekan kerjanya. Wajahnya lebam, mata diperban, dan tubuhnya penuh luka. Antok baru sadar pada Rabu pagi (18/6) dan mengeluh seluruh tubuhnya sakit.
Awalnya, Antok mengaku hanya jatuh. Namun, beberapa hari kemudian, ia mengungkapkan bahwa dirinya menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok orang di kawasan Tunjungan. Ia dikepruk dengan pot hingga terluka di bagian belakang kepala.
"Katanya saat itu dia lagi cari temannya, malah dikeroyok banyak orang. Ditemukan temannya dalam kondisi tengkurap, mandi darah, baju lepas satu sisi, dan ada pot pecah di dekatnya," ungkap Penti.
Sejak saat itu, kondisi Antok terus menurun. Ia sempat dibawa ke klinik dan puskesmas, namun tak menunjukkan tanda-tanda membaik.
Pada Selasa (24/6), kondisinya drop dan ia dibawa ke RS BDH. Hasil pemeriksaan menunjukkan ada gumpalan darah di perut yang membutuhkan tindakan operasi. Namun karena kendala biaya, keluarga memilih membawanya pulang.
Jumat (27/6) sore, Antok kembali drop dan akhirnya dibawa lagi ke RS BDH. Perutnya membesar, ia tidak bisa makan atau minum, dan terus muntah. Ia masih sempat berbincang dengan istrinya pada Sabtu (28/6), sebelum akhirnya meninggal keesokan paginya.
Antok yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan itu dimakamkan di pemakaman umum Made, Surabaya.
"Kalau ada bantuan, kami bersyukur. Kalau tidak, juga nggak papa. Suami saya sudah nggak ada. Soal kasus, kalau memang bisa diproses ya silakan. Kalau pelakunya tertangkap, Alhamdulillah," ujar Penti lirih, memohon doa terbaik bagi mendiang suaminya.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
