
Kenjeran Surabaya masuk dalam kawasan proyek strategis nasional Surabaya Waterfront Land. (Dokumentasi Jawa Pos)
JawaPos.com–Proyek strategis nasional (PSN) Surabaya Waterfront Land atau lebih dikenal dengan reklamasi Kenjeran, masih menuai pro kontra. Para nelayan bahkan lantang menyuarakan penolakan proyek pulau buatan itu.
Tak hanya kelompok nelayan, proyek reklamasi kenjeran juga menarik perhatian kalangan akademisi. Mereka menyoroti dampak lingkungan yang akan terjadi bila reklamasi tetap dijalankan.
Tak terkecuali Himpunan Ahli Pengelolaan Pesisir Indonesia (HAPPI). Sebagai insinyur dan akademisi, Prof Daniel Muhammad Rosyid memberikan pandangan terkait proyek reklamasi Kenjeran.
Dia mengatakan HAPPI tidak bisa tinggal diam, apalagi tutup mata terhadap rencana pembangunan reklamasi, yang selama ini dinilai merugikan masyarakat pesisir timur Kota Surabaya. HAPPI berkomitmen melakukan kajian mendalam terkait proyek tersebut.
Dia mengatakan, dalam waktu dekat, akan membentuk tim dan terjun ke lapangan untuk menyerap aspirasi nelayan dan masyarakat pesisir.
”Selama ini, kami mendengarkan berita yang simpang siur terkait PSN ini. Padahal, ini merupakan bagian dari bidang yang seharusnya dikaji oleh kami, organisasi profesi HAPPI,” ujar Prof Daniel, Minggu (1/12).
Menurut dia, setiap proyek pembangunan memberikan dampak. Tidak terkecuali proyek reklamasi Kenjeran.
”Secara umum, PSN SWL bisa dibilang agak suram, ya suram. Namun, ini bergantung pada preposisi kita,” imbuh Prof Daniel.
Mantan Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Kota Surabaya itu beranggapan, dampak kerusakan lingkungan akibat proyek reklamasi, bisa diatasi dengan adanya inovasi teknologi. Sebagai seorang insinyur, Prof Daniel dilatih untuk membuat rekayasa teknologi.
Dia menyadari bahwa ide yang digagas mungkin lebih bersifat antroposentrisme, ketimbang ekosentris (berpusat pada aspek lingkungan).
”Tetapi kami katakan bahwa pembangunan adalah proses sintesis lingkungan. Bukan sekadar dari proyek kemudian dampaknya bagaimana,” tukas Prof Daniel.
Hasil kajian yang dilakukan HAPPI akan diserahkan kepada PT Granting Jaya selaku operator proyek reklamasi kenjeran.
Sebelumnya, proyek ini rencananya dibangun di atas lahan seluas 1.184 hektare. Dengan rincian, 100 hektare lahan eksistensi dan 1.084 hektare sisanya berupa pulau reklamasi. Lahan tersebut nantinya disulap menjadi kawasan terpadu yang terbagi dalam empat blok.
Berbagai sektor akan dibangun di sana. Mulai dari pariwisata, ekonomi kreatif, industri perikanan, pendidikan, hunian, hingga area konservasi mangrove.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
