Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Desember 2024 | 12.26 WIB

Kontroversi Reklamasi Kenjeran Surabaya Berlanjut, Apa Kata Ahli Pengelolaan Pesisir?

Kenjeran Surabaya masuk dalam kawasan proyek strategis nasional Surabaya Waterfront Land. (Dokumentasi Jawa Pos) - Image

Kenjeran Surabaya masuk dalam kawasan proyek strategis nasional Surabaya Waterfront Land. (Dokumentasi Jawa Pos)

JawaPos.com–Proyek strategis nasional (PSN) Surabaya Waterfront Land atau lebih dikenal dengan reklamasi Kenjeran, masih menuai pro kontra. Para nelayan bahkan lantang menyuarakan penolakan proyek pulau buatan itu.

Tak hanya kelompok nelayan, proyek reklamasi kenjeran juga menarik perhatian kalangan akademisi. Mereka menyoroti dampak lingkungan yang akan terjadi bila reklamasi tetap dijalankan.

Tak terkecuali Himpunan Ahli Pengelolaan Pesisir Indonesia (HAPPI). Sebagai insinyur dan akademisi, Prof Daniel Muhammad Rosyid memberikan pandangan terkait proyek reklamasi Kenjeran.

Dia mengatakan HAPPI tidak bisa tinggal diam, apalagi tutup mata terhadap rencana pembangunan reklamasi, yang selama ini dinilai merugikan masyarakat pesisir timur Kota Surabaya. HAPPI berkomitmen melakukan kajian mendalam terkait proyek tersebut.

Dia mengatakan, dalam waktu dekat, akan membentuk tim dan terjun ke lapangan untuk menyerap aspirasi nelayan dan masyarakat pesisir.

”Selama ini, kami mendengarkan berita yang simpang siur terkait PSN ini. Padahal, ini merupakan bagian dari bidang yang seharusnya dikaji oleh kami, organisasi profesi HAPPI,” ujar Prof Daniel, Minggu (1/12).

Menurut dia, setiap proyek pembangunan memberikan dampak. Tidak terkecuali proyek reklamasi Kenjeran.

”Secara umum, PSN SWL bisa dibilang agak suram, ya suram. Namun, ini bergantung pada preposisi kita,” imbuh Prof Daniel.

Mantan Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Kota Surabaya itu beranggapan, dampak kerusakan lingkungan akibat proyek reklamasi, bisa diatasi dengan adanya inovasi teknologi. Sebagai seorang insinyur, Prof Daniel dilatih untuk membuat rekayasa teknologi.

Dia menyadari bahwa ide yang digagas mungkin lebih bersifat antroposentrisme, ketimbang ekosentris (berpusat pada aspek lingkungan).

”Tetapi kami katakan bahwa pembangunan adalah proses sintesis lingkungan. Bukan sekadar dari proyek kemudian dampaknya bagaimana,” tukas Prof Daniel.

Hasil kajian yang dilakukan HAPPI akan diserahkan kepada PT Granting Jaya selaku operator proyek reklamasi kenjeran.

Sebelumnya, proyek ini rencananya dibangun di atas lahan seluas 1.184 hektare. Dengan rincian, 100 hektare lahan eksistensi dan 1.084 hektare sisanya berupa pulau reklamasi. Lahan tersebut nantinya disulap menjadi kawasan terpadu yang terbagi dalam empat blok.

Berbagai sektor akan dibangun di sana. Mulai dari pariwisata, ekonomi kreatif, industri perikanan, pendidikan, hunian, hingga area konservasi mangrove.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore