Ilustrasi Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh menjadi sorotan karena persoalan utang. (RianAlfianto/JawaPos.com)
JawaPos.com - Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh kembali menjadi sorotan setelah muncul indikasi kerugian yang harus ditanggung oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang nilainya mencapai lebih dari Rp 4 triliun. Kerugian tersebut dibebankan kepada PSBI sebagai pemegang 60 persen saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, menilai proyek kereta cepat yang diberi nama Whoosh itu perlu dievaluasi secara menyeluruh. Pasalnya, periode pengembalian modal (payback period) dinilai sangat panjang dan berpotensi mencapai lebih dari 100 tahun.
"Menurut saya semua proyek pengadaan fisik berpotensi menimbulkan dugaan korupsi, tidak hanya Whoosh, tapi juga proyek lainnya," kata Esther dalam keterangannya, Selasa (24/2).
Diketahui, konsorsium PSBI merupakan gabungan sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT Wijaya Karya Tbk, PT Jasa Marga Tbk, serta PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I).
Esther menjelaskan, pengawasan terhadap pengelolaan KCIC dapat dilakukan dengan langkah sederhana, yakni membandingkan kualitas barang atau hasil pekerjaan yang diterima dengan harga pasar yang berlaku.
Menurutnya, cara tersebut dapat menjadi indikator awal untuk mendeteksi adanya potensi penyimpangan. "Mudah mengeceknya, bandingkan saja kualitas barang yang diterima dengan harga pasar yang ada," tegasnya.
Ia menambahkan, strategi utama untuk meminimalkan potensi kerugian adalah melalui monitoring dan evaluasi proyek secara konsisten. Jika ditemukan kejanggalan, maka harus segera ditindaklanjuti melalui penegakan hukum.
Selain persoalan tata kelola, Esther juga menyoroti aspek pembiayaan proyek Whoosh. Ia menilai terdapat kesenjangan yang besar antara jumlah utang yang ditanggung pemerintah dengan potensi penerimaan dari operasional kereta cepat tersebut.
"Jumlah utang yang ditanggung pemerintah untuk Whoosh dan potensi penerimaan dari Whoosh ini gap-nya sangat besar," ujarnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada lamanya periode pengembalian modal. Berdasarkan perhitungannya, dengan tingkat okupansi Whoosh saat ini, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas sangat panjang.
"Ini mengakibatkan tingkat pengembalian (payback period) proyek Whoosh sangat lama. Saya pernah menghitung, dengan tingkat okupansi seperti sekarang, bisa lebih dari 100 tahun," pungkasnya.

Prediksi Skor Amerika Serikat vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: The Stars and Stripes Tak Ingin Malu!
Prediksi Skor Swiss vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Granit Xhaka Cs Siap Libas El Khadra Demi Tiket 16 Besar
Prediksi Skor Spanyol vs Austria di Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Jadi Pembeda
Prediksi Skor Belgia vs Senegal di Piala Dunia 2026: Setan Merah Emoh Angkat Koper Lebih Dulu!
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di 32 Besar Piala Dunia 2026: Joao Felix Pede Singkirkan Skuad Vatreni!
Prediksi Skor Inggris vs RD Kongo: Bursa Jagokan Three Lions, Opta Beri Peluang Menang 73,9 Persen
Silaturahmi dengan Suporter PSIS, Malut United Pastikan Tak Pakai Nama Semarang dan Siap Mengalah soal Stadion
Ditunggu Saja! Persebaya Surabaya Siapkan 7 Pemain Asing Baru Usai Rombak Skuad Musim Lalu
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Cristiano Ronaldo Cs Lolos ke 16 Besar
