Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 Oktober 2024 | 21.57 WIB

Dekanat Tidak Larang Aksi Kritis Mahasiswa, Pembekuan Kepengurusan BEM FISIP Unair Dicabut

Karangan bunga kepada Prabowo dan Gibran yang buat BEM FISIP Unair dibekukan Dekanat. (X @kegblgnunfaedh) - Image

Karangan bunga kepada Prabowo dan Gibran yang buat BEM FISIP Unair dibekukan Dekanat. (X @kegblgnunfaedh)

JawaPos.com – Polemik pembekuan kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) akhirnya rampung. Senin (28/10) pihak dekanat FISIP Unair mencabut SK pembekuan tersebut.

Dekan FISIP Unair Prof Bagong Suyanto mengatakan, seluruh dekanat sudah bertemu dan berbicara dari hati ke hati dengan pengurus BEM FISIP Unair. Dekanat memutuskan akan mencabut SK pembekuan tersebut.

Dasar pencabutan adalah kesepakatan bahwa BEM tidak lagi menggunakan diksi yang kasar dalam aksi kritik terhadap pemerintahan.

”Kami tidak ingin mengembangkan kultur yang terbiasa menggunakan diksi kasar di dalam kehidupan politik. Jadi, kami sepakat memilih menggunakan diksi yang sesuai dengan kultur akademik,” katanya.

Bagong memahami aspirasi yang disuarakan oleh BEM FISIP Unair. Itu menjadi hak mereka. Namun, pihaknya ingin memastikan kepada BEM FISIP untuk tidak lupa dengan marwah akademiknya. ”Pembekuan yang kami lakukan itu alasan sepenuhnya karena diksinya,” ujarnya.

Dekanat Sering Kritik Politisi yang Pakai Diksi Kasar

Menurut Bagong, pihak dekanat juga sering menulis dan mengkritik politisi yang menggunakan diksi kasar karena dianggap kurang mendidik bangsa Indonesia.

Nah, ketika itu terjadi kepada mahasiswanya, tugas dekanat mengingatkan agar tidak ikut-ikutan larut dalam kegiatan politik dengan menggunakan diksi yang tidak sopan dan kasar.

”Kami memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi sosial dan politiknya, tentu harus dengan tanggung jawab terhadap apa yang disampaikan,” terangnya.

Bagong menambahkan, SK pembekuan kepengurusan BEM FISIP Unair tersebut dikeluarkan sebagai respons atas kritik karangan bunga dari BEM yang viral di media sosial (medsos).

Pada Jumat (25/10) dan Sabtu (26/10), pihak dekanat tidak memiliki kesempatan bertemu pengurus BEM. Jadi, surat itu dikirimkan untuk pembekuan tiga pengurus BEM FISIP Unair. Yakni, presiden BEM, wakil presiden BEM, serta menteri politik dan kajian strategis BEM FISIP Unair.

”Jadi, yang kami bekukan saat itu hanya tiga pengurus BEM FISIP saja, bukan lembaga BEM FISIP Unair,” jelasnya.

Tiga pengurus BEM FISIP tersebut diminta untuk berhenti dulu mewakili suara-suara dalam lembaganya. Sebab, situasinya kurang kondusif. ”Kalau lembaga tetap berjalan. Namun, setelah pertemuan ini, SK itu sudah kami cabut,” ucap Bagong.

Presiden BEM FISIP Unair Tuffahati Ullayyah mengatakan, pembekuan kepengurusan BEM FISIP Unair sudah ditarik. Dengan peristiwa tersebut, BEM FISIP memastikan akan tetap kritis terhadap pemerintahan ke depannya, tentu tidak keluar dari koridor akademik.

”Ini semua berkat dukungan dari teman-teman BEM Unair, himpunan mahasiswa, dan BEM se-Indonesia yang terus mengeluarkan solidaritas,” katanya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore