
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
JawaPos.com–Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mendorong para guru dan orang tua ikut membentuk karakter anak sebagai upaya mencegah perundungan atau bullying di kalangan pelajar.
”Buat saya ketika menyampaikan sesuatu saja (perkataan melukai), itu bisa menjadi perundungan,” kata Eri seperti dilansir dari Antara di Surabaya, Selasa (3/10).
Dia mencontohkan seorang anak bernama A mengajak temannya B untuk tidak berteman dengan si C. Ajakan si A kepada B itu bisa dikategorikan dalam perundungan verbal kepada C.
”Sehingga (perundungan) verbal-verbal itulah yang kami coba hilangkan di Surabaya,” ujar Eri.
Dia mengakui telah bertemu dengan para guru di sejumlah SD-SMP Surabaya untuk menggugah mereka lebih perhatian dalam membentuk karakter peserta didik. Perundungan pelajar itu bisa terjadi karena faktor tidak adanya kedekatan antara guru dan siswa. Karena itu, dia mengagendakan pertemuan dengan para guru melalui zoom.
”Saya (akan) bilang Bu Guru kalau bisa setelah mengajar anaknya dibilangi. Misalnya, le kamu adalah anakku, saya doakan kamu jadi pemimpin. Nah, itu yang tidak pernah dilakukan sama seorang guru. Jadi sekarang kalau selesai pelajaran akademik langsung balik,” ucap Eri.
Pada pertemuan sebelumnya, kata dia, ada beberapa guru yang sampai menangis karena mengaku tidak pernah memberikan nasihat kepada muridnya setelah selesai pelajaran.
Selain dengan para guru, wali kota juga sempat bertemu dan menyampaikan hal yang sama dengan orang tua murid. Perasaan yang sama juga diungkapkan para orang tua dan mengakui kurang ada kedekatan dengan anak-anak mereka.
”Berarti saya bisa tarik kesimpulan, bullying ini terjadi karena karakter anak ini terbentuk karena mungkin kecewa dengan orang tua, lingkungan, atau tempat-tempat di sekitarnya,” tutur Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Dia mengatakan, membangun Surabaya itu tidak bisa hanya dilakukan melalui pendidikan akademis, tapi juga membangun karakter kebangsaan dan kemanusiaan.
”Ini yang saya bangun di Surabaya dan tetap akan saya lakukan terus. Peran guru di sekolah sangat penting untuk membentuk karakter, juga peran Puspaga (Pusat Pembelajaran Keluarga) di masing-masing kampung,” tutur Eri.
Untuk itu dia telah menginstruksikan lurah camat agar membentuk kegiatan-kegiatan positif di setiap Balai RW dan meminta setiap wilayah itu dapat diketahui berapa masing-masing usia anak-anak muda, termasuk kegiatannya.
”Ini yang saya bentuk dengan lurah dan camat. Jadi tidak bisa menyelesaikan masalah dengan hukuman, dengan kekerasan itu tidak bisa. Tetap dengan ketegasan, tetapi dengan pendekatan nurani,” ucap Eri.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
