Logo JawaPos

Mengurai Kemacetan Lalu Lintas di Taman Pelangi: Flyover Lebih Murah, Underpass Tak Pengaruhi Estetika Kota

LANGGANAN MACET: Kendaraan terjebak kemacetan di frontage road (FR) Jalan A. Yani sebelum bundaran Taman Pelangi kemarin (21/9). Kepadatan kendaraan terjadi pada pagi dan sore hari. - Image

LANGGANAN MACET: Kendaraan terjebak kemacetan di frontage road (FR) Jalan A. Yani sebelum bundaran Taman Pelangi kemarin (21/9). Kepadatan kendaraan terjadi pada pagi dan sore hari.

JawaPos.com – Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya masih menelaah solusi yang tepat untuk mengurai kepadatan di seputaran bundaran Taman Pelangi. Dua opsi yang saat ini masih dikaji, yaitu pembangunan flyover (FO) dan underpass, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Kabid Jalan dan Jembatan DSDABM Surabaya Adi Gunita menyebutkan, FO atau underpass yang akan dibangun memiliki panjang 800 meter hingga 1,3 kilometer.

Lokasinya di tengah Jalan A. Yani mengarah ke dalam dan luar kota. Namun, pihaknya belum bisa memastikan memilih FO atau underpass. ”Setiap metode punya kelebihan, kekurangan, atau kendala pengerjaan masing-masing. Cari dampak yang paling minim,” katanya kemarin (21/9).

Pembangunan FO, kata Adi, tidak membutuhkan anggaran besar. Pengerjaannya juga cepat. Namun, FO membuat wajah kota tidak cantik. Selain itu, pemerintah berencana membangun jalur ganda kereta api. ”Andai kata jadi FO, area bawah jangan sampai mati. Harus ada interaksi,” tegasnya.

Pembangunan underpass tidak terlalu berdampak terhadap estetika kota. Namun, pengerjaannya bakal lebih lama dan menelan pembiayaan yang besar. Kendala lain, di bawah jalan terdapat sungai.

Dua metode itu tengah dibahas dalam perancangan feasibility study (FS). DSDABM Surabaya melibatkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) saat menyusun studi kelayakan tersebut. ”Sejatinya banyak inovasi rekayasa, tapi kembali lagi bergantung pada pembiayaan,” ujarnya.

Kepala Bappedalitbang Surabaya Febrina Kusumawati menyatakan, rencana pembangunan underpass atau flyover di sekitar Taman Pelangi pernah dibahas pada 2016. Saat itu Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) mengusulkan membangun underpass. Saat dihitung, total kebutuhan anggarannya mencapai Rp 33 miliar.

Namun, rencana itu terhenti. Pada 2019, gagasan tersebut kembali digulirkan. Belum sempat berjalan, lagi-lagi rencana itu diurungkan akibat pandemi Covid-19. ”Sebenarnya FO atau underpass memang penting. Namun, masalah utamanya ada pada anggaran. Apzalagi, saat itu ada pandemi. Pos anggaran dialihkan ke sana,” papar Febri, sapaan akrab Febrina Kusumawati.

Menurut Febri, selain memperlancar mobilitas, pembangunan underpass atau FO akan mengungkit perekonomian Surabaya. Sebab, akses lalu lintas kendaraan tidak lagi terhambat.

”Kalau direalisasikan akan memberikan kepastian bahwa pemkot berkomitmen menuntaskan kemacetan. Kawasan di sekitarnya pasti akan semakin berkembang,” jelasnya.

Apalagi, kawasan Surabaya Selatan dan Surabaya Barat seperti episentrum atau titik pusat perkembangan Surabaya. Meski terbatas, masih ada ruang yang bisa dimanfaatkan. Terutama untuk sektor perkantoran.

Sementara itu, Kepala DSDABM Surabaya Lilik Arijanto mengungkapkan, proyek underpass dan FO membutuhkan dana yang tidak sedikit. Pihaknya berencana mengusulkannya ke pemerintah pusat agar Surabaya mendapatkan bantuan pembiayaan. ”Karena biayanya yang dibutuhkan besar. Kami selesaikan dulu FS-nya sekarang,” ujarnya. (dho/gal/edi/c14/aph)

TENTANG FO DAN UNDERPASS

Flyover (FO)

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore