
Gerakan Pemuda Surabaya gelar diskusi Refleksi Kemerdekaan Republik Indonesia di Untag Surabaya.
JawaPos.com–Gerakan Pemuda Surabaya gelar diskusi Refleksi Kemerdekaan Republik Indonesia dengan tema 98 Wujud Nyata Masa Kelam di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.
Acara menghadirkan narasumber pengamat politik senior Prof. Hermawan Sulistyo, eks aktivis 98 I. G. Anom Astika, serta jurnalis foto senior Ahmad Subecki yang hadir via tayangan digital.
Ketiga orang itu adalah saksi hidup dan pelaku sejarah periode menjelang hingga pasca peristiwa Reformasi 1998, melawan rezim Orde Baru. Pada masa 1998, begitu banyak orang yang menentang Orde Baru diculik, juga merebak kekerasan oleh aparat keamanan bahkan pelanggaran HAM.
Acara dibuka Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono. Dimoderatori anak muda Gen Z Aryo Seno Bagaskoro yang juga pendiri Aliansi Pelajar Surabaya. Ratusan audiens aktif menyimak dan merespons cerita para narasumber.
Para audiens yang berasal dari latar belakang milenial, gen Z, dan eks aktivis 98 itu bersemangat mengikuti penyampaian dari Prof. Kiki, sapaan akrab Hermawan Sulistyo.
Hermawan Sulistyo pernah memimpin Tim Investigasi Kerusuhan Mei 1998 dan Peristiwa Semanggi. Dia menceritakan panjang lebar tentang tragedi dan gejolak pada masa tersebut. Mulai tragedi Trisakti, tragedi Semanggi 1 dan 2. Juga hilangnya para aktivis yang tidak pernah kembali.
Setelah tragedi kelam itu, Prof Hermawan bergabung dalam Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) terkait kerusuhan Mei 1998. TGPF diketuai Marzuki Darusman, yang kala itu juga anggota Komnas HAM.
”Maka hati-hati memilih pemimpin! Harus dilihat seluruh track record-nya, rekam jejak, sebagai calon pejabat publik,” tanya Hermawan Sulistyo.
Narasumber lain, Anom Astika mengusulkan agar dirancang regulasi yang mengatur syarat bagi calon presiden, khususnya dalam hal pelanggaran HAM atau kekerasan pada masa lalu.
”Sehingga secara aturan jelas, tidak memberi kesempatan bagi figur-figur yang di masa lalu punya masalah dengan pelanggaran HAM dan kekerasan. Tidak memberi ruang untuk bisa terpilih menjadi pejabat publik,” kata Anom yang pernah merasakan penyekapan dan dipenjara oleh rezim Orde Baru.
Ketua Gerakan Pemuda Surabaya Mirza Akmal mengatakan, diskusi itu bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran sejarah di kalangan generasi muda yang lahir pasca peristiwa 98.
”Sehingga kawan-kawan tidak melupakan sejarah, sebagai cermin dalam menentukan langkah ke depan,” kata Mirza Akmal, mahasiswa kelahiran 2003 itu.
Acara ditutup dengan pembacaan puisi, menyalakan lilin, dan doa bersama untuk para korban dari tragedi 98 yang diikuti secara khidmat oleh seluruh peserta dan narasumber.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
