Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 2 September 2023 | 04.01 WIB

Ungkap Tragedi 1998 di Kalangan Gen Z dan Milenial Surabaya

Gerakan Pemuda Surabaya gelar diskusi Refleksi Kemerdekaan Republik Indonesia di Untag Surabaya. - Image

Gerakan Pemuda Surabaya gelar diskusi Refleksi Kemerdekaan Republik Indonesia di Untag Surabaya.

JawaPos.com–Gerakan Pemuda Surabaya gelar diskusi Refleksi Kemerdekaan Republik Indonesia dengan tema 98 Wujud Nyata Masa Kelam di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.

Acara menghadirkan narasumber pengamat politik senior Prof. Hermawan Sulistyo, eks aktivis 98 I. G. Anom Astika, serta jurnalis foto senior Ahmad Subecki yang hadir via tayangan digital.

Ketiga orang itu adalah saksi hidup dan pelaku sejarah periode menjelang hingga pasca peristiwa Reformasi 1998, melawan rezim Orde Baru. Pada masa 1998, begitu banyak orang yang menentang Orde Baru diculik, juga merebak kekerasan oleh aparat keamanan bahkan pelanggaran HAM.

Acara dibuka Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono. Dimoderatori anak muda Gen Z Aryo Seno Bagaskoro yang juga pendiri Aliansi Pelajar Surabaya. Ratusan audiens aktif menyimak dan merespons cerita para narasumber.

Para audiens yang berasal dari latar belakang milenial, gen Z, dan eks aktivis 98 itu bersemangat mengikuti penyampaian dari Prof. Kiki, sapaan akrab Hermawan Sulistyo.

Hermawan Sulistyo pernah memimpin Tim Investigasi Kerusuhan Mei 1998 dan Peristiwa Semanggi. Dia menceritakan panjang lebar tentang tragedi dan gejolak pada masa tersebut. Mulai tragedi Trisakti, tragedi Semanggi 1 dan 2. Juga hilangnya para aktivis yang tidak pernah kembali.

Setelah tragedi kelam itu, Prof Hermawan bergabung dalam Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) terkait kerusuhan Mei 1998. TGPF diketuai Marzuki Darusman, yang kala itu juga anggota Komnas HAM.

”Maka hati-hati memilih pemimpin! Harus dilihat seluruh track record-nya, rekam jejak, sebagai calon pejabat publik,” tanya Hermawan Sulistyo.

Narasumber lain, Anom Astika mengusulkan agar dirancang regulasi yang mengatur syarat bagi calon presiden, khususnya dalam hal pelanggaran HAM atau kekerasan pada masa lalu.

”Sehingga secara aturan jelas, tidak memberi kesempatan bagi figur-figur yang di masa lalu punya masalah dengan pelanggaran HAM dan kekerasan. Tidak memberi ruang untuk bisa terpilih menjadi pejabat publik,” kata Anom yang pernah merasakan penyekapan dan dipenjara oleh rezim Orde Baru.

Ketua Gerakan Pemuda Surabaya Mirza Akmal mengatakan, diskusi itu bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran sejarah di kalangan generasi muda yang lahir pasca peristiwa 98.

”Sehingga kawan-kawan tidak melupakan sejarah, sebagai cermin dalam menentukan langkah ke depan,” kata Mirza Akmal, mahasiswa kelahiran 2003 itu.

Acara ditutup dengan pembacaan puisi, menyalakan lilin, dan doa bersama untuk para korban dari tragedi 98 yang diikuti secara khidmat oleh seluruh peserta dan narasumber.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore