Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 9 Juli 2023 | 20.05 WIB

Hasil Pembatasan Kantong Plastik di Surabaya: Sampah Berkurang hingga 2 Ton Per Hari

RAMAH LINGKUNGAN: Antoia membawa barang belanjaan dengan tas khusus di - Image

RAMAH LINGKUNGAN: Antoia membawa barang belanjaan dengan tas khusus di

JawaPos.com – Sejak April 2022 penggunaan kantong plastik mulai dibatasi. Warga secara bertahap beralih ke kantong ramah lingkungan. Pelaku usaha ritel, swalayan, pasar modern, dan pasar rakyat diminta tidak lagi menggunakan plastik sebagai wadah. Kebijakan itu pun mulai menunjukkan hasil. Hitung-hitungan dinas lingkungan hidup (DLH), sampah plastik di Surabaya bisa berkurang 1,5–2 ton per hari.

Namun, Kepala DLH Surabaya Agus Hebi Djuniantoro mengatakan, penerapan bebas kantong plastik belum bisa menyeluruh. Kebijakan itu dinilai berhasil hanya pada kategori tempat. Misalnya, pusat perbelanjaan, toko swalayan, restoran, dan pasar rakyat. ’’Beberapa di antara mereka sudah berhenti menyediakan kantong kresek. Lebih banyak menyediakan kantong daur ulang,’’ ujarnya.

Hebi mengatakan, yang kini masih menjadi PR adalah penerapan di pasar rakyat. Cukup sulit membuat pembeli dan pedagang patuh dan beralih ke kantong ramah lingkungan. Sosialisasi pun dilakukan berulang-ulang agar dari yang tidak biasa menjadi biasa.

’’Pendekatannya memang tidak bisa sekali datang dan sosialisasi. Harus terus diingatkan, nanti lama-kelamaan bisa beralih,’’ tuturnya. Hebi juga sudah meminta ada gerebek larangan penggunaan kantong plastik sehingga orang-orang jadi terbiasa.

Selain pasar, penerapan kebijakan itu belum terlaksana di level usaha rumah makan berskala kecil. Partisipasinya masih rendah. Bahkan, kantong plastik masih dianggap lumrah. Hebi menyebut salah satu faktornya, mereka kesulitan untuk mencari alternatif wadah lain yang harganya sepadan dengan kantong plastik.

Pihaknya pun sudah membentuk tim yustisi untuk melaksanakan sosialisasi dan pengawasan di lapangan. Namun, beban tim juga berat karena hanya ada tiga orang. Padahal, ada 107 pasar rakyat yang diawasi.

’’Karena itu, kami sudah meminta kelurahan dan kecamatan ikut membantu. Melakukan sosialisasi dan pengawasan di pasar rakyat,’’ paparnya.

Hebi menyebut, meski penggunaan kantong plastik berkurang, tidak berarti sampah plastik turun signifikan. Rata-rata Surabaya memproduksi sampah 1.600 ton per hari yang terdiri atas sampah organik dan nonorganik. Dari jumlah itu, 60 persen adalah sampah organik. Sedangkan 22 persen merupakan sampah plastik. Jumlah tersebut mencapai 352 ton.

Dari jumlah itu, tidak semua bisa didaur ulang. Hebi mengatakan, banyak sampah plastik yang mengandung aluminium dan tidak memiliki nilai ekonomis. ’’Plastik kemasan atau saset itu yang jadi masalah. Karena tidak memiliki nilai jual, banyak yang dibuang begitu saja,’’ ujarnya.

Pihaknya memastikan penerapan kebijakan itu akan terus dilanjutkan. Sebab, sesuai dengan target pemerintah pusat, pada 2029 kantong plastik sudah tidak ada lagi.

Sementara itu, Pemkot Surabaya terus mendorong penerapan kebijakan tersebut. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta beberapa kegiatan dilakukan tanpa kantong plastik.

’’Karena plastik itu sulit dihancurkan ketika kita akan memusnahkan sampah dan ini mengakibatkan polusi. Saya mengharap warga Surabaya, ayo jaga kebersihan lingkungan,’’ kata Eri. (gal/c7/may)

Pertegas Penerapan Aturan Penggunaan Kresek

SEJUMLAH pihak menilai kebijakan Pemkot Surabaya soal pengurangan penggunaan kantong plastik sudah baik. Hanya, setelah berjalan, aturan itu masih kurang efektif. Pemkot pun diminta untuk memperluas cakupan materi Perwali 16/2022 dan mempertegas jalannya aturan tersebut.

Hal itu diungkapkan pendiri Komunitas Nol Sampah Surabaya Wawan Some. Dia mengatakan, penerapan aturan tersebut masih kurang efektif. Fakta di lapangan, mulai banyak lagi pihak yang kembali menggunakan kantong kresek. ’’Awal-awal, swalayan, restoran semuanya tertib. Namun, lama-kelamaan mereka kembali ke kebiasaan yang lama,’’ ujar Wawan.

Dia mengatakan, saat ini yang masih tertib adalah swalayan atau ritel yang besar. Sementara itu, toko dan swalayan yang bukan waralaba belum taat. Hal itu pun memicu penggunaan kresek bakal masif lagi.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore