Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bersama tim Co Film yang akan mengaplikasikan cat antimikroba di bus listrik.
JawaPos.com – Kesadaran masyarakat mengenai sanitasi dan higienitas pasca pandemi makin tinggi. Contoh terbaru datang dari aplikasi cat anti mikroba yang kini mulai diaplikasikan untuk sarana transportasi. Kali ini, startup cat anti mikroba mencoba untuk melapisi bus listrik G20 Surabaya.
CEO CoFilm Indonesia Royyan Wafi Pujiyanto mengatakan, langkah tersebut merupakan salah satu perluasan dari penerapan produk pelapisnya. Selama ini, produknya digunakan untuk fasilitas kesehatan.
’’Setiap bulannya, kami bisa memproduksi 500 - 1.000 liter. Tapi, kebanyakan memang proyek untuk rumah sakit atau klinik,’’ papar lulusan ITS tersebut pada acara pemberian proteksi antimikroba untuk bus listrik G20 Surabaya Sabtu (10/6).
Teknologi tersebut penting untuk fasilitas yang rentan infeksi. Sebab, pelapis tersebut bisa menekan penyebaran bakteri selama dua tahun. Hal tersebut lebih efisien daripada pengaplikasian disinfektan setiap hari.
Kali ini, dia mencari perkembangan implementasi dari teknologi tersebut. Sektor transportasi jadi salah satu pilihan karena menjadi tempat lalu lalang masyarakat. ’’Bus listrik kami pilih karena juga bertepatan dengan visi net zero emission (NZE). Sehingga teknologi ramah lingkungan juga dibarengi dengan peningkatan kesadaran kesehatan,’’ paparnya.
Sementara itu, perwakilan Wismilak Foundation Anastesya Ftaraya mengatakan, pihaknya menyokong upaya tersebut karena sesuai dengan visi dan misi mereka. Dia mengatakan bahwa langkah ini tak hanya menyasar masalah sosial dan kesehatan. Namun, juga mendukung kota Surabaya dalam mengurangi emisi karbon.
Dia menerangkan, implementasi tersebut bukan kerja sama yang pertama dengan startup milik Wafi. Tahun lalu, yayasan tersebut juga mendanai pelapisan cat antimikroba untuk Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya (RSUA).
Baca Juga: Berbisik dengan V BTS, Jang Hansol Ungkap Aroma Tubuh hingga Kepribadiannya
''Kami melakukan ini karena masyarakat di masa pandemi sangat rentan penularan virus dan bakteri. Sedangkan, teknologi ini sudah teruji mampu membasmi berbagai jenis virus, bakteri bahkan jamur,'' ungkapnya.
Sebagaimana diketahui, resistensi antimikroba juga menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang cukup mendesak. Diambil dari data Direktur Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, resistensi antimikroba bahkan dapat menyebabkan kematian yang dapat mencapai angka 10 juta orang per tahun di tahun 2050, dengan distribusi di Asia dapat mencapai 4,7 juta.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
