Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 Oktober 2022 | 22.48 WIB

Rencana Perubahan Jam Sekolah Jadi Kesempatan Gali Minat & Bakat Siswa

DI RUANG BELAJAR: Murid SMPN 3 mengikuti pembelajaran di kelas. Bulan depan pemkot menetapkan bahwa kegiatan belajar sampai pukul 12.00. Selebihnya diisi pendidikan berkarakter. (Frizal/Jawa Pos) - Image

DI RUANG BELAJAR: Murid SMPN 3 mengikuti pembelajaran di kelas. Bulan depan pemkot menetapkan bahwa kegiatan belajar sampai pukul 12.00. Selebihnya diisi pendidikan berkarakter. (Frizal/Jawa Pos)

JawaPos.com - Banyak pihak yang mendukung terobosan Pemkot Surabaya soal mengurangi waktu belajar di Sekolah. Selain memberi siswa kesempatan untuk lebih merdeka dari sisi akademis, hal itu menjadi ajang menggali minat dan bakat anak.

Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Yuli Purnomo mengatakan, keputusan pemkot tersebut sejalan dengan tujuan utama pendidikan nasional soal keseimbangan dalam belajar. Jadi, anak tidak terforsir hanya untuk memenuhi standar minimum belajar.

’’Ini ibaratnya menggali bakat dan minat mereka. Caranya dengan memberikan kegiatan yang bisa mengeksplorasi kemampuannya. Yakni, melalui ekstrakurikuler,’’ katanya.

Yuli menyebut hal itu akan meredam tingkat kejenuhan siswa dan guru. Sebab, selama ini siswa sudah jenuh sehingga tidak bersemangat untuk belajar. Guru sebaliknya, harus berusaha ekstra untuk mengajak siswanya semangat lagi. Meski jam belajar dikurangi, Yuli optimistis raihan akademik siswa tetap baik.

Sebenarnya penilaian siswa saat ini tidak hanya mengacu aspek nilai. Ada asesmen yang dilakukan untuk melihat kepribadian siswa. Itu juga bisa masuk nilai mereka.

’’Pokoke anak-anak iki jaken sinau sing puenak. Toh, nanti menuju kesuksesan itu kan banyak faktornya. Apalagi, penilaian sekarang bukan nilai kompetensi saja, asesmen juga ada,’’ katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Surabaya Yusuf Masruh menuturkan, kini yang terpenting mengganti waktu dua tahun yang hilang. Menurut dia, hanya dengan belajar seperti ini, hasilnya masih kurang maksimal. Terlebih, di sisi kehidupan sosial anak-anak.

’’Makanya, nanti sekolah-sekolah silakan ambil ekstrakurikuler apa. Setelah itu, bisa disampaikan ke siswa. Anak-anak bebas berekspresi di sana,’’ ujarnya.

Yusuf mengatakan, dalam program tersebut, dirinya ingin anak-anak memiliki budi pekerti yang baik. Dia meminta guru bisa ambil peran agar anak-anak lebih menghargai guru sebagai orang tua mereka. Budaya unggah-ungguh, menurut Yusuf, sudah luntur. Padahal, itu menjadi bekal mereka di masa depan.

’’Usia SD dan SMP ini kita manfaatkan betul untuk membentuk karakter mereka. Kalau ketemu guru ya salim. Kedekatan emosional antara siswa dan guru itu ada,’’ tandasnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore