
DI RUANG BELAJAR: Murid SMPN 3 mengikuti pembelajaran di kelas. Bulan depan pemkot menetapkan bahwa kegiatan belajar sampai pukul 12.00. Selebihnya diisi pendidikan berkarakter. (Frizal/Jawa Pos)
JawaPos.com - Banyak pihak yang mendukung terobosan Pemkot Surabaya soal mengurangi waktu belajar di Sekolah. Selain memberi siswa kesempatan untuk lebih merdeka dari sisi akademis, hal itu menjadi ajang menggali minat dan bakat anak.
Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Yuli Purnomo mengatakan, keputusan pemkot tersebut sejalan dengan tujuan utama pendidikan nasional soal keseimbangan dalam belajar. Jadi, anak tidak terforsir hanya untuk memenuhi standar minimum belajar.
’’Ini ibaratnya menggali bakat dan minat mereka. Caranya dengan memberikan kegiatan yang bisa mengeksplorasi kemampuannya. Yakni, melalui ekstrakurikuler,’’ katanya.
Yuli menyebut hal itu akan meredam tingkat kejenuhan siswa dan guru. Sebab, selama ini siswa sudah jenuh sehingga tidak bersemangat untuk belajar. Guru sebaliknya, harus berusaha ekstra untuk mengajak siswanya semangat lagi. Meski jam belajar dikurangi, Yuli optimistis raihan akademik siswa tetap baik.
Sebenarnya penilaian siswa saat ini tidak hanya mengacu aspek nilai. Ada asesmen yang dilakukan untuk melihat kepribadian siswa. Itu juga bisa masuk nilai mereka.
’’Pokoke anak-anak iki jaken sinau sing puenak. Toh, nanti menuju kesuksesan itu kan banyak faktornya. Apalagi, penilaian sekarang bukan nilai kompetensi saja, asesmen juga ada,’’ katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Surabaya Yusuf Masruh menuturkan, kini yang terpenting mengganti waktu dua tahun yang hilang. Menurut dia, hanya dengan belajar seperti ini, hasilnya masih kurang maksimal. Terlebih, di sisi kehidupan sosial anak-anak.
’’Makanya, nanti sekolah-sekolah silakan ambil ekstrakurikuler apa. Setelah itu, bisa disampaikan ke siswa. Anak-anak bebas berekspresi di sana,’’ ujarnya.
Yusuf mengatakan, dalam program tersebut, dirinya ingin anak-anak memiliki budi pekerti yang baik. Dia meminta guru bisa ambil peran agar anak-anak lebih menghargai guru sebagai orang tua mereka. Budaya unggah-ungguh, menurut Yusuf, sudah luntur. Padahal, itu menjadi bekal mereka di masa depan.
’’Usia SD dan SMP ini kita manfaatkan betul untuk membentuk karakter mereka. Kalau ketemu guru ya salim. Kedekatan emosional antara siswa dan guru itu ada,’’ tandasnya.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
