JawaPos.com – Kasus yang menimpa asisten rumah tangga (ART) Elok Anggraeni tengah menjadi sorotan publik. Perempuan 47 tahun itu diduga mengalami kekerasan fisik dari majikannya yang tinggal di Jalan Tirtomoyo Nomor 54, Kecamatan Sukolilo.
Kejadian itu sebenarnya bermula pada Kamis (6/5). Saat itu pihak kecamatan dan BPB linmas mendapat laporan dari majikan Elok Anggraeni berinisial F. ’’Nah, kami awalnya menerima laporan bahwa dia (Elok Anggraeni, Red) mengalami gangguan kejiwaan,’’ ungkap Camat Sukolilo Amalia Kurniawati Minggu (9/5).
Atas dasar itu, pihaknya segera membawa korban ke UPTD Liponsos Keputih. Sesampai di sana, ternyata pihak liponsos tidak menemukan indikasi ke arah gangguan jiwa seperti yang dilaporkan F. Justru pihak Liponsos Keputih kaget setelah mendapati sejumlah luka di tubuh Anggra.
’’Kasus ini pun segera dilimpahkan ke kepolisian. Sebab, menurut penuturan korban, dia mengalami perlakuan tidak pantas dari majikannya,” ungkap Amalia.
Berdasar informasi yang mereka kumpulkan, Anggra sempat direndahkan dengan diberi makanan tahi kucing karena kurang bersih dalam membersihkan ruangan. ’’Namun, akhirnya korban menolak dan meminta maaf,” ungkap Amalia.
Selain itu, Anggra mengaku kerap mendapat pukulan di bagian mata, kepala, dada, serta punggung. Bahkan, dia pernah disetrika majikannya.
Di bagian lain, selama setahun menjadi ART, dia hanya dibayar Rp 1 juta untuk bulan pertama. Setelah itu, gajinya tidak diberikan lagi. ’’Majikannya juga bilang itu dikreditkan. Jadi, bukan dibayar. Kasihan sekali memang,” kata Amalia.
Dia menuturkan, saat melapor ke pihak kecamatan, majikannya seolah-olah mengaku bahwa Anggra mengalami gangguan kejiwaan. ’’Padahal, sebenarnya tidak,” ungkap Amalia.
Selama setahun bekerja itu pula, majikan kerap mendoktrin Aprilia Risti Mariana, anak Anggra, untuk tidak menyukai ibunya. ’’Jadi, kondisi Anggra kian nestapa,” ujar Amalia.
Kini, bocah 11 tahun itu pun sudah mendapatkan pendampingan dari unit PPA Polrestabes Surabaya. ’’Pihak kepolisian juga tengah mendalami kasus ini untuk membuktikan apakah ada indikasi penganiayaan,” katanya.
Kepala UPTD Liponsos Keputih Sugianto menerangkan, saat tiba di liponsos, Anggra langsung mendapat penanganan. Dia juga mendapat trauma healing dari tim dokter yang berjaga. ’’Kami tempatkan dia di barak E pada saat kedatangan,” katanya. Setelah itu, keesokan harinya hingga saat ini, korban dirawat di RS Bhayangkara.
Wakil Wali Kota Surabaya Armudji mengunjungi korban di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara kemarin sore (9/5). Cak Ji –sapaan akrabnya– tidak bisa berkomunikasi secara langsung. Sebab, korban sedang dirawat intensif di ruang isolasi. Cak Ji hanya bisa memantau korban di layar CCTV dari ruang kontrol.
Tampak Anggra sedang berbaring di bed. Tubuhnya terlihat ringkih. Di tangan kirinya terpasang slang infus. Sesekali dia terlihat melirik ke arah CCTV.
Cak Ji menyampaikan bahwa kedatangannya bertujuan memastikan korban mendapat pelayanan yang maksimal dari rumah sakit. ’’Yang penting sekarang dia terjamin keamanannya. Juga, kesehatannya ditangani dengan baik,’’ kata Cak Ji.
Pihaknya mengetahui bahwa perempuan itu mengalami trauma dan tekanan mental yang berat. Itu terjadi akibat perlakuan tidak manusiawi yang diterima korban dari majikannya. Sebagai asisten rumah tangga, Anggra diduga kerap mendapat perlakuan kasar dari majikannya.
Karena itu, pemerintah akan memberikan perlindungan fisik dan penguatan secara mental. Pemkot, kata Cak Ji, akan me)nyiap)kan pendampingan secara psi)ko)logis. Akibat serangkaian kekerasan yang dialaminya, ada kemungkinan yang bersangkutan mengalami trauma mendalam. ’’Ini dilakukan untuk menguatkan mental dan meyakinkan korban bahwa setelah sehat bisa berkumpul dengan keluarganya lagi,’’ imbuhnya.
Cak Ji berharap Polrestabes Surabaya bisa mengusut tuntas kasus itu. Sebab, ada indikasi penganiayaan yang dilakukan pelaku. Korban diketahui mengalami luka-luka yang cukup serius.
Diketahui, ada bekas setrika di paha dan betis korban. Sejumlah bekas luka juga tampak di punggungnya. Belum lagi, dia menerima perlakuan yang tidak manusiawi selama bekerja sebagai ART. ’’Kita mendukung kepolisian untuk mengusut secara serius dan tuntas,’’ tandasnya.
Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Oki Ahadian buka suara terkait dugaan penganiayaan itu. Dia mengaku langsung melakukan pendalaman setelah mendengar kasus tersebut. ’’Majikan yang disebut telah melakukan penganiayaan kita cari,” katanya.
Oki menuturkan bahwa pencarian itu sudah membuahkan hasil. Majikan tersebut telah diamankan dan dibawa ke mapolrestabes. Oki mengungkapkan, statusnya sementara ini masih saksi. ’’Dalam pemeriksaan. Majikannya wanita,” tuturnya.
Baca Juga: Mudik Lokal Dilarang, Pemkot Surabaya Perketat Perbatasan
Mantan Kasubdit Jatanras Polda Jatim itu mengatakan belum bisa banyak berkomentar. Sebab, pemeriksaan masih berlangsung. ’’Nanti perkembangannya pasti disampaikan,” terangnya.
Oki menambahkan, pihaknya tidak bisa menduga-duga kejadian sebenarnya. Yang pasti, lanjut dia, proses pidana dijalankan kalau memang majikan itu terbukti melakukan penganiayaan. ’’Diproses kalau memang unsur pidananya ada,” ujarnya.
Prihatin, Gubernur Lihat Kondisi Psikis Anak Anggra
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengunjungi Unit Pelayanan Teknis Pelayanan dan Perlindungan Sosial Anak Balita (UPT PPSAB). Di sana, gubernur juga berbincang dengan ARM, putri asisten rumah tangga (ART) yang disiksa majikannya di Surabaya. Secara khusus, gubernur memberikan boneka warna pink. Ukurannya sangat besar.
ARM mengatakan, usianya kini sudah 11 tahun. Pada 12 April lalu dia berulang tahun. Dia seharusnya sudah duduk kelas V SD, tapi saat ini tidak bersekolah. Karena itu, saat ditanya impiannya, dia menjawab ingin kuliah.
ARM anak yang komunikatif. Saat ditanya, dia tidak malu untuk menjawab. Dia juga bocah yang ekspresif. Saat memperoleh banyak baju baru dan mukena serta kasur untuk tidur, dia sangat antusias.
Terlebih saat mendapatkan buku bacaan, dia sangat bersemangat membaca. ’’Membacanya sudah bagus, lancar,’’ puji Khofifah kepada anak yang baru berada di UPT PPSAB pada Sabtu malam (8/5) itu.
Khofifah menyatakan diminta kepala dinas sosial untuk melakukan monitoring. Tujuannya, mengetahui secara langsung kondisi Elok Anggraeni, ART yang diduga mengalami penyiksaan atau kekerasan. Dugaan itu berdasar pada bekas luka di tangan, paha, hingga punggung Anggra. Sekarang ART yang juga ibu ARM itu sedang menjalani visum di Polda Jatim. ARM memang tinggal bersama ibunya di rumah majikan.
’’Jadi, sekarang ada di rumah sakit. Beliau punya anak yang saya minta untuk proses pengasuhan (di UPT PPSAB) sampai nanti ibunya sudah dinyatakan sehat,’’ ujar Khofifah.
Orang nomor satu di Jatim itu khawatir ketika diduga ada penyiksaan atau kekerasan terhadap sang ibu, anak tersebut mengetahuinya mulai awal sehingga timbul trauma pada dirinya. Karena itu, diperlukan perawatan dan pendampingan untuk menghilangkan trauma tersebut.
’’Si ibu juga begitu. Ibunya perlu konseling. Sekarang sedang proses sekaligus perawatan. Jika ibunya sudah baik dan sehat, akan disiapkan tempat untuk tinggal bersama dengan putrinya,’’ katanya.
Untuk sementara ARM dirawat sekaligus dilindungi di UPT PPSAB. Dengan begitu, dia bisa beraktivitas dan bersekolah lagi seperti keinginannya.
ARM mengaku betah tinggal di UPT. Temannya cukup banyak. Baru sehari di sana, sudah ada dua teman baru yang dekat dengannya. Di antaranya, Dimas dan Windy.
Sementara itu, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Surabaya Anas Karno mengatakan mendengar kabar tersebut. Namun, dari informasi yang dia dapat, kondisi yang dialami Anggra bukan depresi biasa.
Begitu tiba di Liponsos Keputih, Anas langsung meminta hasil outreach atau skrining atas nama Anggra. Dari hasil skrining tersebut, dilaporkan bahwa yang membawa Anggra ke liponsos adalah F, majikannya sendiri. Alasannya, Anggra mengalami depresi karena telanjang saat menyiram bunga di halaman rumah.
Anas tidak yakin dengan hasil outreach tersebut. Dia pun meminta bertemu langsung dengan Anggra. Wakil ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya itu berdialog terkait kondisi perempuan kelahiran 1974 itu. Dari cerita tersebut, Anas merasa prihatin. Sebab, Anggra mengaku sering disiksa juragannya. ’’Pernah disetrika pahanya. Ada bekas lukanya. Aku ndelok dewe,’’ ujarnya.
Baca Juga: Anggota Polres Gresik Aiptu Bambang, Sudah 25 Tahun Tidak Pernah Mudik
Anas mengatakan, saat ini pihaknya berkoordinasi dengan pihak yang berwenang untuk menindaklanjuti masalah tersebut. ’’Kami berharap pihak kepolisian turun tangan,’’ ucapnya.
Dia juga berkoordinasi dengan dinas pengendalian penduduk, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak (DP5A) untuk ikut menangani masalah tersebut. Sebab, anak korban yang masih berusia 11 tahun membutuhkan pendampingan. ’’Jangan sampai psikologis anak terganggu dengan apa yang dialami ibunya,’’ jelasnya.





