
BERI KABAR: Aiptu Bambang Suratno menelepon orang tuanya di Sulawesi Tenggara untuk mengabarkan tidak bisa mudik karena menjalankan tugas. (Ludry Prayoga/Jawa Pos)
Banyak aparat karena tugas dan pelayanan, tidak ada kesempatan mudik selama bertahun-tahun. Salah seorang di antaranya adalah Aiptu Bambang Suratno. Anggota Polres Gresik itu sudah 25 tahun tidak mudik ke kampung asalnya. Desa Langgea, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Tapi, tidak berarti terputus dengan orang tua dan sanak keluarga.
LUDRY PRAYOGA, Gresik
BAMBANG baru sampai Asrama Polisi (Aspol) Gresik. Di situlah, polisi berusia 56 tahun itu tinggal. Wajahnya terlihat tetap penuh semangat. Dia baru melaksanakan piket pengamanan penjagaan larangan mudik di Mapolsek Sidayu. Bambang lalu mengeluarkan handphone (HP).
’’Halo Mamak, bagaimana kabar? Ini ada sedikit rezeki THR dari komandan, aku kirim ya,’’ katanya kepada seorang perempuan di ujung telepon itu. Mamak yang dimaksud ternyata sang ibu. Bambang biasa memanggilnya Mamak Tua.
Di depan layar kamera, senyum Bambang tampak terus mengembang. Tidak lama, dia melambaikan tangan. ’’Jangan lupa jaga kondisi kesehatan, Mak. Doakan anakmu di tanah rantau ya,’’ ungkapnya.
Bambang bertugas di Gresik sejak 1996. Sejak itu, bapak tiga anak tersebut tidak pernah menikmati momen Hari Raya Idul Fitri di kampung halaman. ’’Ya banyak pertimbangannya. Untungnya, keluarga besar paham bahwa anggota polisi wajib untuk melayani masyarakat,’’ paparnya.
Larangan mudik pun tidak membuatnya gundah. Setidaknya, alumnus Bintara Polda Sulawesi Tenggara 1986 itu melakukannya sejak 25 tahun terakhir. ’’Banyak cara melepas rindu, apalagi teknologi sekarang sangat membantu untuk menyambung silaturahmi,’’ katanya.
Dia pun bercerita, dulu kondisi kampung halamannya sangat jauh dari kata modern. Akses dari pusat kota menuju desanya membutuhkan waktu tiga jam lebih. ’’Dulu untuk memberi kabar, berkirim surat. Jika beruntung, bisa dengar suara Mamak lewat sambungan telepon dari wartel (warung telepon),’’ ungkapnya.
Risiko sebagai aparat pelayan masyarakat, mudik Lebaran merupakan momen yang jarang didapat anggota. Meski demikian, Bambang bersyukur bisa menjadi bagian dari warga Gresik. Dia mengaku belajar banyak dari orang-orang Kota Santri. ’’Semangat kerjanya, keramahannya, dan guyub rukun,’’ ungkapnya.
Karena itu, dia optimistis masyarakat bisa mematuhi larangan mudik pemerintah. Terutama warga Gresik. Dengan demikian, persebaran pandemi Covid-19 dapat ditekan dan bisa segera berakhir. ’’Tentu kita semua berharap bisa segera normal dan menikmati suasana Lebaran seperti sediakala,’’ harapnya.
Baca Juga: Mudik Lokal Dilarang, Pemkot Surabaya Perketat Perbatasan
Pengabdian Bambang di Korps Bhayangkara setidaknya tinggal dua tahun lagi. Berjibun pengalaman selama di Gresik tentu tidak akan terlupakan. Dia ingin pengalaman dan pengetahuan itu menjadi modal berharga saat pensiun. ’’Saya ingin menjadi petani atau petambak di kampung, mudah-mudahan berhasil. Juga untuk merawat orang tua,’’ katanya.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026: The Pharaohs Selangkah Lagi ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Tanjung Verde vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: Misi Blue Sharks Pulangkan Green Falcons
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
Prediksi Skor Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Tak Ingin Tersandung, La Celeste Wajib Menang
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Ekuador vs Jerman di Piala Dunia 2026: Der Panzer Kejar Rekor Sempurna di Fase Grup
