
Tukirin memproduksi kue jajanan tradisional. Izzatun Najibah/JawaPos.com
JawaPos.com–Warga Desa Kedung Sumur, Kecamatan Krembung, Sidoarjo, memproduksi berbagai jajanan tradisional. Walaupun telah tergerus zaman dan inovasi produk, beberapa warga itu masih aktif melestarikan kampung jajanan.
Tergolong desa yang memiliki infrastruktur maju, bangunan-bangunan rumah dengan desain modern berdiri dan berjejer rapi. Akses internet, air, dan listrik terlah tercukupi. Terletak di sisi barat daya Kabupaten Sidoarjo, Desa Kedung Sumur memiliki potensi besar yakni produksi jajanan tradisional. Pada 2009, semasa pemerintahan Bupati Sidoarjo Win Hendrarso, kampung jajanan mulai tersemat di desa itu.
”Dalam rangka Sidoarjo Bangkit, dibentuklah kampung-kampung yang membangkitkan ekonomi di Sidoarjo. Sejak saat itu, desa ini disebut kampung jajanan. Pada masa jayanya bisa menggerakkan ekonomi lokal juga menciptakan lapangan pekerjaan,” ungkap Sekretaris Desa Kedung Sumur Miftakhul Huda.
Menurut Huda pemkab pernah memberikan bantuan beberapa program untuk UMKM atau usaha mikro kecil dan menengah.
”Waktu itu pernah dari Dinas Koperasi dan UMKM, ada beberapa program di Kedung Sumur. Sekitar 2011, pemkab memberikan promosi gratis yang dimuat di halaman koran untuk UMKM di sini selama 1 bulan. Lalu ada pelatihan membuat kue, peralatan untuk pemasaran, seperti mesin pres, dan mesin molen. Terus dihubungkan juga ke Bogasari dan akses ke beberapa toko,” tutur Huda.
Namun beberapa tahun terakhir pemerintah belum memberikan dukungan lagi. Akibatnya, semangat warga untuk mengembangkan produksi jajanan malah terus menurun.
”Mungkin dari warganya sudah kurang berminat. Padahal, potensinya masih sangat tinggi. Diharapkan ada generasi muda pembuat kue tradisional dengan mindset yang baru,” kata Huda.
Tukirin, 63, salah seorang pembuat kue di Kampung Jajanan mengaku mulai bikin kue sejak tahun 1976. Awalnya dulu ikut majikannya di Surabaya bikin kue. Setelah menguasai teknik membuat kue, dia mulai produksi sendiri aneka jenis kue.
Produksi jajanan tradisional itu dijual berkeliling. Per hari saat itu bisa mendapat omset Rp 200 ribu. Roti goreng, cakue, bakpau, pluntir, dan kue-kue basah lainnya dia produksi sendiri.
”Dulu saya jualan kompiang (jajanan tradisional masyarakat Tionghoa), tapi sekarang ndak lagi. Soalnya mesin saya untuk memanggang kue itu rusak,” ucap Tukirin.
Dia berharap agar anak-anak muda belajar membuat dan melestarikan kue-kue tradisional, ”Saya sudah tua, anak-anak saya nggak mau nerusin ini. Jadi kalau ada anak-anak muda yang mau belajar, saya senang,” tutur Tukirin.
Lain hal dengan Rodiyah, 48. Rata-rata 400 kue dia produksi per hari. Kue itu dijual kembali ke beberapa toko. Dia juga melayani pesanan.
”Saya mulai bikin kue sekitar 2006. Dulu saya bikin kue-kue basah tapi sekarang cuma perut ayam. Ya Alhamdulillah. Tapi banyak saingan juga, kalo ada pesanan saya bikin kue sesuai keinginan pemesan,” ucap Rodiyah.
Sehari dia mengaku bisa mendapat omset Rp 350 ribu. Pandemi Covid-19 serta banyaknya saingan menjadi tantangan.
”Saya ingin pemerintah membantu agar usaha ini bisa lebih maju. Anak-anak muda juga melestarikan kampung jajanan ini,” ujar Rodiyah.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=vyNwk3wy-jA

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
