Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Agustus 2020 | 01.18 WIB

Mayoritas Wali Murid di Surabaya Waswas Simulasi Belajar Tatap Muka

MASIH BERISIKO: Dua guru SMAN 5 Surabaya mempersiapkan bangku yang jumlahnya dikurangi untuk pembelajaran tatap muka. (Dipta Wahyu/Jawa Pos) - Image

MASIH BERISIKO: Dua guru SMAN 5 Surabaya mempersiapkan bangku yang jumlahnya dikurangi untuk pembelajaran tatap muka. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

JawaPos.com - Beberapa sekolah sudah mengadakan uji coba simulasi belajar tatap muka. Hal itu merupakan respons sekaligus persiapan atas rencana pembelajaran tatap muka di Jatim. Namun, hal tersebut tidak dilakukan SMAN 5 (Smala) Surabaya. Mayoritas orang tua wali murid di Smala tidak setuju dan tidak menghendaki rencana yang berkaitan dengan mendatangkan siswa ke sekolah.

Penolakan sudah datang meski baru sebatas uji coba simulasi. ’’Kami belum berani karena kondisi Surabaya masih seperti ini. Masih banyak yang terjangkit dan penularan juga belum terkendali,’’ papar Waka Bidang Humas SMAN 5 Mokhamad Imron kepada Jawa Pos, Rabu (19/8).

Imron menambahkan, sebagian besar orang tua wali murid pun khawatir atau waswas jika nanti timbul klaster baru dari kegiatan tersebut. ’’Komunikasi dengan orang tua di grup wali murid bersama wali kelas dan komite bisa disimpulkan kalau mayoritas tidak setuju. Makanya, belum kami adakan uji coba simulasi karena harus ada izin dari orang tua,’’ paparnya.

Imron mengungkapkan, kekhawatiran besar yang timbul dari wali murid bukan tanpa alasan. Salah satunya setelah ada seorang wali murid Smala yang merupakan dokter ortopedi anak meninggal karena Covid-19 beberapa waktu lalu.

’’Wali murid itu kebetulan dulu juga alumnus Smala. Karena itu, kekhawatiran orang tua semakin besar. Kita nggak bisa bohong kalau Surabaya ini masih merah dan masih sangat rentan,’’ jelasnya.

Selain itu, wali murid Smala belum bisa percaya sepenuhnya bahwa remaja usia SMA tidak akan berkerumun dan berdekatan saat bertemu dengan kawan-kawannya.


Alasan lainnya adalah orang tua beranggapan bahwa pembelajaran jarak jauh (PJJ) saat ini dirasa sudah mewakili belajar tatap muka yang sesungguhnya. Salah satunya dengan adanya standar belajar yang setara. Juga, metode belajar jarak jauh yang diterapkan.

Meski begitu, pihak sekolah sudah menyiapkan aturan sekaligus skenario untuk persiapan belajar tatap muka di sekolah. Protokol kesehatan pun sudah disusun di setiap ruangan. Mulai kelas, laboratorium, hingga toilet. Imron menambahkan, ruang-ruang kelas sudah ditata sehingga berjarak satu sama lain. Selain itu, di depan tiap kelas sudah disediakan sabun dan wastafel.

’’Sewaktu-waktu ada instruksi tatap muka biar langsung siap. Hanya yang sehat yang boleh masuk. Kalau bisa rapid test dulu, tapi itu masih rencana dan belum kami putuskan,’’ paparnya. 

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=zXEvtRwQl-U

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore