Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 Oktober 2019 | 03.33 WIB

Stroke Serang 646 Pasien Usia Produktif

SEMOGA CEPAT PULIH: Achmad Buchori menjalani perawatan di RSUD Sidoarjo. (Hariyanto Teng/Jawa Pos) - Image

SEMOGA CEPAT PULIH: Achmad Buchori menjalani perawatan di RSUD Sidoarjo. (Hariyanto Teng/Jawa Pos)

JawaPos.com – Makin banyak pasien stroke yang masih usia produktif. Kaum muda itu mengalami penyumbatan hingga pecahnya pembuluh darah ke otak. Dokter mengingatkan pentingnya waspada.

Data RSUD Sidoarjo menyebutkan, Januari hingga September 2019, 1.238 pasien dirawat akibat serangan stroke. Ada yang dirawat inap. Ada juga yang rawat jalan. Sebagian besar laki-laki. Jumlahnya 646 orang. Pasien perempuan 592 orang.

Umur penderita pun beragam. Rentang usia mulai 15 tahun sampai lebih dari 65 tahun. Namun, yang paling banyak adalah mereka yang masih usia produktif. Mulai 25 tahun sampai 49 tahun.

Salah satunya Achmad Buchori. Pria 42 tahun itu hingga kemarin masih menjalani perawatan di Ruang Teratai RSUD Sidoarjo. Dia masuk rumah sakit Senin (21/10). Dilarikan ke rumah sakit karena kaki kanannya tidak dapat digerakkan.

”Waktu itu lemas, tidak bisa berjalan,” kata Ita Yunita, istri Buchori yang menungguinya dengan setia.

Serangan stroke terjadi saat bapak dua anak itu bangun tidur. Sebelumnya, dia tidak merasakan gejala apa-apa. Bahkan, saat istirahat, Buchori merasa badannya sehat-sehat saja.

Dia mengaku memiliki riwayat sakit darah tinggi. Tapi, hipertensi yang diderita tidak terlalu dipikirkan. Warga Candi itu baru minum obat saat dirinya merasa sakit kepala. Bahkan, dia tidak pergi ke dokter atau melakukan kontrol rutin. Sebab, kondisinya dianggap baik-baik saja.

Kali terakhir pergi ke dokter sebelum dia dilarikan ke rumah sakit. Dalam pemeriksaan, tekanan darahnya memang tinggi. ”Tapi, minum obatnya tidak teratur,” lanjut Ita. Hanya mengonsumsi obat kalau merasa badan tidak enak.

Buchori tidak membantah. Dia mengakui penyakit darah tingginya tidak terpantau dengan baik. Kini dia menyesal. Berharap kondisinya bisa segera pulih seperti sediakala. Kemarin dia mencoba mengangkat kaki kanannya. Tapi, belum bisa maksimal. Harus dibantu topangan tangan. Kaki tersebut lemas tak bertenaga.

Jujuk Handayai, salah seorang perawat, menasihati Buchori agar tidak banyak bergerak dulu. Untuk sementara, dia diharuskan banyak berbaring di tempat tidur. Tidak boleh ke kamar mandi. Hanya bisa berlatih miring ke sisi kiri atau kanan. ”Belum boleh duduk dulu,” ucapnya lembut.

Wakil Direktur Pelayanan RSUD Sidoarjo dr Syamsu Rahmadi SpS mengingatkan, saat ini pasien stroke tidak melulu usia tua atau lansia. Justru mereka yang masih muda banyak. ”Masih usia produktif,” katanya. Mereka mengalami penurunan fungsi saraf. Sehingga tidak dapat berkarya dengan optimal.

Untuk menghindari sakit tersebut, perlu memperhatikan faktor pemicu. Ada dua pemicu stroke. Pertama, faktor yang tidak bisa dimodifikasi. Misalnya, ras, jenis kelamin, genetik, dan umur. Kedua, faktor yang bisa dimodifikasi. Mulai gaya hidup, pola makan, kolesterol, hingga kadar gula.

Menurut Syamsu, stroke dapat disembuhkan. Asalkan, penanganannya tepat selama golden period. Yakni, kesempatan emas seseorang yang terkena stroke. ”Delapan jam (pertama serangan),” katanya. Selama masa tersebut, pemulihan bisa dilakukan secara maksimal. Dengan tetap memperhatikan tingkat stroke.

Sebab, serangan stroke yang kedua bisa lebih parah dari serangan pertama. Karena itu, semua orang harus mewaspadainya. Jika memang ada riwayat hipertensi, harus rutin mengonsumsi obat. Agar tekanan darah terkontrol. Tidak selalu tinggi.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore