
UNJUK KARYA: Siswi SMKN 12 Surabaya Jurusan DKV Jentakay melukis mural di depan Balai Pemuda Surabaya, Jumat (19/5).
JawaPos.com – Kota Surabaya memiliki Balai Pemuda, Museum Pendidikan, hingga Museum 10 Nopember sebagai tempat unjuk karya seni bagi seniman Surabaya. Namun, jumlah itu dirasa masih kurang.
”Secara kuantitas mungkin kurang. Tapi, kualitasnya sudah bagus,” ujar Budi Bi, seniman sekaligus pendiri komunitas Garis Gathuk.
Di Balai Pemuda misalnya. Bangunan itu dilengkapi ruang galeri untuk memamerkan karya seniman. Menurut Budi, jumlahnya masih kurang.
”Masih banyak yang belum tahu basemen letaknya di mana dan ada apa di sana. Kalau ada pameran pun, banyak yang nggak tahu,” jelas Budi, Minggu (21/5).
Pemkot menghadirkan ruang pameran di dua museum, yaitu Museum Pendidikan dan Museum 10 Nopember. Beberapa waktu lalu, Budi bersama komunitasnya juga mendapat kesempatan pertama menggelar pameran di Museum Pendidikan.
Namun, banyak warga yang belum tahu adanya pameran di museum itu. ”Yang datang bisa dihitung jari. Padahal, tempatnya itu bagus banget,” ujarnya.
Kondisinya berbeda dengan Museum 10 Nopember. Jumlah pengunjung museum tersebut cukup banyak. Sebab, ada Tugu pahlawan yang menjadi ikon Surabaya.
”Di Tugu Pahwalan itu apresiasinya pasti banyak. Dan yang beli lukisan juga banyak,” terang Budi.
Melihat itu, Budi berharap informasi dan ruang pameran di Surabaya ditambah. Ruang pameran tidak terkotak-kotak sesuai dengan selera pemiliknya.
”Misalnya, yang punya sukanya style karya abstrak, ya di sana isinya seperti itu saja. Atau ada yang suka kontemporer, pun di sana diisi oleh seniman-seniman yang fokus pada karya kontemporer,” jelasnya.
Budi juga mengapresiasi dukungan pemkot. Seniman bebas menyajikan karyanya tanpa biaya. ”Kalau ada pun, biasanya ada subsidi. Jadi nggak berat,” imbuhnya. Selain itu, Pemkot Surabaya juga selalu mengedepankan seniman-seniman asal Surabaya ketimbang kota lain.
Beberapa waktu lalu, Petra Christian University (PCU) memfasilitasi sebuah pertunjukan opera klasik yang diproduksi oleh Amadeus Enterprise. Pertunjukan yang terbilang belum populer di kalangan masyarakat itu digratiskan bagi penonton.
Pelatih PCU Choir & Kepala Pusat Pengembangan Musik Gerejawi PCU Aris Sudibyo mengatakan, pihaknya punya semangat untuk mengenalkan seni pertunjukan yang bagus dan berkualitas meski itu belum populer di masyarakat.
Juli mendatang, akan ada pertunjukan Broadway musical yang kembali difasilitasi oleh gedung auditorium milik PCU. Aris menuturkan, Surabaya belum punya gedung pertunjukan yang akustiknya memenuhi standar internasional.
’’Seharusnya, pertunjukan semacam Broadway musical itu di tempat yang tidak pakai sound system. Musiknya harus live tanpa sound system atau betul-betul di ruangan yang akustik,’’ terangnya kepada Jawa Pos, Minggu (21/5).

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
